Apa Lagu CHILDREN OF BODOM Favorit Kalian?

Oleh @mudya_mustamin

.

Sebenarnya awal Desember 2020 lalu, Alexi ‘Wild Child’ Laiho baru saja menandatangani kesepakatan kontrak rekaman dengan label rekaman barunya, Napalm Records. Beberapa hari setelah ia merampungkan proses rekaman album debut bersama Bodom After Midnight, band barunya setelah Children of Bodom bubar pada 2019 lalu.

Tapi nasib berkata lain. Minggu lalu, vokalis dan gitaris asal Finlandia ini dikabarkan telah menghembuskan nafas terakhirnya. Alexi meninggal di usia 41 tahun akibat kondisi kesehatan yang memburuk.

Sejak terbentuk pada 1993 silam, Alexi Laiho dan Children Of Bodom telah menghasilkan 10 album studio, dua album konser dan kompilasi serta satu album berisi lagu-lagu daur ulang. Ia berhasil menancapkan karakter metal yang sangat unik, melebur elemen death metal, power metal, symphonic metal, thrash bahkan neo-classical menjadi satu kesatuan. 

Oh ya, Alexi Laiho dan Children of Bodom sendiri pernah menggelar konser di Jakarta, tepatnya di Bulungan Outdoor pada 15 November 2011 silam. Sekadar untuk bernostalgia, berikut 10 pilihan lagu Children of Bodom terfavorit kami. Ada favorit kalian juga? Yuk, kita gas lagu-lagunya!

.

Needled 24/7 (Hate Crew Deathroll – 2003)

Alexi Laiho sendiri mengakui, ini karya lagunya yang benar-benar heavy dan bertempo cepat. Tapi di sisi lain, juga melodik dan mudah lekat di pendengaran. Lagu ini pula yang membuat nama Children of Bodom mulai mendapat perhatian para metalhead secara global. 

Everytime I Die (Follow the Reaper – 2000)

Salah satu karya dari album “Follow the Reaper” yang ditopang riff-riff berat namun catchy, yang dipadu alunan kibord bernuansa ‘pop’ yang justru membuat lagu ini lebih terasa gregetnya.

Deadnight Warrior (Something Wild – 1997)

Lagu ini berada di trek pertama, dari album debut Children of Bodom. Menurut Alexi, ini salah satu karya favoritnya, yang direkam di saat ia dan bandnya baru memulai karir, dimana mereka harus merogoh kocek sendiri untuk membiayai rekamannya. Album ini juga disebut-sebut sebagai karya Children of Bodom yang paling teknikal.

Are You Dead Yet? (“Are You Dead Yet?” – 2005)

Lagu yang juga menjadi judul album ini seperti mewakili jiwa keseluruhan album. Memadukan harmoni gitar dan kibord yang lebih dominan dibanding album-album sebelumnya. Tapi ciri khas Children of Bodom yang selalu mengedepankan riff-riff berat yang solid dan thrashy namun mudah dicerna pendengaran tetap dikedepankan.

Trashed, Lost & Strungout (“Are You Dead Yet?” – 2005)

Sama halnya “Are You Dead yet?”, komposisi lagu ini juga menonjolkan eksekusi gitar dan kibord yang saling menyambar dan teknikal, namun dengan pendekatan yang sedikit lebih brutal.

Living Dead Beat (“Are You Dead Yet?” – 2005)

Lagi, salah satu contoh kuat yang menghadirkan paduan harmoni gitar dan kibord yang sangat dominan namun berhasil menguatkan karakter lagunya. Terlepas dari banyaknya penilaian miring seputar konsep ‘ngepop’ Children of Bodom di album “Are You Dead Yet?”, tak bisa dipungkiri album ini pula yang semakin melebarkan jangkauan penggemarnya. 

Hate Crew Deathroll (Hate Crew Deathroll – 2003)

Menurut Alexi Laiho, lagu ini kurang lebih merangkum esensi dari Children of Bodom keseluruhan; amarahnya, sikap serta dari sisi musikalitas. Salah satu komposisi mereka yang mewakili kreativitas terbaik Children of Bodom  setelah album “Follow the Reaper”.

Angels Don’t Kill (Hate Crew Deathroll – 2003)

Bisa dibilang sedikit banyak memiliki kemiripan konsep dengan “Everytime I Die”, dimana komposisinya mengalun lebih pelan. Lebih mengundang sing along ketimbang headbang. Tapi tetap terasa heavy dan gagah.

Downfall (Hatebreeder – 1999)

Alexi Laiho juga menempatkan lagu ini sebagai salah satu karya favoritnya. Menerapkan alur melodi yang meliuk melodius, namun selalu dibayangi riff gitar tebal dengan emosi yang stabil.

Hate Me! (Follow the Reaper – 2000)

Di Finlandia, saat “Hate Me” dirilis, berhasil mencapai angka penjualan platinum. Berbeda dibanding lagu-lagu mereka lainnya, “Hate Me” dieksekusi lebih sederhana. Seperti berada di persimpangan metal dan rock and roll.

Kredit foto: @warprocks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *