COSMIC GENOCIDE Tebar Kutukan Kematian dalam Konteks Deathcore

Kutukan kematian. Kehidupan di alam semesta, yang selalu dihantui malaikat berantai yang menarik dan mengejar nyawa hingga terperosok ke dalam lembah penyiksaan. Sekeras apapun seseorang berteriak, memohon pada malaikat agar terlepas dari siksaan dan panasnya api neraka tetap takkan berhasil keluar dari kutukan itu. Hingga berakhirnya reinkarnasi kehidupan. 

Imajinasi fiksi kegelapan di atas merupakan roh utama “Deathcurse”, single debut dari unit ‘pemusnah semesta’ asal Denpasar, Bali bernama Cosmic Genocide. Video klip dari lagu yang telah dirilis resmi sejak 7 Januari 2021 lalu tersebut sudah bisa disaksikan di YouTube, seperti yang bisa disaksikan di bagian akhir artikel ini.

Konsep “Deathcurse”, menurut tuturan pihak band kepada MUSIKERAS, adalah mendeskripsikan sebuah cerita fiksi dimana seseorang terikat oleh kutukan kematian, dan mencoba untuk lari dari kutukan tersebut. “Seperti halnya seseorang yang terikat oleh takdir, bagaimana pun kerasnya berusaha jika takdir berkehendak lain, kita tidak akan bisa menghindari hal itu.”

Cosmic Genocide yang diperkuat formasi Gusade Satrya (vokal), Wahyu Artawan (gitar), Dwi Angga (bass) dan M. Afwan Maulana (dram) membutuhkan waktu sekitar dua bulanan saat menjalani proses penggarapan “Deathcurse”. Salah satu penghalang percepatan proses produksinya adalah karena terhalang kesibukan personel yang kerja dari rumah karena pandemi. Untuk menekan pengeluaran dana, disepakati menggarap “Deathcurse” dengan memanfaatkan studio rekaman rumahan, Uneed Records milik Wahyu, gitaris Cosmic Genocide.

“Sebenarnya materi ini sudah ada dari tahun lalu. Single ini merupakan gagasan dari bassis kami, Dwi Angga, tapi baru sempat di rekam tahun ini dan dirilis bersamaan dengan video musik yang digarap dalam waktu yang cukup singkat. Proses yang dilalui mulai dari pembentukan karakter musik dan pengambilan sedikit unsur satanik, yang digabungkan dengan jenis musik progresif deathcore sehingga menciptakan keunikan musik tersendiri bagi kami.”

Olahan deathcore yang dianut band bentukan 6 April 2020 ini sendiri banyak menyerap pengaruh dari band-band cadas yang sepaham seperti Chelsea Grin, Thy Art Is Murder, Carnifex dan beberapa band lainya.

Latar belakang kelahiran Cosmic Genocide terjadi di tengah kekacauan akibat pandemi Covid-19, saat para calon personelnya bertemu dan berkumpul di sebuah studio di Denpasar. Mereka lantas memilih nama ‘cosmic genocide’ yang secara keseluruhan bermakna ‘pemusnah alam semesta yang hampa’.

Diartikan seperti itu karena mereka tidak terima dengan keadaan seperti sekarang ini, di masa sulit penuh kehancuran akibat covid-19, ketidakpastian, yang menggantung semua makhluk yang ada di alam ini. Kepercayaan mulai memudar, setiap orang tidak dapat dipercaya, dan kekacauan terjadi di mana-mana. “Karena itu kami nyalakan sebuah sinar pemusnah ke dalam kekacauan alam semesta.” 

Saat ini, sambil mempromosikan “Deathcurse”, para personel Cosmic Genocide berencana mulai mengarahkan fokus ke penggarapan album mini (EP), mengingat sudah ada tiga materi lagu yang siap untuk direkam. Dan sejauh ini perkembangannya sudah mencapai sekitar 40%. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *