Servitude of Anathema kembali merilis “Abyssal”, komposisi tunggal yang sebelumnya pernah diperdengarkan pada 20 November 2024. Lalu pada 14 Mei 2026 lalu, lagu itu kembali diperdengarkan dalam kemasan alternate version.
Versi ini merupakan satu dari delapan potongan cerita fiksi imajiner (Oktologi), yang tergabung bersama materi lainnya di album penuh debut unit blackened deathgrinder dari Tasikmalaya, Jawa Barat ini, yang bertajuk “Poisonous Path”.
Momen peluncuran versi baru “Abyssal” bertepatan dengan hari Kenaikan Almasih ini, dimana dalam liriknya menggambarkan antitesis yang berseberangan.
Memuat ilustrasi tentang perjalanan mengerikan ke dasar kegelapan, sebuah jurang maut dimana dosa-dosa manusia dibayar dengan penderitaan abadi hingga membusuknya jiwa.
Melalui diksi yang brutal semisal ‘pool of flesh’ atau ‘nest of insanity’, lagu ini mengeksploitasi tema kehancuran total dari akibat perilaku manusia sendiri, tipu daya iblis yang nyata, serta runtuhnya harapan di tengah kekacauan neraka yang tak berujung.
Dengan narasi mencekam tentang pembalasan dendam dan kehancuran purgatori, “Abyssal” menjadi sebuah representasi sonik mengenai sisi tergelap eksistensi manusia yang terjebak dalam kutukan perilakunya sendiri, selamanya.

Dinamis, Fluktuatif
Proses kreatif yang dijalani vokalis dan gitaris Muhammad Restu Putra Pratama, dramer Dickry Wahyu Mohammad Djani, bassis Mohammad Lubby Abilais dan Anjar Wicaksono serta gitaris Dylan Zahran cukup seru dan rumit.
Terutama saat mereka ingin memodifikasi beberapa bagian di dalam struktur serta style musiknya. Misalnya, adanya penambahan string orkestra, perubahan gaya vokal serta penambahan beberapa isian harmonis di dalam permainan gitar.
Keseruan itu terkait pula dengan perbedaan pola bermain para personelnya. Pihak Servitude of Anathema menuturkan kepada MUSIKERAS, bahwa banyak gaya (style) yang dilebur di karya mereka ini.
“Style dramer kami adalah technical death metal, gitar rhythm kami memainkan gitar dengan gaya grindcore, gitar lead seperti Chuck Schuldiner dari (band) Death. Kami (juga) memiliki dua pemain bass sekaligus, Lubby cenderung versatile dan Anjar cenderung bermain seperti punk.”
Sementara untuk referensi musikal, juga sangat dinamis dan fluktuatif. Antara lain menyerap inspirasi dari band-band asal AS macam Full of Hell, Portrayal of Guilt, Immolation, Imperial Triumphant, Botch, Death serta Necrophagist (Jerman) dan Black Midi (Inggris).
Makanya band bentukan 2024 lalu ini mencoba bereksperimen di “Abyssal” serta seluruh materi yang bakal menyesaki album “Poisonous Path”.
“Kami mencoba bereksperimen dengan menyampuradukkan materi classic horror sound, nerdy jazz, movie scoring, oldschool death metal, post black metal, thrash, hardcore, grindcore bahkan folk eksperimental ke dalam garapan (musik kami).”
Meski dengan keluaran musik yang abrasif, serta rasa blackened yang kuat, namun mereka berusaha untuk tetap menunjukkan aspek teknis yang seimbang. Bahkan sesederhana mungkin namun tetap mengutamakan dinamika emosi sesuai pesan lirik di dalam musik yang terkemas.
“Tidak ada kendala teknis, hanya saja brainstorming yang kami alami cukup panjang untuk mendapatkan style tersendiri dalam musik kami.”
Sejauh ini, Servitude of Anathema menegaskan bahwa materi album “Poisonous Path” sebenarnya sudah selesai dan bakal diluncurkan tahun ini juga.
Sambil menanti kumpulan amunisi tersebut, dengarkan “Abyssal” di berbagai gerai digital serta tonton video musiknya di tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)