Morgia mencoba berdamai dengan kondisi internal, dimana perubahan formasi kembali mewarnai. Salah satu faktor yang membuat proses kreatif dalam berkarya tersendat.
Tahun ini, unit eksperimental cadas ini memutuskan berjalan dengan tiga personel saja. Mereka adalah vokalis (scream)/synth Wandi Arian Budiman, gitaris Aditya Budhi Suteja (Ditch) dan kibordis/vokalis (clean) Reynold Silalahi (Я). Tanpa dramer dan bassis.
Formasi inilah yang akhirnya berhasil merampungkan karya rilisan tunggal terbaru Morgia yang bertajuk “Diverted Into Advanced Homogenization”. Lagu ini sekaligus menandai fase baru dalam perjalanan musikal mereka.
“Saat itu, kami memang sedang mengalami banyak ketidaksesuaian dengan beberapa personel lain yang tidak memiliki idealisme yang sama,” ucap pihak Morgia kepada MUSIKERAS mengungkap permasalahan sebelumnya (baca artikel sebelumnya di tautan ini).
Usai perilisan album debut, “Implanted In Morgitronus” (1 Juni 2020), beberapa personel terhadang kendala agenda penting lainnya yang akhirnya menjegal komitmen di tubuh Morgia.
“Pada akhirnya, kami mencoba untuk bertiga, tanpa dramer dan bassis, sehingga proses pembuatan karya dilakukan dengan membutuhkan beberapa penyesuaian dengan kondisi yang ada.”
Mekanis, Imersif
“Diverted Into Advanced Homogenization” sendiri mengangkat tema tentang keseragaman dan tekanan sistem, dimana individualitas perlahan memudar dan digantikan oleh proses transformasi yang tidak terhindarkan.
Lagu tersebut menjadi langkah awal menuju proyek berikutnya, sekaligus memperkenalkan arah musikal Morgia yang lebih matang dan eksploratif.
Dibandingkan karya sebelumnya yang lebih mengarah ke experimental metal dengan pengaruh hardcore punk dan symphonic, kini Morgia bergerak ke sound yang lebih gelap, mekanis dan imersif.
Elemen metal tetap menjadi fondasi utama, namun diperkaya dengan pendekatan eksperimental serta sentuhan atmosfer industrial yang lebih kuat.
“Menurut saya single ini fokus pada atmosfer, tekstur serta eksperimen sonik yang memperkuat identitas musikalitas Morgia sekarang,” seru Wandi menegaskan.
“Kini kami mencoba lebih electronic dan lebih mendalam. Termasuk adanya suara-suara gemuruh industrial yang tidak harus horor, tapi lebih ke futuristik,” ujar Aditya menimpali.
Secara musikal, “Diverted Into Advanced Homogenization” juga menghadirkan riff yang agresif dan disonan, dipadukan dengan lapisan tekstur industrial serta nuansa sinematik yang memberi kedalaman pada keseluruhan komposisinya.
Perpindahan antara bagian yang intens dan atmosferik terasa lebih dinamis, menciptakan pengalaman mendengar yang lebih menyatu.
Tapi Reynold juga menambahkan, bahwa Morgia yang sekarang tetap menerapkan esensi musik yang ada dari album pertama ke dalam lagu barunya.
Dengan formasi baru serta lirik yang masih disimbolisasikan dengan dengan terminologi ilmu pengetahuan (science), dimana secara intensitas ada perbedaan karya dari album sebelumnya.
“Terutama dalam penggunaan soundscape yang lebih eksploratif serta penyederhanaan riff gitar serta eksploitasi progresi kord yang jauh lebih sederhana ketimbang album pertama,” tandasnya.
Melalui rilisan ini, Morgia semakin menegaskan identitasnya sebagai proyek yang tidak hanya mengandalkan kekuatan sound, tetapi juga konsisten dalam membangun konsep dan atmosfer.

Ghost Opera
O ya, untuk mendapatkan racikan yang diinginkan di komposisi serta aransemen “Diverted Into Advanced Homogenization”, cukup banyak referensi yang menjadi sumber inspirasi Morgia dalam membangun karakter industrial yang lebih gelap dan eksperimental.
Wandi misalnya. Saat proses pembuatan lagu tersebut, ia terinspirasi oleh band-band seperti Nine Inch Nails, Godflesh, Ministry, Fear Factory, Skinny Puppy hingga pejuang lokal seperti Getah.
Sementara Aditya, banyak menyerap ide-ide musikal dari album “Streetcleaner” (1989) dan EP “self-titled” (1988) milik Godflesh, lalu album “self-titled” (2004) dan “Conqueror” (2007) dari Jesu, serta album karya Isis seperti “Panopticon” (2004) dan “In The Absence Of Truth” (2006).
Reynold sendiri fokus pada eksplorasi penggunaan soundscape, yang diserap dari musisi seperti John Zorn di album “Cobra” (1987) dan “Hemophiliac” (2002), album “Tan Dun: Ghost Opera” (dimainkan oleh Kronos Quartet dan Wu Man), “The Planets” oleh Gustav Holst (1918) serta musik dari album “OST Prometheus” (2012).
Sambil mempromosikan perilisan “Diverted Into Advanced Homogenization”, Morgia juga telah menjalani proses menabung lagu satu per satu melalui rilisan digital. Sementara untuk album kedua, juga diharapkan bisa rilis akhir tahun ini juga. (@mudya_mustamin/MK01)