Satu lagi kumpulan musisi mencoba memodifikasi metalcore agar terdengar lebih fresh sekaligus menjadi ciri khas. Blastone yang terbentuk pada 2017 lalu di Jakarta Timur ini mencoba memadukan permainan instrumentasi hasil serapan pengaruh alternative dan progressive metal dengan alunan vokal yang cenderung lembut. Harapannya, audiens dari kalangan non-metalhead pun bisa menikmatinya.
Single debutnya, “Intolerance” yang telah diluncurkan sejak pertengahan Januari 2021 lalu menjadi ‘kelinci percobaan’ konsep tadi. Sekaligus, sebagai nomor pemanasan menuju penggodokan materi album mini (EP) pertama mereka nanti.
“Intolerance” sendiri direkam Faren Herdianto (vokal), Baramasetia (gitar), Andy Yudha (gitar), Faris Dwi S. (bass), Alesandro Samuel (kibord) dan Achmad Samy (dram) selama dua shift di studio musik Starlight, Jakarta. Lagu tersebut sudah mulai ditulis sejak Januari tahun lalu, namun proses perampungannya menjadi cukup lama lantaran setiap personel selalu berusaha untuk mengubah dan merevisi lagu tersebut. Proses perekaman baru rampung pada Desember 2020.
Kembali ke konsep musik, para personel Blastone tumbuh dengan mendengarkan karya-karya musik dari band dunia macam Bring Me the Horizon, Asking Alexandria, Falling in Reverse dan bahkan unit progressive metal senior Dream Theater. Pengaruh-pengaruh dari merekalah yang melatar-belakangi. Tapi sekali lagi mereka menegaskan, walau terdengar keras karena mengusung genre metalcore, namun ada ciri lain yang menjadi keistimewaan konsep mereka.
“Namun karena pembawaan mood yang sedih dan lembut membuat genre metalcore ini tidak mengganggu kuping yang anti dengan genre metal. Dan materi yang kami bawakan cenderung mengangkat masalah-masalah emosional seperti depresi dan renungan kelam masa lalu, hubungan antara manusia dengan Tuhan, serta permasalahan sosial yang menjadi pokok masalah besar dunia saat ini,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS.
Seperti lirik “Intolerance”, Blastone mengurai buruknya toleransi di masyarakat terutama antar ras dan umat beragama yang tak ayal menyebabkan kesedihan mendalam terhadap saudara-saudara kita yang mengalaminya. Harapannya, bagi siapa pun yang mendengarkan lagu ini dapat menjadi pengingat dan pendorong untuk menyerukan kewajiban bertoleransi antar sesama.
Sejauh ini, penggarapan EP sudah merampungkan empat dari total lima lagu yang direncanakan. Target rilis dibidik bisa terealisasi pada pertengahan 2021 mendatang. Tapi untuk sementara, silakan geber single “Intolerance” yang sudah tersedia di beberapa platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer dan Youtube. (aug/MK02)
.