“Saya pikir, proses kreatif Glora Nexus terilhami dari pandemi yang menyebalkan. Setidaknya saya mampu menulis lirik dengan mengandalkan intuisi, refleksifitas dan cenderung muram.”
Glora Nexus adalah sebuah proyek alter ego yang kelam dari Adjie Setiawan a.k.a. Svarte, yang terbentuk di Jakarta pada 2019 lalu, di bawah radar dan jauh dari hiruk pikuk skena metal Indonesia. Mengusung gaya musik black metal dengan pendekatan perspektif yang beragam, kini Glora Nexus tengah memanaskan “A Grand Monument To Mortality”, sebuah album mini (EP) yang rencananya akan disiarkan mulai Juni 2021 mendatang.
Karya rekaman terbaru tersebut bakal dirilis via Bhumidhuka Productions (Malaysia) serta Harsh Production (Indonesia) dalam format fisik (CD), kaset serta digital. Jadwal pra-pesan akan dimulai pada 30 April 2021. Sebelumnya, Glora Nexus sudah pernah merilis single debut bertajuk “Spiritual Havoc” pada 2019 secara digital, lalu disusul dalam format fisik Harsh Productions (2020) dan termuat pula di album kompilasi “Spirit Of Possession: Eternal Blessing” (2019/Deathwish Records) dan “Indonesian Black Metal” (2020/Riyal Mayat).
Di “A Grand Monument To Mortality”, Svarte tidak bekerja sendiri. Ia merekam vokalnya sendiri di Middle Records, lalu mendapat bantuan vokal dari Ragnar Sverrisson (Helfro) di lagu “Verboten Vibes”. Masih di komposisi yang sama, juga ada kontribusi permainan Tarawangsa dari Teguh Permana (Tarawangsawelas) yang direkam di Greylephant Studio. Dua gitaris, yakni Lexy Alexander (Blodwen) dan Ardian Nuril Anwar (Devoured) masing-masing juga menumpahkan keterampilan jemarinya di lagu “Death Omnipotent, Death Omnipresent” serta “Hear The Call”. Keseluruhan pemolesan tata suara mixing dan mastering dipercayakan kepada Hamzah Sastra di Greylephant Studio.
Konsep musik Glora Nexus sendiri merupakan perspektif tanpa ekspresi, meniadakan nilai kehidupan, dan sebuah jalan tragis dari rasa putus asa untuk memandang kehidupan dunia. Sebuah ekstremitas yang dianggap sangat dalam sebagai manifestasi dari kekacauan dunia saat ini, dimana umat manusia telah kehilangan setiap hubungan dengan asal-usulnya dan berperilaku sebagai spesies yang sombong.
“Saya tidak menjelaskan siapa saya. Lirik yang saya buat bersifat katarsis bagi semua manusia, untuk menggambarkan konflik batin dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Glora Nexus hadir untuk menyampaikan pesan melalui ide-ide kelam dengan embusan nihilisme yang kuat. Musik kami adalah perang melawan apa yang diketahui semua orang,” urai Svarte berfilosofi.
.
.
Lebih jauh tentang “A Grand Monument To Mortality”, berikut uraian Svarte yang disampaikan kepada MUSIKERAS:
Ceritakan proses kreatif saat menggarap “A Grand Monument To Mortality”!
Proses kreatif dari pengerjaan “A Grand Monument To Mortality” lebih mirip menjadi sebagai simbol bahwa hidup adalah distraksi. Siapa yang menyangka setelah menyelesaikan lagu pertama berjudul “Verboten Vibes” di akhir Desember 2019 lalu, beberapa bulan kemudian dunia dilanda pandemi Covid-19. Selama tahun 2020, saya banyak berjibaku dengan tuntutan pekerjaan, keluarga dan mencuri waktu untuk menggarap materi yang lain. Tidak butuh waktu lama untuk menghubungi Ragnar Sverrisson untuk berbagi suara vokal, Teguh Permana turut berbagi gesekan tarawangsa ke dalam lagu yang sama dengan Ragnar, menyusul kemudian mengajak Lexy Alexander untuk mengisi solo gitar serta riffing dari Ardian Woodman (Devoured) yang tak kalah ciamik. Pandemi sialan ini berhasil membuat saya butuh waktu sekitar satu tahun untuk mengikat mereka dan menjadi benar-benar sangat bahagia dengan mereka. Perlu saya garisbawahi, berkat pandemi musik Glora Nexus bisa menjadi tujuan tersendiri.
Jika dibandingkan dengan “Spiritual Havoc”, apa saja perubahan yang membalut komposisi-komposisi di album “A Grand Monument To Mortality”?
Saya tidak akan menjelaskan terlalu teknis perihal komposisi antara lagu “Spiritual Havoc” dengan semua lagu di EP “A Grand Monument To Mortality”. Saya hanya membiarkan seluruh materi “A Grand Monument To Mortality” mampu menciptakan alam semesta untuk diri sendiri tanpa harus menjadi bayang-bayang dari band ataupun album yang sudah menginspirasi. Sudah tentu jika perubahan hanya bicara soal waktu dan faktor lainnya tanpa mengesampingkan konsistensi Glora Nexus di masa depan. Mungkin perubahan yang sangat konstan dan mungkin terdengar sangat umum, tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Dalam satu waktu hampir bersamaan, saya mengerjakan beberapa pekerjaan dan aktifitas lainnya kemudian menciptakan musik sekaligus membiarkan pikiran saya mengerjakan ide-ide yang muncul.
Mengapa “Spiritual Havoc” tidak diikutkan di “A Grand Monument To Mortality”? Apa alasannya?
Pada akhirnya saya menyadari jika kreativitas itu subyektif, samar, dan sama sekali sulit untuk diartikulasikan. Meskipun kreativitas bersifat sangat pribadi, saya menganggap “Spiritual Havoc” terdengar lebih ekspresif. Itu alasan logis untuk mengatakan lagu itu sengaja tidak saya masukkan. Landasan menggarap materi “A Grand Monument To Mortality” mungkin terdengar lebih visioner dengan mengandalkan musik yang tidak terlalu bergairah, saya berusaha meniadakan bentuk ekspresif yang menjadikan struktur lagu menjadi indah untuk didengar. Suka atau tidak suka, materi EP tersebut telah menghadirkan dimensi keterasingan dan menciptakan ruang bagi orang untuk berpikir sendiri, terlibat dalam proses imajinatif mereka sendiri, dan memperluas kesadaran perseptual dan emosional mereka.
Dari segi konsep musikal, apakah ada referensi-referensi baru yang diterapkan di “A Grand Monument To Mortality”?
Tidak ada hal baru di dunia ini, semua hanya mengulang dengan cara yang berbeda. Tolak ukurnya adalah berhasil atau tidak dari hasil yang dicapai. Saya tidak sedang berambisi untuk mencoba hal baru, penggunaan alat tradisional tarawangsa hanya sebatas simbol bahwa Glora Nexus bagian dari identitas Black Metal Nusantara. Perkara berhasil atau gagalnya penggunaan tarawangsa pada lagu “Verboten Vibes” itu urusan pendengar dan penulis liriknya telah meniadakan diri. (mdy/MK01)