HOLYKILLERS Rayakan Kejayaan Metalcore 2000an di “Squalor”

Pergulatan sengit dengan berbagai dinamika dan cerita di baliknya, yang dijalani Holykillers selama tiga tahun, akhirnya berujung kepuasan. Album debut mereka yang bertajuk “Squalor” kini telah diletupkan secara resmi pada 23 April 2021 lalu. “Squalor” menjadi sebuah momentum yang sangat berarti bagi band metalcore asal Tangerang ini.

“Ini salah satu goals kami dalam berkomitmen dan berkarir di musik. Setelah semua proses yang liar, album ini wajib kalian dengar,” seru dramer Muhamad “Eby” Febriyanto meyakinkan, mewakili rekan-rekannya di Holykillers.

Lewat “Squalor” yang berarti ‘kemelaratan’, merupakan metafora makna yang ingin diceritakan oleh Eby, Zethria Okka (gitar), Mochamad Reza Adhansyah (vokal) dan Stefanus Dicky (bass) kepada para pendengarnya. Berbagai kisah kelam yang pernah terjadi di masa lalu, maupun masa sulit yang dihadapi dunia saat ini menimbulkan penderitaan serta rasa muak, amarah dan hasrat untuk memberontak, yang dilampiaskan lewat 10 komposisi berbahaya di album ini.

Menemani peluncuran “Squalor”, Holykillers juga meluncurkan sebuah video musik “Senyap”, salah satu lagu dari album tersebut. Sebuah karya rekaman yang mengulas tentang tragedi berdarah yang terjadi di Indonesia sekitar tahun 1965 silam, dimana kepentingan penguasa dan konflik politik menjadi penyebab terjadinya berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia.

.

.

“Lagu ‘Senyap’ itu tentang konflik yang menjadi penyebab terjadinya berbagai kasus pelanggaran HAM. Nah, berkaitan dengan ‘Squalor’ yang kami anggap sebagai kemelaratan demokrasi, kemelaratan informasi, yang bahkan sampai sekarang kita tak pernah tahu kebenarannya,” ujar Okka beralasan, menjawab pertanyaan MUSIKERAS.

Di sisi lain, “Squalor” yang direkam di Soundpole Studio dan FS Music Studio ini juga dipersembahkan Holykillers untuk para metalhead yang merindukan kejayaan metalcore era awal 2000-an. Tapi kali ini, mereka mengemasnya dengan pendekatan sound yang lebih modern serta karakter aransemen yang enerjik. “Jadi udah pasti akan memanjakan telinga dan membawa para penikmat musik berdistorsi untuk bernostalgia.”

Lebih jauh, Okka juga menyebut “Squalor” telah memperlihatkan pencapaian luar biasa Holykillers dari segi kematangan bermusik. Langkah mereka jauh lebih berkembang secara keseluruhan, mengingat selama ini mereka mengerjakan sendiri segala prosesnya. Tapi khsus di “Squalor” ini, mereka melibatkan Wisnu Ikhsantama Wicaksana, produser yang pernah mengawal rekaman band .feast, untuk mengarahkan proses produksi rekaman “Squalor”. 

“Berkat arahan produser, secara musikalitas kami jadi lebih terbuka terhadap sudut pandang di tiap lagu, supaya pesan lagu yang kami tulis dan rasakan bisa sampai ke pendengar. Di album itu juga, kami lebih eksploratif dari segi referensi dan instrumentasi. Kami bahkan berani menambahkan synthesizer, scoring dan sound effects untuk memenuhi kebutuhan lagu.”

“Squalor” saat ini sudah bisa dinikmati melalui seluruh platform musik digital yang tersedia, seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Google Play, Deezer, Bandcamp dan Soundcloud. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *