Setelah Satu Dekade, EXTREME DECAY Menggerinda Lagi

Komposisi grindcore kebanyakan dibangun dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dalam waktu sesempit itu, bagaimana kiat merekonstruksi kebisingan yang sesuai dengan standar yang diinginkan oleh band pelantunnya?

Unit cadas senior asal Malang ini punya jawabannya. Extreme Decay malah menganggap kondisi itu sebagai sebuah keuntungan. Lagu bertempo pendek itu baik karena jika yang dengar menyukainya, mereka selalu bisa menekan tombol replay lagi dan lagi. Dan kalau tidak suka, lagu itu tidak akan banyak membuang waktu pendengarnya.

“Di sisi lain, kami juga ingin menulis dan memainkan sesuatu yang segar dan tidak membosankan, jadi tidak terlalu banyak pengulangan part. Tapi entahlah, mungkin kami memang sekumpulan orang dengan defisit atensi akut yang tidak bisa konsen memainkan lagu-lagu kelewat panjang… hehehe,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, mencoba menganalisa. 

Formula grindcore itu, memang kembali digaungkan Extreme Decay yang kini diperkuat formasi Eko Setiyo Priyono (dram), Ahmad Fahrulli (gitar/vokal), Mochamad Ravi (gitar/vokal), Anizar Yasmin (bass/vokal) dan Afrl (vokal) lewat sebuah single panas bertajuk “Kolaps”. Lagu ini merupakan tembakan peringatan menuju perilisan album mini (EP) yang bakal beramunisikan sembilan lagu berhulu ledak tinggi.

.

.

Karya album yang telah mereka rekam pada 12-13 Juni 2021 lalu di Natural Studio, Surabaya merupakan proses kreatif terkini Extreme Decay, setelah hampir 12 tahun berselang sejak mereka melepas album “Holocaust Resistance” (2010) via Armstretch Records. Setelah mengalami berbagai hal, mereka merasa inilah saatnya untuk kembali berbuat sesuatu. Walau terpaut jarak yang cukup lama, namun mereka merasa sama sekali tak ada kendala dalam mengatur akselerasi agar chemistry berkarya bisa kembali terjalin kuat.

“(Karena) Sebenarnya Extreme Decay tidak pernah vakum. Kami masih cukup rutin kumpul-kumpul bersama dalam satu band, studio rehearsal, menyusun materi baru…. Bahkan tahun 2018 kemarin, kami menjalani tur mini di Bintan dan Singapura. Hanya saja, dalam dua tahun terakhir ini kami merasa sudah waktunya serius menyusun dan memproduksi sebuah EP atau pun rencana untuk album baru secara penuh. Yaaa, saat ini kami merasa chemistry sudah cukup kuat dan mendukung,” seru mereka lagi, meyakinkan.

Dari segi musikal, para personel band bentukan Januari 1998 ini sedikit banyak mengalami sedikit pergeseran dalam hal konsep, jika dibandingkan dengan karya album sebelumnya, “Holocaust Resistance”. Bagaimana pun, secara dinamika pergantian personel sedikit berpengaruh, walau konsep dasarnya tetap sama.

Contohnya seperti yang terlampiaskan di single “Kolaps”. Sebuah lagu berdurasi singkat nan cepat yang tetap mempertahankan pacuan irama grindcore serta menyelipkan pengaruh kuat dari nada-nada crust, hardcore dan power violence.

“Konsep materi yang kami rencanakan untuk album baru jauh lebih banyak jumlahnya dibanding ‘Holocaust Resistance’, bisa jadi dua kali lebih banyak, hehehe. Kalau secara referensi sih, tiap personel masing-masing seleranya beragam. Grindcore hari ini sudah berkembang jauh dari era 2000an, semakin unik dan tanpa batas.”

Sejak terbentuk, Extreme Decay antara lain telah memuntahkan beberapa karya rekaman album seperti “Progressive Destruction” (2000), “Sampah Dunia Ketiga” (2002) dan “Holocaust Resistance” serta sebuah kompilasi berjudul “Grinding Assault” (2015), rilisan Straineye Productions & Pure Minds Rrecords, Malaysia. Menurut rencana, setelah perilisan EP edisi terbatas dalam rangka memeriahkan perayaan Record Store Day pada 17 Juli 2021 mendatang, Extreme Decay bakal kembali masuk studio dan merekam materi anyar untuk album penuh yang ditargetkan rilis pada awal 2022.

So, jangan lengah, pantau terus pergerakan Extreme Decay selanjutnya. Ini musik grindcore, terlambat sedikit saja kalian tidak kebagian apa-apa! (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.