TANAH AIR PROJECT Kobarkan Kisah Epik Masa Lampau di Single “Negeri Pemenang”

Bermula karena terinspirasi, lalu mencoba memformulasikan cerita kehebatan perlawanan rakyat Kepulauan Banda terhadap dominasi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Kala itu, tepatnya pada 1609 silam, perusahaan persekutuan dagang asal Belanda tersebut ingin melakukan monopoli terhadap perdagangan rempah di pulau Banda yang terletak di kawasan timur Nusantara. Kisah epik inilah yang membuat unit rock berideologi kebangsaan dan kebudayaan berbasis Nusantara ini pun tergerak melahirkan single debut bertajuk “Negeri Pemenang”.

Karya rekaman tersebut juga lahir dari tekad Tanah Air Project (TAP) yang memilih bereksplorasi khusus di tema-tema kebangsaan. Sebelumnya, saat awal terbentuk, band yang dihuni Ezekiel Rangga (kibord/sequencer), Ardika Prayudha (dram), Daniel Mantiri (gitar), Gerard Laisina (gitar) dan Vialinda Dewi (vokal) ini sebenarnya hanya berkeinginan untuk mendaur ulang lagu-lagu daerah maupun lagu nasional saja. Walaupun akhirnya mereka juga melahirkan lagu ciptaan sendiri berjudul “Indonesia Jaya” yang direkam di studio legendaris Lokananta, Solo.

TAP mendasari semua tulisan karyanya berdasarkan literasi sejarah serta cerita kejayaan Nusantara pada masa lampau yang tentunya banyak sekali tidak diketahui orang dan seringkali dianggap usang dan tidak menarik. 

.

.

“Konsep kebangsaan dipilih, lebih kepada bagaimana kami sebagai warga bangsa ingin mewakafkan ideologi bermusik kami hanya untuk penciptaan karya-karya bertema nasionalis berbasis kebudayaan serta cerita Nusantara, dan bukan sebagai band musiman ataupun band yang mengerjakan ‘order’ pesan nasional. Tanah Air Project adalah wujud dari bagaimana kami mencintai negeri ini dengan cara kami, yaitu cara Tanah Air Project,” papar pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan konsepnya.

“Negeri Pemenang” sendiri merupakan salah satu lagu yang bakal menghuni album mini (EP) debut TAP, yang juga diberi tajuk “Negeri Pemenang”. Lagu lainnya di EP tersebut adalah “Kandang Kita”, “Hegemoni”, “Surga Itu Nyata”, “Selamanya Kita” dan “Anak Indonesia”. Semuanya ditulis oleh Ezekiel Rangga, produser sekaligus konseptor TAP.

Proses rekaman EP itu sendiri digarap selama empat hari penuh, bekerja sama dengan Bonar Abraham sebagai pengarah musik sekaligus mengisi bass di lagu-lagunya dan memoles mixing serta mastering di Soundverve Studio. Sebelumnya, untuk proses peracikan sound untuk setiap instrumen dieksekusi di studio milik masing-masing personel. Kebutuhan dram dikerjakan di Direct Studio, gitar di studio TheNiels Record, dan proses untuk synthesizer dan modelling sequencer dikerjakan di Room Lab studio. Khusus proses pengeditan vokal dipercayakan kepada oleh Ricky Aprianto dari Rostels Records.

Dari segi konsep, band yang terbentuk kurang lebih empat tahun lalu ini meramu musiknya dengan pendekatan rock yang modern. TAP menyebutnya dengan istilah rock sinematik. “Sebuah perpaduan modern rock dengan unsur musik modern lainnya serta balutan referensi etnis dalam kemasannya. Ada banyak sekali yang dijadikan referensi tentunya, karena kami mendengarkan hampir semua genre musik, antara lain seperti Asking Alexandria, Enter Shikari, Lamb of God, Godbless, Tetabuhan Nusantara, dan masih banyak lainnya,” seru TAP merinci.

Saat ini, proses penggarapan EP “Negeri Pemenang” sudah selesai, saat ini TAP tinggal memastikan semua single keluar satu per satu. “Negeri Pemenang” sendiri diedarkan TAP bekerja sama dengan Aquarius Pustaka Musik sebagai publisher. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *