TOXIC SOCIETY Semburkan “Berhala”, Kali Ini Bernuansa ‘Blackened’

Unit crossover thrash asal Salatiga, Jawa Tengah ini merasa jengah terhadap sikap seseorang yang berlebihan saat mengidolakan orang lain, khususnya di ‘skena’ media sosial. Terlebih saat sang idola terkena kasus misalnya, pembelaannya sampai membuat Toxic Society merasa jijik. Dari latar belakang fenomena itulah yang membuat mereka terlecut untuk memuntahkan unek-uneknya di single terbaru bertajuk “Berhala”.

Tidak berbeda dibanding konsep album mini (EP) self-titled yang mereka rilis pada akhir 2019 lalu, Toxic Society kali ini memang masih memfokuskan topik lirik yang sama, yakni distopia dan gaya hidup masyarakat modern. 

Tapi dari sudut pengonsepan komposisi, aransemen serta produksi, ada terapan yang berbeda. Kali ini di “Berhala”, formasi Christian Adi Candra a.k.a. Candra (vokal), Nizar Ulung a.k.a. Ulung (gitar), Lutfhi Jauharin Abdillah a.k.a. Lutfhi (gitar), Rifaldo Al Rasyid a.k.a. Aldo (bass) dan Athalla Alifrafi a.k.a. Alif (dram) merekamnya secara live atau semi track studio Siranda (Salatiga), dimana unsur-unsur blackened dibuat lebih menonjol dengan tempo yang tak begitu cepat. Sebelumnya, Toxic Society lebih cenderung mengeksplorasi thrashcore.

Lebih jauh, formula “Berhala” merupakan hasil racikan berbagai pengaruh serta inspirasi yang datang, misalnya dari band-band seperti Power Trip, Lowest Creature hingga Slayer. “Berhala” kali ini punya kesan pembeda lain dari lagu-lagu Toxic Society sebelumnya yang lebih condong ke arah thrashcore.

.

.

“Karena (kami) ingin coba hal baru, biar tidak terkesan monoton dari segi musikalitas. Karena kebetulan juga saat itu kami sedang senang dengar lagu-lagu dari band macam Avhath sampai Power Trip, terus kenapa nggak mencoba memasukkan unsur-unsur yang demikian ke lagu kami. Karena kebetulan gitaris kami dua-duanya datangnya dari band blackmetal, jadi lebih cocok aja ke kami,” umbar pihak band kepada MUSIKERAS, mengenai alasan di balik eksplorasi barunya.

Ya, bagi Toxic Society, single “Berhala” memang merupakan sarana untuk melebarkan aspek musikalitas. Apalagi mengingat tiap personel Toxic Society punya latar belakang genre yang berbeda, mulai dari atmospheric black metal hingga youthcrew hardcore.

Toxic Society yang baru terbentuk pada 2018 lalu menggarap single “Berhala” selama kurang lebih 2-3 bulan. Lagu tersebut menjadi pembuka menuju penggarapan album yang kini baru memasuki tahap perencanaan konsep dan artistik. Single “Berhala” sudah dirilis dalam format fisik (CD) sejak Juli 2021 lalu dalam jumlah terbatas. Sementara versi digital streaming baru dibebasliarkan di kanal Bandcamp pada 20 Agustus 2021 lalu. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *