THEATERING Serukan Single “Freedom of Human Right” Bernotasi Metal-Etnik

Band ini menjunjung visi ingin mengedepankan atau mengembalikan ciri khas musikalitas di kota kelahiran mereka, Malang, Jawa Timur yang sejatinya adalah salah satu barometer musik rock Indonesia. Theatering menggeber musikalitas rock yang dikolaborasikan dengan notasi etnik, plus imbuhan permainan gitar berkontur shred, yang menerapkan pola riff dan teknik palm-mute berbalut distorsi low sound nan padat. Mereka, antara lain menyebut inspirasinya datang dari band-band dunia macam Cacophony, Dream Theater hingga Trivium.

Theatering yang digerakkan oleh formasi Nadya Marcella Defnanda (vokal), Hafid Aqil Abyan (bass/vokal), Dwi Kusuma Wardhana (gitar), Novanda Dwi Yahya (gitar) dan Fandi Cahya Priandika (dram) telah menerapkan konsep itu lewat single debut bertajuk “Freedom of Human Right”. Bekerja sama dengan IRO Production, Theatering juga telah melepaskan video musik untuk lagu tersebut.

“Freedom of Human Right” sendiri dimaksudkan oleh Theatering sebagai lagu penyemangat untuk perjuangan di bumi Palestina yang menentang ketidakadilan dari para zionis laknat yang membabi buta merampas hak mereka. Semoga dengan kehadiran lagu ini, para personel Theatering berharap dapat menjadi penyemangat untuk tiap perjuangan yang suci dan sahid.

.

.

“Lagu ini terinspirasi daripada para pejuang panglima terkemuka dunia yang memenangkan perang Salib dengan cara ksatria dan menjunjung tinggi toleransi umat beragama yaitu Sholahuddin Al Ayyubi dan ksatria pembebas konstatinopel Sultan Muhammad Al Fatih.”

Pada awalnya, single “Freedom of Human Right” yang direkam di AA Music Studio pada Agustus 2018 lalu dimaksudkan hanya sebagai pemanis dan sebagai pengayom mayoritas musik underground Kota Malang yang notabene kebanyakan mencintai genre musik hardcore atau pun metal yang didominasi terapan vokal scream. “Karena biar bagaimana pun, Theatering berdiri di Kota Malang, yang notabene bukan basis dari band ber-genre progressive metal atau rock eksperimental,” beber Theatering kepada MUSIKERAS.

Lalu secara musikalitas, lanjut mereka lagi, lagu “Freedom of Human Right” dikemas paling simpel karena pada intinya lagu ini bertujuan untuk mengayomi genre underground pada umumnya. “Tetapi kami masih memberikan nuansa eksperimental dari sisi lick dan notasi Javanese sebagai penyedap lagu ini untuk didengarkan.”

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Dream Theater adalah salah satu band yang lumayan berpengaruh terhadap pengonsepan musik band ini. Karena di mata band bentukan September 2017 ini, Dream Theater adalah kumpulan musisi yang memang terdidik secara akademisi, kompeten, dan ber-attitude bagus yang layak untuk dicontoh oleh para musisi khalayak umum. 

“Yang kedua, Dream Theater selalu bermain layaknya dunia mimpi yang seakan-akan membawa kita terhipnotis dan mampu menimbulkan ejakulasi dari musikalitas mereka.”

Setelah “Freedom of Human Right”, saat ini Theatering mulai menyiapkan album mini (EP). Namun mereka masih menimbang-nimbang momentum yang tepat untuk menetapkan tanggal perilisannya. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *