Selebrasi 22 Tahun Menggerinda, PROLETAR Muntahkan “Depressive Disorder”

Selama 22 tahun eksistensinya di skena musik cadas ‘bawah tanah’ di Tanah Air, unit grindcore asal Jakarta yang telah bertarung sejak 1999 silam ini tetap menolak bungkam dan letih. Walau telah beberapa kali didera pergantian personel, Proletar tetap solid hingga hari ini. Bahkan sejak 25 Desember 2021 lalu, mereka masih sepenuh tenaga menggasak kuping lewat album studio terbaru bertajuk “Depressive Disorder”, yang memuat 22 amunisi berhulu ledak tinggi.

Secara musikalitas, Proletar ingin kembali ke era pergerakan mereka di 2003 atau 2004 silam, dimana mereka cenderung menggeber grindcore yang sedikit banyak terpengaruh mantra-mantra dari tanah Cekoslowakia (kini bernama Republik Ceko) atau Belgia. Namun dengan tambahan eksplorasi di sana-sini. “Kami lebih ngulik sih di album baru ini. Kami banyak mengeksplorasi dari sisi sound, gitar, dan vokal terutama, banyak karakter-karakter vokal yang sebelumnya belum pernah kami gunakan,” urai dramer/screamer Levoy Owen mengungkapkan.  

Apa perbedaan yang signifikan antara era itu dengan masa yang dijalani Proletar sekarang? “Yang pertama mungkin dari segi sound yang dihasilkan,” ucap gitaris/bassis Ipuletar kepada MUSIKERAS, meyakinkan. 

Karena pastinya, metode rekaman era 2003-2004 masih menerapkan teknologi analog yang menggunakan pita, sehingga secara sonikal lebih natural dan lebih terasa. “Noise-nya pasti lebih dapet, sulit untuk mengejar ke arah sana. Walaupun masih dalam koridor heavy sound, akan tetapi yang sekarang lebih berat dan padat.”

Namun senada ucapan Levoy tadi, menurut Ipuletar lagi, dari komposisi musik mereka kini memang melakukan pengembangan. Ada eksplorasi beberapa genre di album ini, misalnya seperti sludge/doom, Dbeat, metal dengan beberapa turunannya seperti death, black dan lainnya. “Dari segi vokal, di album ini jangkauan growl Nino Aspiranta lebih lebar dibanding sebelum-sebelumnya. Di album ini, tiap personel juga mengeksplorasi instrumen masing-masing, dan hasilnya adalah 22 trek ‘Depressive Disorder’.”

.

.

Proses rekaman “Depressive Disorder” sendiri mulai digeber pada Maret 2021 lalu, dimana mereka merampungkan isian dram di K Studio. Lalu masih di bulan yang sama take gitar di Apache Studio. Bulan berikutnya giliran isian bass yang dieksekusi di Apache Studio, lalu terakhir untuk sesi vokal yang dilakukan di Jalak studio pada Mei. Setelah itu, dilanjutkan ke tahap pemolesan mixing dan mastering yang dipercayakan kepada Ramadhani Utomo di Jalak Studio. Proses terakhir ini diolah selama periode Juni sampai akhir September. Menurut Ipuletar, nyaris tak ada kendala selama menjalani prosesnya kecuali penyatuan jadwal di antara kesibukan lain para personelnya.

Menolak bungkam yang disinggung di awal artikel di atas berkaitan dengan muntahan lirik-lirik di “Depressive Disorder”. Keseluruhan merupakan sebuah bongkahan keresahan dan kritik terhadap kekacauan yang terjadi, terutama setelah munculnya pandemi. Mereka menyinggung perihal keadaan yang berubah drastis, dimana banyak orang merasa tertekan, tak sedikit pula yang mencapai titik depresi karena kehilangan pekerjaan. 

Keadaan ekonomi yang sudah memprihatinkan, situasinya menjadi lebih keruh sejak 2020, hadirnya media sosial dengan kecepatan arus informasinya hanya menghasilkan banyak noise dan berujung disinformasi. Minimnya filter informasi di tengah masyarakat kita membuat mereka kebingungan dan terpecah-belah, padahal saling menjaga dan menguatkan satu sama lain adalah hal yang dibutuhkan di tengah kondisi yang seperti ini. 

Ketidakadilan adalah makanan sehari-hari, ketimpangan sosial makin terasa, apalagi sejak 2020. Tumpul ke atas, tajam ke bawah. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin sengsara. Masalah politik? Masih dengan isu-isu serupa sejak lama; lebih melayani oligarki, dan hak rakyat terus dikebiri. 

Selain “Depressive Disorder”, Proletar juga telah meluncurkan sebuah film dokumenter berdurasi 129 menit bertajuk “Grind For Better Life” yang disutradarai oleh Diansyah Rizky. Sebanyak 43 kota di Indonesia telah menjadi saksi screening film tersebut, dan juga sudah dirilis oleh Samstrong Records dalam format DVD Pro. 

Khusus untuk “Depressive Disorder”, Samstrong Records juga merilis sebuah boxset spesial yang berisikan sebuah CD, kaset (tersedia dalam empat pilihan warna), kaus bergambarkan art cover album, DVD “Grind For Better Life”, foto promo, dua poster “Depressive Disorder” dan “Grind For Better Life” serta dua stiker Proletar dan Samstrong Records. 

Sejak meluncurkan debut album penuhnya, “Rakyat Jelata” (2001), Proletar terus aktif merilis musiknya lewat beberapa EP, album split serta kompilasi, yang jumlah totalnya telah melebihi 20 rilisan. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.