Thrash or be thrashed!
Walaupun harus berjibaku dengan peliknya mengatur waktu antara pekerjaan sebagai ‘budak korporat’ dengan hobi, namun para personel trio cadas asal Ponorogo, Jawa Timur ini menolak keras untuk menyerah dan bertekad terus ‘angkat senjata’ hingga – menurut mereka – ajal menjemput.
Setelah album mini (EP) debut bertajuk “Penerus Bangsat Bangsa” yang dilontarkan pada 2017 silam, kini Alligator akhirnya bangkit lagi untuk mempertegas eksistensinya di skena musik cadas Tanah Air. Lewat “Sic Semper Tyrannis”, sebuah karya rekaman baru yang mereka sebut sebagai langkah awal untuk lebih peka dalam menyampaikan krisis sosial politik yang terjadi akhir-akhir ini.
“Untuk penyusunan lirik, kami lebih meningkatkan sisi kreatif kami dengan menggabungkan unsur neo politik klasik-modern, dibandingkan dengan EP kami sebelumnya,” ujar pihak Alligator kepada MUSIKERAS, mengungkapkan misi barunya.
Lebih jauh, para personelnya yang kini tinggal bertiga, yakni Ramdhano Syah Qohar a.k.a. Dhano (gitar/vokal), Ridwan Wimaswara Maulana Fajar (gitar) dan Diptya Yusti Indriawan (bass) beranggapan single “Sic Semper Tyrannis” masih berkutat pada ketidakadilan hukum negara ‘Wakanda’ yang seringkali membuat masyarakatnya mengumpat. Oya, ‘sic semper tyrannis’ sendiri merupakan sebuah frase Latin yang berarti ‘begitulah jadinya para tiran’.
“Kami menulis lagu ini dalam keadaan yang sulit, banyak sekali masalah yang kami hadapi, mundur dari pekerjaan, tidak memiliki uang dan ditambah virus Covid-19 yang melumpuhkan hampir setiap aspek perekonomian kami. Tapi dengan perlahan kami mampu menyelesaikannya,” urai Dhano merinci peristiwa di balik pembuatan lagu tersebut.
Proses perekaman single “Sic Semper Tyrannis” sendiri dimulai pada Juli 2021, yang dieksekusi di sepetak kamar kos milik Dhano di Jakarta. Saat itu, proses rekaman hanya bermodalkan soundcard serta perangkat laptop sebagai alat bantu. Proses rekaman berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Selanjutnya, mereka meneruskannya ke tahapan mastering, dimana Alligator pemolesannya dilakukan oleh Fajar dari Straight Studio, Bojonegoro.
.
.
“Sic Semper Tyrannis” sendiri menerapkan riff-riff gitar bertempo cepat yang mengundang ritual headbanging. Dhano, Ridwan dan Diptya mengawali penggodokannya dari riff gitar sebagai pondasi awal, lalu menuliskan lirik sebait untuk menyocokkannya dengan riff tadi. Ketika sudah sesuai, barulah mereka melengkapi riff lainnya dengan penggalan-penggalan lirik baru. Begitu seterusnya hingga rampung. Dalam menjalani proses ini, Alligator mengaku banyak terinspirasi dari band-band dunia seperti Annihilator dan Megadeth yang mereka nilai mampu membuat riff gitar lebih bernyawa.
“Referensi lain kami berkaitan dengan sound, mungkin kami lebih terpengaruh akan sound gitar yang tight seperti Havok, Evile dan Lost Society, karena karakter sound tersebut lebih dimudahkan dalam memainkan (teknik) downpicking,” seru pihak band lagi, menambahkan.
Namu terlepas dari segala pengaruh, nadi musik Alligator tetap terpusat di thrash metal yang menurut mereka dapat meningkatkan adrenalin, karena bertempo cepat dan lebih berdinamika dan padat dibanding pendahulunya, heavy metal.
“Membuat kami lebih tertantang untuk bereksplorasi lebih dan lebih, terlebih harus bisa beradaptasi dengan perkembangan musik pada jaman sekarang.”
Bisa dibilang, Alligator mulai terpikat keganasan thrash metal usai menelan mentah-mentah album “Arise” milik Sepultura. Karena sebelumnya, setelah resmi terbantuk pada 2012, Alligator sempat berkubang di sub-genre metal yang terbilang lebih modern macam A Day to Remember, Killswitch Engage, Trivium hingga Lamb of God.
“Sic Semper Tyrannis” diproyeksikan sebagai hidangan pembuka menuju perilisan album penuh yang dicanangkan bisa terwujud pada pertengahan tahun ini. Sejauh ini, produksinya sudah mencapai 50% dari keseluruhan proses. (mdy/MK01)