Kuartet cadas dari sisi timur Jakarta ini pertama kali mengibarkan eksistensinya pada 2005 silam, dengan umbaran grindcore yang gesit. Namun hingga bubar pada 2012, Nosema belum sempat menghasilkan karya rekaman dan kerap didera gonta-ganti formasi. Untungnya, pada akhir 2018, gitaris Muhammad ‘Ami’ Azmi memutuskan menyambung nadi band ini dengan merekrut personel baru. Bendera Nosema ditancapkan lagi, dan kali ini mengedepankan konsep segar berwujud deathgrind di garapan musiknya.
Nafas baru yang ditiupkan Ami bersama Iwo Kusuma Wardhana (growl/scream), Sakti (bass) dan Bimar (dram) tersebut kini lebih banyak berkiblat pada keberingasan Napalm Death dan Terrorizer, dua band mancanegara yang menjadi referensi utamanya. Formula itu – yang sedikit banyak juga diimbuhi pengaruh dari band-band keras seperti Misery Index, Sepultura, Pantera, Exodus dan Slayer – dituangkan ke dalam format album mini (EP) bertajuk “Kursi Sang Pengkhianat”.
“Konsep deathgrind kami lebih (mengacu) ke era-era 90-an, tetapi dengan bungkusan sound modern. Nosema sendiri berprinsip, kami memainkan kord simpel tetapi bernyawa. Makanya kami selalu memberikan groove dan power di setiap lagu kami. Dan kami berusaha memberikan musik yang fresh dan easy listening,” ujar Nosema kepada MUSIKERAS memperjelas.
.
.
Karya rekaman yang memuat lagu “Beelzebub (100:21)”, “Dog Federation”, “Limbah Kehancuran”, “Neraka Di Bumi”, “You’re Cultural” serta “Kursi Sang Pengkhianat” tersebut merupakan album perdana Nosema setelah berkarir selama 16 tahun. Menurut pihak band, proses rekamannya memang sangat memakan waktu. Para personel Nosema membutuhkan waktu selama kurang lebih dua tahun untuk mewujudkannya, yang antara lain juga terhambat lantaran adanya pembatasan akibat pandemi.
“Ada beberapa materi yang juga kami aransemen ulang, tapi semua berjalan dengan lancar. Rekaman dilakukan di Studio Threesixty (Rintop) dan (kami) sangat banyak (mendapat) masukan dari operator kami, yaitu mas Kandar. Kami banyak belajar dari proses album perdana dan ini adalah suatu pencapaian pertama Nosema.”
Pencapaian tersebut tentu saja membanggakan dan memuaskan bagi Nosema. Dan mereka menyebut lagu “Limbah Kehancuran” dan “Neraka di Bumi” sebagai karya yang mereka anggap paling mewakili kebringasan Nosema, sekaligus sebagai corong suara rakyat terhadap keadaan negara Indonesia saat ini.
“Di lagu ini Nosema memberikan kekuatan penuh serta pola-pola yang simpel tetapi menggigit serta nuansa-nuansa yang menggambarkan bahwa kami yang akan memberikan kalian darah segar.”
Setelah “Kursi Sang Pengkhianat”, Nosema bertekad untuk terus konsisten melahirkan karya-karya musik mereka yang terbaik untuk semua manusia pencinta musik ekstrim yang ada di seluruh dunia. (Aug/MK02)