Lewat rilisan tunggal terbaru bertajuk, “Heaven on Earth”, unit deathcore asal Tangerang, Banten ini akhirnya merasa menemukan jati diri musikalitas mereka yang sesungguhnya. Sebuah karya rekaman yang dikemas dengan memadukan unsur modern dan oldschool deathcore, dengan imbuhan unsur musik klasik atau simfoni yang menjadi ciri khas Archadia sendiri. “Heaven on Earth” juga terpilih sebagai salah satu lagu yang memperkuat album kompilasi “Blackened Submission Vol.1” yang dirilis oleh Blackandje Records belum lama ini.
“Dari segi musik, kami bisa mendeskripsikan Archadia sebagai band symphonic deathcore dengan ditambahkan juga sentuhan death metal dan black metal. Dengan lahirnya ‘Heaven on Earth’, kami akhirnya bisa menemukan jati diri kami untuk ke arah sana. Mungkin album kami nanti akan kurang lebih juga memiliki konsep yang mengarah ke sana, tetapi dengan hasil yang lebih matang. Karena semakin lama kami juga belajar dan referensi musik kami juga semakin luas,” papar pihak Archadia kepada MUSIKERAS, mempertegas.
Dalam meramu komposisinya, Archadia yang diperkuat Difizckal ‘Fizckal’ Satriatama (vokal), Nikolas Vito (gitar), Piano Patra (gitar) dan M. Fiorel ‘Fio’ Fajri Hilmi (dram) sedikit banyak menyerap ide-ide dari band-band cadas dunia macam Chelsea Grin, Thy Art is Murder dan Infant Annihilator, serta juga dari raksasa death metal dalam negeri, Deadsquad. “Kami juga banyak mendengar komposisi soundtrack film seperti (karya) Hans Zimmer untuk memperkaya nuansa musik kami.”
.
.
Di mata Archadia, deathcore sendiri merupakan genre yang menawarkan sebuah kebebasan, dimana mereka bisa mengatur format lagu sesuai riff-riff yang terlintas dalam penulisan lagu. Itu yang membuat para personelnya sepakat menganutnya sebagai paham utama band ini.
“Kemudian deathcore juga genre yang menurut kami penuh dengan punchline dan yang terakhir, kami memilihnya karena deathcore itu sendiri gelap dan sangar untuk didengarkan,” seru mereka semangat.
Lagu “Heaven on Earth” dikerjakan Archadia dalam waktu yang relatif singkat. Proses kreatif pembuatan lagunya hanya memakan waktu dua hari, plus rekaman yang juga hanya butuh waktu dua hari, sudah termasuk rekaman semua instrumen dan vokal. Hanya proses mixing dan mastering yang sedikit lebih lama karena adanya penambahan elemen-elemen musik untuk memperkuat nuansa lagu. Eksekusi rekaman dilakukan di dua studio yang berbeda. Untuk gitar dan bass direkam di sebuah studio rumahan bernama Pojok Records, semantara untuk vokal dan dram dilakukan di ERK Studio. Khusus proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Nicko Prabowo (Divide/Straightout) yang dipoles di Kupink Recordings.
Saat ini, secara paralel, Archadia juga tengah menggarap materi untuk album. Sejauh ini mereka telah menyelesaikan penulisan lima lagu dan terus melakukan pematangan materi. “Kalau sudah matang kami langsung masuk dapur rekaman. Kami belum tahu judul albumnya, tapi jumlah track (keseluruhan) diperkirakan ada delapan lagu.”
Jika tak ada kendala, Archadia mencanangkan album pertama mereka itu bisa rampung atau dirilis pada Mei tahun ini juga. Sebelum “Heaven on Earth”, band yang sudah merangsek sejak lebih dari dua tahun lalu ini sudah pernah merilis lagu tunggal debut berjudul “Angels on Heroin”. (mdy/MK01)