JERUJI BASTARD Luapkan Muak dengan Semburan ‘Heavy Punk Inferno’

Unit punk beringas asal Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta ini kembali menyalak dengan formasi plus konsep musik yang baru. Mereka dengan bangga menyebutnya ‘heavy punk inferno’. Identitas baru tersebut telah diterapkan lewat sebuah karya rekaman lagu tunggal terbaru bertajuk “1312”.

Lagu itu diangkat untuk menyikapi dan merespons represifitas ‘oknum, oknum dan oknum’ aparat seragam cokelat yang belakangan makin marak terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. Entah pada pengamanan unjuk rasa rakyat dan mahasiswa atau juga konflik konflik agraria upaya pembebasan lahan yang tak jarang harus dinodai dengan kekerasan dan kebrutalan lewat pukulan pentungan atau bahkan tembakan. Sikap dan tindakan yang jelas mencederai demokrasi dan juga hak asasi utama dan teratas rakyat untuk mengemukakan pendapat.

Untuk musik, apa yang mereka maksud dengan ‘heavy punk inferno’?

“Di sini kami memadukan distorsi berat heavy metal dengan entakan beat cepat ala The Casualties, The Exploited dan lain-lain. Inferno berarti jahanam, neraka… karena di sini kami terfokus dan mengambil tema-tema lagu berbau angakara murka dan kemarahan yang mendalam dalam penggarapan tema-tema lagu kami,” urai pihak Jeruji Bastard kepada MUSIKERAS, menegaskan konsepnya.

Lebih jauh, aransemen musik pada “1312” disebut Jeruji Bastard sedikit banyak terpengaruh referensi beberapa band lama dan baru, di antaranya seperti yang sudah disebut tadi, yakni The Exploited dan The Casualties, lalu ada juga Toxic Holocaust, Midnight, Discharge, Wolfbrigade serta beberapa persen sentuhan heavy metal dari Motörhead dan Judas Priest.

.

.

Untuk menjaga agar root punk mereka tetap menancap kuat, mereka melakukan pendekatan lirikal yang memakai gaya penulisan tanpa basa-basi a la Discharge dan the Exploited. Dengan musik yang terkesan berat dan lambat di bagian intro, selepas entakan dram memenggal jeda, Jeruji Bastard mengajak pendengarnya untuk meneriakkan dua bait verse bersajak yang singkat, padat dan diharapkan kuat menyayat pada satu teriakan ‘1312’ pada reff, yang kemudian ditutup dengan aksen ‘Ough!’ a la band-band macam Motorcharge.

“Keistimewaan genre ini, kami bisa lebih bebas dalam mengeksplorasi musik-musik sebagai referensi kami dalam berkarya. Bisa lebih membebaskan personel untuk tetap menjaga karakternya masing-masing, menjaga musik Jeruji Bastard ke depannya lebih kaya warna namun tetap di root awal kami.”

Jeruji Bastard yang diperkuat formasi Bayu Rasmana (vokal), Indra Kurniawan (gitar), Rhian Ardian (bass) dan Dendra Hadi Pratama (dram) menggarap “1312” selama kurang lebih dua bulan. Aransemennya digarap dan dimatangkan bersama di Burgassy Studio, lalu direkam di WatchTower Records, Yogyakarta, dengan bantuan Yuda Hasfari ‘Bable’ Sagala (Metallic Ass). Pemolesan mixing dan mastering juga dilakukan di studio tersebut.

Setelah “1312”, rencananya Jeruji Bastard masih akan melepas dua lagu lagi, yang bakal dirilis bebas secara bertahap, sebelum mulai fokus dalam penggarapan album mini (EP) selanjutnya. Sebelum “1312”, band yang telah berkiprah sejak 2008 silam ini pernah merilis EP “Pembuktian” (2009) berisi enam lagu beraroma street punk serta EP “Sure In This Way” (2016) berisi empat lagu yang hanya dirilis digital di Bandcamp. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.