Belum pernah terjadi sebelumnya. Punk rock rasa Banjar!
Kalimat di atas adalah klaim dari Primitive Monkey Noose (PMN), sebuah unit punk rock ‘darah baru’ asal kota kecil di sudut terpencil Kalimantan Selatan (Kalsel), Batulicin. Di bawah naungan Bertuah Records yang bekerja sama dengan Sony Music Entertainment Indonesia, mereka telah menetaskan sebuah album mini (EP) debut bertajuk “Primitive Monkey Noose”, yang resminya dirilis sejak 25 Maret 2022 lalu.
Konsep yang diumbar band bentukan akhir 2021 lalu ini memang terbilang unik, dimana keliaran punk rock dilebur dengan elemen petikan Panting, sebuah alat musik petik tradisional khas Kalsel. Sejak awal, PMN memang fokus berkarya dengan satu tujuan; memperkenalkan budaya daerahnya ke ranah musik yang belum pernah terjamah sebelumnya.
“Bisa jadi, ini sejarah baru dalam perskenaan musik rock di Indonesia, menjadikan punk dalam bentuk baru,” seru PMN kepada MUSIKERAS, bangga.
Pada praktiknya, PMN yang digerakkan oleh Richie Petroza (vokal/gitar), Ovecx Arsya (gitar/vokal latar), Denny Sumaryono (bass), Wan Arif Fadly (panting) dan Juli Yusman (dram) menyusupkan petikan Panting ke dalam arus tempo cepat punk rock. Dan bagi PMN, paduan itu adalah tantangan tersendiri, karena notasi nadanya juga cukup rumit untuk dipadukan.
.
.
“Kami mencoba membawa alat musik tradisional Panting ke ranah yang belum pernah dijamah sebelumnya, tidak terlihat seperti musik tradisional, dan pula tidak terlihat jadi lebih modern, hingga akhirnya mengeluarkan bentuk nada baru dalam bermain Panting dan musik punk rock itu sendiri. Kami sebut musik ini lebih folk, lebih otentik. Orang-orang bilang, kami seperti Celtic/Irish punk. Tapi kami tidak di sana. Kami tidak bisa mengakui itu, karena kami tidak berasal dari Celtic atau Irish. Kami dari Banjar, Kalimantan Selatan. Jadi, kalau di luar sana ada Celtic-Irish punk, maka di Indonesia ada Banjar Punk.
Lima komposisi lagu yang menjadi amunisi EP mereka tersebut, diakui oleh para personel PMN cukup sulit secara teknis saat penggodokannya. Terutama dalam memadukan notasi Panting yang miring, sementara karakter vokal dan musik cenderung mayor. Apalagi, kenyataannya mereka tidak punya referensi musik yang bisa dijadikan patokan. Kenapa? Karena memang, menurut PMN lagi, belum pernah ada yang melakukan hal ini sebelumnya.
“Menggabungkan Panting ke musik punk-rock belum pernah ada! Cari sendiri aja kalau masih belum percaya. Karena, sekali lagi, ini sejarah baru! Kami berani klaim ini. Seperti halnya Celtic-Irish punk, tentu ada musisi atau band pertama yang memainkan musik seperti itu, hingga terciptalah Celtic-Irish punk. Nah, kami adalah penggagas pertama terciptanya Banjar folk-punk atau Banjar Punk! Harapannya, musik Banjar Punk mendunia pula seperti halnya Celtic-Irish punk. Mungkin untuk satu dekade ke depan belum, tapi setidaknya, pilarnya telah kami pancang, pondasinya telah kami rentang, tinggal tunggu waktu, kemegahan Banjar Punk akan mendominasi dan berkeliaran di skena musik dunia.”
EP “Primitive Monkey Noose” sendiri digarap PMN di Arumika Studio, di Batulicin. Untuk urusan teknis rekaman, mereka mendapat bantuan dari sound engineer bernama Prima Yuda Prawira aka Gobe, yang sekaligus juga dipercayakan sebagai produser PMN. Hasilnya, melahirkan lagu “Anthem of South Borneo (Ampat Lima)”, “Mahadang Ading”, “Jabat Erat”, “Ayo, Keluar!” dan “Batulicin Youth Crew” yang kini sudah bisa digeber via berbagai platform digital. (mdy/MK01)