Sejak awal, band keluarga asal Pringsewu, Lampung ini dibaptis berada di jalur cepat punk, dengan gerak-gerik yang melawan arus mainstream. Dissolve menganut paham anti-fasis dan feminisme di lirik-liriknya, menyerapah perlawanan terhadap radikalisme dan fasisme, serta menyuarakan dukungan kepada seluruh perempuan yang memperjuangkan haknya dan memperjuangkan penghakiman atas kasus kekerasan terhadap perempuan dalam hal apa pun.
Keresahan dan unek-unek itulah yang mereka muntahkan di karya pertamanya, berupa sebuah album mini (EP) bertajuk “Dislove”, yang dilepas via sebuah label independen lokal bernama Outlaw Records, sejak tiga hari lalu. Menurut tuturan pihak band kepada MUSIKERAS, konsep itu lumayan menantang saat diaplikasikan di lagu. Salah satu contoh terapannya yang sulit ada di lagu berjudul “Kalampuan”
“Di lirik ‘Kalampuan’, kami harus mencari kata-kata yang menggambarkan keresahan perempuan yang memperjuangkan hak-haknya. Sulit sih. (Sementara) Untuk segi musik mungkin ‘diabolis’, karena tempo yang berubah-ubah,” seru Dissolve meyakinkan.
Seperti yang sudah disinggung tadi, Dissolve yang terbentuk kala pandemi 2021 ini adalah kuartet yang kebetulan punya ikatan kekeluargaan. Vokalis Selfita ‘Sleepy’ Indriani adalah istri dari gitaris Ikhsan ‘Xanajix’ Aji Kurniawan, sementara bassis Dedek ‘Kobra’ Setiawan dan dramer Nanang ‘Bons’ (drum) adalah kakak-adik. Mereka lantas menamai band Dissolve tanpa latar belakang makna apa-apa.
“Hanya ingin terdengar seperti (nama-nama band punk) Disfear, Discharge atau Disclose,” cetus mereka terus-terang.
.
.
Materi lima trek yang termuat di “Dislove” sebenarnya sudah lama mereka siapkan. Khususnya ide-ide riff gitar serta pola ketukan dram-nya. Namun karena keterbatasan waktu, baru sekarang mereka dapat melanjutkannya. Proses rekamannya sendiri dieksekusi di Outlaw Studios hanya dalam waktu lima hari.
Untuk konsep musik, Dissolve mengedepankan geberan musik yang cepat berbalut nada minor. “Beberapa juga diberi kesan gelap black metal dan diberi sentuhan breakdown. Referensi kami lebih ke blackened seperti (band) Oathbreaker, Trap Them dan From Ashes Rise,” urai Dissolve kepada MUSIKERAS.
Punk dan kecepatan adalah kombinasi yang sangat sesuai dengan hasrat musikal para personel Dissolve. Menurut mereka, lebih terasa adrenalinnya. “Dan (juga) lebih cepat selesai manggungnya karena durasi lagu yang rata-rata 1-2 menit saja, tapi sudah pasti chaos!”
EP “Dislove” kini sudah bisa dilantangkan ke pendengaran via platform digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer dan YouTube. (aug/MK02)