ABRAKADAVER Semakin Brutal di Rilisan “Perkosa”

Usai merilis album berbagi (split) bertajuk “Slit The Throat of Oligarchs” bersama R.K.K. pada akhir Januari lalu, yang lantas diikuti dengan menjalani tur ke beberapa kota, kini Abrakadaver melanjutkan gebrakannya. Kali ini tanpa band tandem, dengan melontarkan karya lagu rilisan tunggal terbaru berjudul “Perkosa”. Karya rekaman tersebut, sekaligus penanda pergantian formasi di lini vokal dan dram. 

Jadi selain musisi pendirinya, gitaris Gelar Ali serta bassis Deka Fajar, kini unit grindcore asal Surabaya, Jawa Timur ini juga dipersolid dengan bergabungnya vokalis Arga Kriswandono dan dramer Agra Nurullah. Formasi inilah yang mengeksekusi penggarapan “Perkosa”, yang dimulai selama bulan Ramadhan lalu.

“Perkosa” yang merupakan bentuk kegelisahan Abrakadaver atas fenomena kasus kekerasan seksual yang belakangan ini banyak dijumpai di dunia pendidikan dan bahkan di institusi keagamaan, digodok dalam waktu yang relatif singkat. Di tengah bulan puasa, mereka memutuskan rehat dan memanfaatkan waktu mengasah kekompakan dengan personel baru.

“Dan dalam satu sesi latihan lagu ini selesai secara mentah. Lirik yang baru tercipta kemudian di awal bulan Mei 2022. Single ini kami rekam di studio pribadi (Gembulcore Studio) secara cepat, dalam waktu sehari pada akhir Mei 2022,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan prosesnya.

.

.

Berbeda dibanding materi yang termuat di album “Slit The Throat of Oligarchs”, kali ini racikan musiknya dibuat jauh lebih brutal, dengan semburan grindcore yang sarat agresivitas. “Kami memasukkan banyak unsur blastbeat dibanding rilisan split album sebelumnya, yang sama sekali tidak memasukkan blastbeat di semua lagunya,” seru Abrakadaver lagi meyakinkan.

Abrakadaver sendiri merupakan proyek grindcore dari bassis Kokoh Wardoyo dan Gelar Ali, yang bisa dibilang dimulai pada 2016 lalu. Kokoh yang sebelumnya sudah dikenal lewat band Hi Mom! ingin merasakan passion yang lebih pada musik grindcore, sehingga ia pun berinisiatif membentuk band bernama Bakalrusuh bersama Gelar dari band Titikkoma. Namun setelah vokalis Mares Widiyanto dan dramer Abyan Eno Saputra dari Firebender ikut bergabung, Bakalrusuh pun berganti nama menjadi Abrakadaver pada 2018. Formasi ini lantas melahirkan album mini (EP) bertitel “Incitement of Hate” pada 15 Januari 2019.

Saat itu, secara keseluruhan konsep musik Abrakadaver menerapkan kecenderungan ke crossover. Berbagai pengaruh musik dari masing-masing personel yang berbeda, lantas dilebur jadi satu dalam ramuan grindcore. Mulai dari black metal, hardcore bahkan sampai blues. Kebanyakan mengacu pada band-band dunia macam Napalm Death, Misery Index, Rotten Sound dan Wormrot.

Kini “Perkosa” bisa didengarkan di kanal Bandcamp sejak 28 Mei lalu, dan bakal menyusul versi video klip pada Agustus 2022 mendatang. (aug/MK02)

.

.

Jika Anda - para pembaca Musikeras - menyukai tulisan-tulisan kami dan ingin membantu / peduli akan kelangsungan karir media kami, dengan senang hati kami menerima donasi dari Anda secara sukarela. Bantuan dana bisa dikirimkan (transfer) via aplikasi OVO Musikeras 083822872349. Berapa pun bantuan Anda sangat berharga buat kami. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *