Kekuatan Baru HEARTFELT Geser Hardcore ke Metalcore

Usai mengenalkan diri lewat lagu rilisan tunggal debut bertajuk “Redzone” lebih dari setahun lalu, unit cadas asal Batam, Kepulauan Riau ini meneruskan momentum eksistensinya. Di karya rekaman terbarunya, “ELI”, mereka hadir dengan konsep musik yang berbeda, juga dengan formasi yang berubah.

Terhitung sejak Desember 2021, Heartfelt telah menambah personel di lini gitar, sebelum fokus mengerjakan materi musik baru. Kini formasi mereka berlima, diperkuat oleh tiga personel awal, yakni Togos Reagenald Simanjuntak (vokal), Nico Prianto Sitorus (bass) dan Ridho Kurniansyah (dram) serta nyawa baru mereka, dua gitaris Nugraha Ramadhan Qoddri dan Alan Yudi.

Tidak sekadar merombak, namun formasi baru itu memang berkaitan dengan arah racikan musik yang mereka terapkan sekarang. Setidaknya itu pengakuan mereka. 

“Pertimbangan kami memakai dua gitar dikarenakan perubahan arah musik, dari hardcore metal menuju metalcore. Dua gitaris menjadi sangat penting juga, karena mereka berdua mengambil peran dalam pembuatan lagu, sehingga di lagu ‘ELI’ memiliki banyak variasi. Selain itu, kedua gitaris juga menjadikan musik kami menjadi padat dan penuh energi,” papar pihak band kepada MUSIKERAS, memberi alasan.

.

.

Dengan fasilitas mandiri dan kerja mandiri, Heartfelt merampungkan “ELI” dengan memanfaatkan fasilitas sebuah studio rumahan milik mereka, dan mempercayakan dramer Ridho sebagai penata musik, sekaligus sebagai operator teknis selama rekaman. Lalu hasilnya dikirim ke Redshores (Jeje Guitar) untuk pelarasan (mastering).

Pergeseran dari hardcore ke metalcore dieksekusi band bentukan 2020 ini dengan berusaha menggabungkan unsur emosional dan unsur metal. Kata mereka, unsur emosionalnya tampak dalam bagian reff yang melodik, yang mencoba memberi rasa yang sentimental. “Di musik ‘ELI’ kali ini kami mencoba mencari refrensi musik dari berbagai musik metalcore tanpa merujuk pada band tertentu.”

Lagu “ELI” sendiri menceritakan seseorang yang hidup di dunia kelam yang ingin bertobat. Namun selama proses pertobatan, ia justru ditolak oleh lingkungannya. Dia ditolak oleh orang-orang yang mengganggap dirinya suci. Karena penolakan itu, timbul dilema, apakah ia harus terus memperbaiki diri, atau kembali ke masa kelamnya, dimana orang-orang  dalam lingkungan itu justru merangkulnya. Dan ELI adalah sosok pelindung.

Selain “ELI” yang telah diperdengarkan resmi sejak 22 Juli lalu, Heartfelt juga sudah mulai menggodok materi untuk rilisan tunggal berikutnya. Tapi sejauh ini masih dalam proses kerangka dasar yang disusun oleh Ridho. “Kami menargetkan akhir tahun 2022 sudah mengeluarkan video klip lagu ketiga,” seru mereka menjanjikan.

“ELI” kini sudah bisa didengarkan via Spotify dan YouTube. (aug/MK02)

.

.

Jika Anda - para pembaca Musikeras - menyukai tulisan-tulisan kami dan ingin membantu / peduli akan kelangsungan karir media kami, dengan senang hati kami menerima donasi dari Anda secara sukarela. Bantuan dana bisa dikirimkan (transfer) via aplikasi OVO Musikeras 083822872349. Berapa pun bantuan Anda sangat berharga buat kami. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *