DIVINE Bergolak Lagi, Geber “Black Heart” dengan Konsep Baru

Momentum kebangkitan yang dibangun lewat album “Digital Infection” pada 2019 lalu – sejak Ucokkk Tampubolon, pendiri band thrash metal asal Jakarta ini berpulang empat tahun sebelumnya – terpaksa tertunda lantaran pandemi Covid-19 melanda. Proses kreatif untuk terus berkarya pun terhenti sementara.

“Divine yang personelnya sudah berkeluarga semua tentu punya kekhawatiran di awal pandemi datang, sehingga ‘menunda’ proses kreatif. Untungnya saat ini sudah mulai membaik dan prosesnya pun dimulai (lagi),” ujar gitaris Muhamad Heyckel kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di band.

Sejak kekangan pandemi mulai melandai di penghujung 2022, Heyckel, Wisnu Made (gitar), Andi Jaka (vokal), Amir ‘Amink’ (bass) dan Ino Muralino (dram) pun tergerak untuk memanaskan mesin distorsinya lagi. Kembali menjalani proses seperti yang mereka lakukan saat menggodok materi “Digital Infection”. Keseluruhan produksi dilakukan di Basement Studio, Cilandak bersama Ikul Sarden yang menangani teknis rekaman, mixing serta mastering.

“Waktu dari brainstorming sampai lagu rilis tidak terlalu lama, kira-kira satu setengah bulan. Karena seperti biasa, ide musik selalu berasal dari Heyckel atau Wisnu, yang selalu membagikan ide-ide riff untuk kemudian dikembangkan. Ketika riff sudah disetujui, selanjutnya struktur yang dibahas.”

“Black Heart” adalah lagu rilisan tunggal awal yang lantas diperdengarkan, hasil dari sesi tersebut. Sekaligus menjadi pembuka menuju penggarapan album baru. “Black Heart” sendiri bercerita tentang apa yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Rutinitas manusia yang kemudian menjadi sesuatu yang bias. Rasa lelah dan muak karena harus berkompromi setiap saat dengan kondisi yang ada, membuatnya menjadi ‘normal’ dan akhirnya sedikit demi sedikit membuat nurani ‘tercemar’. Tema sosial semacam ini sudah menjadi ‘arahan’ paten pada sesi lirik, sejak Divine terbentuk pada awal 2001 silam. 

.

.

Komposisi “Black Heart” sekaligus membawa perubahan yang cukup signifikan dari segi musikalitas. Di ‘era baru’-nya ini, Divine tak hanya bernyawa thrash metal, namun juga bereksperimen lewat berbagai elemen lainnya seperti heavy metal, progressive hingga jazz. Bagi para personel Divine, sebagai sebuah band, mereka selalu ingin ‘naik kelas’ dari berbagai segi. Khususnya di lini komposisi dan produksi.

“Referensi-referensi baru datang dari berbagai jenis musik yang kami suka. Bisa didengar di lagu ‘Black Heart’ ada mood swing jazz-nya. Dinamika dan twist di lagu menjadi ‘pekerjaan rumah’ besar untuk Divine, supaya pendengar tidak bosan akan lagu yang cepat dan tetap. Divine memang tidak membatasi musikalitas untuk dieksplorasi lebih jauh lagi, namun tanpa meninggalkan benang merah yang ditinggalkan Almarhum Ucokkk Tampubolon.” 

Tapi kali ini, Divine tak ingin terburu-buru dalam memproduksi album. Untuk sementara, mereka hanya ingin melepas rilisan tunggal, lagu demi lagu. Dan sejauh ini, sudah terkumpul sebanyak lima materi lagu baru. “Tentunya kami juga tidak ingin menggunakan waktu terlalu lama dalam produksi,” seru pihak band menjanjikan. 

Hingga saat ini, Divine telah menorehkan tiga karya rekaman, yakni album mini (EP) “Relevasi” (2005) serta album “Anger Thy Giveth” (2008), “Long Live Thrash Metal” (2015) dan “Digital Infection” (2019). “Black Heart” sendiri sudah bisa dilantangkan via berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Amazon Music, Google Play, Deezer, Tidal, Shazam hingga YouTube. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.