Karena sempat terkendala penggantian vokalis, maka karya rekaman album mini (EP) kuartet blackened hardcore asal Bandung, Jawa Barat ini sedikit mundur perampungan materinya. Namun kini dengan formasi terbarunya, Killmera pun siap menancapkan eksistensinya di skena metal independen lewat EP “Black Hole” yang telah dilesatkan ke publik metalhead sejak 19 November 2022 lalu.
Awalnya begini. Ketika proyek Killmera ini dimulai pada Desember 2021, ide kelahirannya digagas oleh gitaris Aprilliandi ‘Itok’ Hadiansyah dari band Respecthardcore dengan vokalis Lutfihm dari Tabraklari. Tanpa direncanakan sebelumnya, keduanya membuat kesepakatan untuk membentuk sebuah band baru. Itok lantas mengajak adiknya sendiri, Reynaldi ‘Doy’ Ferdiansyah untuk mengisi posisi bass serta tetangganya, Biana Rizqy Noor untuk memainkan dram.
Memasuki awal 2022, Killmera pun masuk dapur rekaman untuk menggarap EP. Nah, rupanya prosesnya tidak berjalan lancar karena Lutfi memutuskan mundur lantaran kesibukannya. Kendala lainnya, Lutfi tinggal di Tangerang, sementara personel lain di Bandung. Pertengahan 2022 vokalis Bagus Akbar Sopian bergabung, dan akhirnya materi EP pun bisa diselesaikan eksekusinya pada Oktober 2022.
Proses kreatif di penggodokan “Black Hole” sendiri dijalani secara swadaya dengan memaksimalkan perangkat studio rumahan, dengan bantuan alat-alat yang dimiliki rekan-rekan band mereka. Lokasi pengerjaanya pun bernama Suaka Studio, tempat dimana para rekan dan penggiat band berkumpul. Termasuk operator selama rekaman, Gundem (Deerhouse) yang juga merupakan rekan mereka sendiri.
.
.
“Proses pengerjaannya sendiri terhitung sangat cepat dari segi (pengisian) gitar, bass dan dram. Dari empat lagu yang kami hasilkan sangat-sangat kami akui tidak ada kesulitan selama pengerjaannya. Mungkin karena durasi (lagu) yang tidak terlalu lama dan musik yang dikemas simpel,” tutur band kepada MUSIKERAS, mengurai produksinya.
Untuk musik, Killmera mengakui sedikit banyak mengenyam pengaruh dari band-band dunia macam Behemoth, Hate, Nemesis hingga bahkan rapper Ghostemane, khususnya di EP “Fear Network”.
“Secara materi musik kami mendeskripsikannya melalui riff-riff yang mungkin terdengar agak gelap. Ketukan dram yang diisi dengan beberapa (teknik) blastbeat, lirik lagu yang gelap dan beberapa entakan nada berat yang coba kami gabungkan, dari blackened ke hardcore.”
Sementara di lirik yang keseluruhan ditulis oleh Itok, “Black Hole” mengemas kisah kelam tentang ‘soul and pain’ yang dirasakan setiap manusia, sebagai suatu hal yang niscaya. Manusia digambarkan terlalu mudah diatur atau dikendalikan oleh iblis, yang kemudian menanamkan dendam pada diri manusia. Hal itu melatari dan memicu pertikaian, perpecahan bahkan pembunuhan sesama manusia. Sialnya, iblis itu justru berasal dari ‘lubang hitam’ dalam jiwa manusia itu sendiri.
EP yang beramunisikan lagu “Black Hole”, “Darkness”, “Ashes” dan “Khimaira” tersebut kini bisa didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music hingga Bandcamp. (mdy/MK01)
.
.