Kuartet keras dari Jakarta ini semakin konsisten meneruskan tekadnya untuk membuat metal masa kini yang mereka geber tidak terdengar monoton atau membosankan. Eksperimentasi dan eksplorasi kembali dihadirkan Undelayed lewat lagu rilisan tunggal terbarunya yang bertajuk “Asa”.
Pengakuan mereka, kali ini banyak memasukkan warna musik sambil mencoba sejauh mana Undelayed bisa terus dieksplorasi. Dibanding lagu “Dwipanca” yang mereka lepas pada 2021 lalu, arah musikal “Asa” digiring menembus zona baru, yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Tetap menyajikan alternative metalcore yang berat, namun tanpa mengesampingkan sisi sentimental yang membuat warna musik mereka selalu terdengar menarik. Sisi humanis itulah yang mereka klaim menjadi daya tarik kuat di lagu “Asa”.
“Kali ini, kami mencoba untuk mengambil beberapa referensi yang sebelumnya belum pernah digunakan dalam musik kami, yaitu beberapa riff gitar yang heavy, groovy, dan punchy, yang mungkin sering terdengar di musik hardcore untuk mengekspresikan part dimana sosok dalam lirik sedang ingin ‘menyemangati’ dirinya kembali, (lalu) dilanjutkan dengan pengambilan teknik vokal falsetto dengan referensi dari band Sleep Token untuk menggambarkan ‘rintihan’ serta harapan dari hati kecil seseorang yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Pada bagian akhir ditutup dengan teknik headvoice bernada tinggi yang digabungkan dengan nuansa musik megah sebagai akhir perjalanan dan memberikan pertanda ‘Asa’ dari riuhnya musik untuk menggambarkan perjuangan tersebut,” beber Undelayed kepada MUSIKERAS mengurai paduan konsep antara lirik dan garapan komposisinya.
.
.
O ya, liriknya sendiri yang kali ini ditulis oleh vokalis Yanuar Rizky, bisa dibilang merupakan kelanjutan dari lagu tunggal Undelayed sebelumnya, tentang perjalanan seseorang yang berusaha keluar dari titik terendah hidupnya.
Sekali lagi, jika dibandingkan dengan “Dwipanca”, Undelayed yang juga diperkuat oleh Dzikri Mufidi (gitar), Yehezkiel Davian Raditya (gitar) dan Bagus Wirabrata (dram) lebih mengarahkan fokus pada nuansa groovy di olahan komposisi “Asa” secara keseluruhan, serta menaruh unsur musik hardcore di tengah lagu, yang dilengkapi oleh teriakan vokal tinggi ala Knocked Loose yang disuguhkan oleh Yanuar.
“Tentunya, di lagu ‘Asa’ ini kami masih mengambil referensi musik dari band-band seperti Polaris, Northlane, Invent Animate dan sebagainya,” cetus mereka lagi, mempertegas.
Dalam penggarapan “Asa”, sebenarnya Undelayed masih menerapkan formula yang sama seperti sebelumnya. Mereka memulai proses kreatif dengan membentuk kerangka lagunya dari instrumen terlebih dahulu, sebelum menyusulnya dengan isian bagian-bagian vokal. Proses keseluruhan menghabiskan waktu kurang lebih empat bulan. Rinciannya, tiga bulan untuk pra produksi, dan sebulan sisanya untuk produksi. Proses rekamannya sendiri dieksekusi di Rostels Studio, Depok serta di Rekamsemesta, Jakarta Timur.
Target Undelayed selanjutnya, setelah pelepasan “Asa” adalah pembuatan album yang berisikan banyak lagu. Tapi untuk menjaga agar tetap produktif, mereka berupaya selalu menghadirkan karya-karya tunggal setiap tahun. “Saat ini sudah ada 2-3 materi baru yang sedang dikerjakan, yang nantinya akan diproses lebih lanjut sebagai bagian dari album kami. Harapan kami adalah dapat merilis album tersebut di tahun 2023.”
Sejak 9 Desember 2022, “Asa” sudah bisa dilantangkan via berbagai platform digital. (mdy/MK01)
.
.