10 Maret 2023, DEEP PURPLE dan GOD BLESS akan Ulang Sejarah

Deep Purple dan God Bless, dua band rock legendaris yang sama-sama teruji waktu, melintasi pergolakan zaman, dan berhasil melewati selera musik yang berubah secara gegas dan dinamis akhirnya dipertemukan lagi di satu panggung setelah berselang 48 tahun. Tepatnya diniatkan terlaksana pada 10 Maret 2023 mendatang di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo. Pertemuan pertama terjadi pada 5 Desember 1975 silam, yang digelar di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Pada 1973, Deep Purple lepas dari formasi legendaris Mark II. Band rock yang dibentuk di London pada 1968 ini sedang menjalani masa bulan madu formasi Mark III: Ritchie Blackmore (gitar), Jon Lord (kibord), Ian Paice (dram) dengan dua dukungan personel baru, yakni Glenn Hughes (bass) dan David Coverdale. Nama terakhir adalah vokalis muda yang saat itu belum punya nama dan dipilih langsung oleh Ritchie Blackmore karena karakter suara yang “…maskulin dan punya corak blues yang jernih.”

Di tahun yang sama, berjarak ribuan kilometer dari London, ada sebuah band yang baru dibentuk di Indonesia. Namanya God Bless. Awalnya tapak karir mereka serupa seperti kebanyakan band rock di Indonesia, yakni menjadi band cover dan memainkan lagu-lagu band favoritnya, termasuk Deep Purple.

God Bless tumbuh besar di kancah musik Indonesia yang sedang ada di titik puncak gairah. Pelarangan musik ngak ngik ngok yang terjadi di era Orde Lama, sudah tak ada lagi seiring Orde Baru yang naik ke permukaan. Akibatnya, pengaruh budaya pop, termasuk musik rock, mengalir dengan deras ke Indonesia. Ini diikuti dengan munculnya banyak band rock di Indonesia, yang kala itu sering juga, dengan salah kaprah, disebut sebagai band underground.

Pada 1974, Deep Purple merilis “Burn”, album perdana yang menandai dimulainya era Mark III. Beberapa bulan kemudian, Deep Purple merilis album kesembilan, “Stormbringer”. Pada 1975, mereka merilis “Come Taste the Band”, album studio ke-10 dan satu-satunya yang digarap bersama gitaris Tommy Bolin, yang masuk menggantikan Ritchie Blackmore.

Pada tahun yang sama, God Bless berhasil membuktikan diri sebagai band yang punya karya sendiri dengan merilis album perdana mereka, “God Bless”. Album dengan sampul wajah Achmad Albar dan rambut kribonya yang ikonik itu, melejitkan lagu-lagu seperti “Huma di Atas Bukit”, “Rock di Udara”, dan “Setan Tertawa”.

Peletakan batu pertama supremasi God Bless di album debutnya itu menandai awal karir mereka yang akhirnya berhasil merentang panjang hingga sekarang. God Bless, sama seperti Deep Purple, tetap setia di jalur musik rock, tapi sekaligus tetap fleksibel dengan perkembangan musik dunia.

Deep Purple datang ke Indonesia pada 1975, membawa rombongan berjumlah 36 orang. Mereka tak hanya membawa pertunjukan rock ultra megah ke Indonesia untuk kali pertama. Formasi saat itu – David Coverdale, Jon Lord, Ian Paice, Glenn Hughes dan Tommy Bolin – juga membawa revolusi.

God Bless yang membuka konser Deep Purple di hari kedua selalu mengenang betapa pertunjukan tersebut mengubah banyak hal dalam konteks seni pertunjukan musik di Indonesia. Donny Fattah, bassis God Bless, berkata bahwa kala itu di pemahaman teknis produksi konser di Indonesia masih tergolong sangat sederhana. Menurut Donny, band-band Indonesia kala itu tidak paham fungsi alat-alat pertunjukan yang ada di panggung. Mulai dari monitor, sound sampai mixer. Dari sana, band-band rock Indonesia belajar pelan-pelan tentang showmanship, manajerial, hingga konsep sebuah pertunjukan. Mereka belajar bahwa sebuah konser rock haruslah meninggalkan kesan ‘wow!’.

Maka di titik ini, apa yang dibawa oleh Deep Purple saat itu memang bukan hanya sebuah konser. Itu adalah peragaan dan demonstrasi yang mengajarkan orang-orang Indonesia pada zaman itu: begini seharusnya konser rock dibuat dan dimainkan! “Kedatangan Deep Purple memang seperti sebuah revolusi yang membuka mata band-band Indonesia,” tutur Donny.

.

(ki-ka) Tovic Raharja (Direktur Utama Rajawali Indonesia), Anas Alimi (Founder Rajawali Indonesia), Gibran Rakabuming Raka (Walikota Solo) dan Aris Setiyawan (Direktur Kepatuhan & Manajemen Risiko Bank Jateng)

.

Tahun ini menandai titik temu untuk kedua kalinya, antara Deep Purple dan God Bless sebagai band pembuka. Adalah Rajawali Indonesia yang menginisiasi pertunjukan tersebut. Bring back the 1975 vibes!

​​“Dengan tampilnya God Bless bersama sebagai pembuka Deep Purple, ini akan seperti konser reuni 48 tahun silam, mereka pernah satu panggung bersama saat pertama kalinya Deep Purple tampil di Indonesia,” ucap Anas Alimi selaku Founder Rajawali Indonesia.

Deep Purple kali ini akan menghadirkan triumviraat personel MK II: Ian Gillan (vokal), Roger Glover (bass) dan Ian Paice. Ketiganya akan didampingi oleh Don Airey (kibord) dan Simon McBride, gitaris band Sweet Savage yang masuk mengisi kekosongan di lini gitar setelah Steve Morse mengundurkan diri secara permanen pada 23 Juli 2022 lalu.

Sedangkan God Bless yang tahun ini tepat berusia 50 tahun, juga punya trio andalan yang kokoh sejak awal: Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar) dan Donny Fattah (bass), plus kawalan ‘sekondan’ mereka sejak lama, kibordis Abadi Soesman dan dramer Fajar Satritama.

Setelah melewati masa lima dekade, sudah banyak yang berubah dari dua legenda hidup ini. Album rekaman makin bertambah. Personel datang dan pergi. Tak sedikit pula personel yang sudah meninggal. Satu yang tak berubah: dua band ini tetap konsisten mengibarkan musik rock sejak awal karir. Tak berganti, tak berkurang sedikit pun. Meski sudah veteran, keduanya masih tetap aktif berkarya dan menggelar konser. Old rockers, indeed, never die!

Deep Purple merilis album “Whoosh!” pada 2020, diikuti album cover “Turning to Crime” setahun kemudian. Sedangkan God Bless setelah merilis album “Live at Aquarius Studio” pada 2019, lalu melahirkan tiga lagu rilisan tunggal, yakni “Untuk Indonesiaku” (2020), “Mulai Hari Ini” (2021) dan “Semesta” (2022).

Edutorium UMS sendiri dipilih sebagai lokasi konser karena memenuhi syarat untuk sebuah eksekusi konser akbar dan bersejarah. Mampu menampung maksimal 10.000 penonton dengan kapasitas parkir sebanyak lebih dari 300 mobil di lantai dasar dan 800 mobil di halaman gedung.

“Lokasi ini tentunya sudah menjadi concern kami dalam menjalankan acara konser di dalam gedung. Berbekal beberapa kegiatan akbar juga pernah dilakukan di tempat ini, tentunya dapat menjadi pilihan yang memadai untuk menyelenggarakan acara konser Deep Purple ini,” tutur Ernanto Setiawan selaku Project Manager “Deep Purple – World Tour 2023”.

Penjualan tiketnya sendiri akan terbagi menjadi lima kategori dengan dua periode waktu penjualan. Untuk tahapan pra jual (pre sale), dimulai besok (Minggu), 15 Januari 2023. Harga tiket pra jual dibanderol di angka Rp. 750.000 (Festival/berdiri), Rp. 500.000 (Green B/duduk) dan Rp. 1.000.000 (Green A/duduk). Sementara untuk kategori Regular yang mulai dijual pada 17 Januari, harganya berubah menjadi Rp. 1.000.000 (Festival/berdiri), Rp. 750.000 (Green B/duduk) dan Rp. 1.500.000 (Green A/duduk). Sementara jika baru membeli tiket di hari pertunjukan (on the spot), maka harganya akan meningkat menjadi Rp. 1.500.000 (Festival/berdiri), Rp. 1.000.000 (Green B/duduk) dan Rp. 2.000.000 (Green A/duduk). Keseluruhan harga belum termasuk pajak hiburan dan biaya administrasi. (*/MK03)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *