Ketika MANUSIA AKSARA Bereksplorasi di “Jalur Alternatif”

Selang sebulan sejak melepas “Semesta Semesta”, karya kolaborasinya dengan penyanyi Savira Razak, unit modern rock asal Jakarta ini langsung tancap gas lagi lewat karya baru. Sebuah lagu rilisan lepas bertajuk “Jalur Alternatif”. Di liriknya, Manusia Aksara mengingatkan bahwa dalam situasi yang sulit, manusia terkadang lupa bahwa setiap masalah itu ada solusi penyelesaiannya. 

“Saya melihat banyak orang di sekitar saya yang memiliki masalah, tapi hanya berkutat di masalah itu sendiri. Bukan pada solusinya. Bahkan, saya sendiri pun kerap lupa,” tutur vokalis Hafizh Weda yang menulis lirik “Jalur Alternatif”.

Dibanding lagu-lagu dari album pertama Manusia Aksara, “Selamat Datang di Era Penuh Kejutan” yang dirilis pada November 2022, kali ini nuansa musik yang diterapkan di “Jalur Alternatif” terbilang cukup berbeda. Penggunaan elemen synthesizer dan ambience lebih mengental. Sangat mendominasi. Ketika ditulis oleh Weda pertama kali, tepatnya pada 2016 silam, corak musiknya masih cenderung berada di jalur alternatif yang berhawa grunge. Rupanya, karena sang vokalis saat itu sangat menyukai album “Jalur Alternatif” (2016) milik Marcello ‘Ello’ Tahitoe.

“Sebuah fakta harus saya ungkapkan, bahwa lagu ini terinspirasi dari album tersebut. Pada saat itu saya sedang suka-sukanya mendengarkannya. Cukup terobsesi dengan gaya Marcello Tahitoe,” seru Weda kepada MUSIKERAS, terus-terang.

.

.

Namun kemudian, ia lebih memperdalam kreativitasnya, bersama Fathur Husain, mantan dramernya yang senang mengulik lagu-lagu milik Foo Fighters. Tapi, itu terjadi di 2016. Nah di 2023, Weda lantas berdiskusi dengan Romano Jaya yang kembali dipercaya berada di kursi produser Manusia Aksara saat ini. Akhirnya, diputuskan untuk lebih mengedepankan penggunaan synthesizer sebagai ujung tombak musiknya.

“Kami mencoba ‘lari’ ke (band) Bring Me The Horizon, tepatnya di lagu yang ‘Kingslayer’. Mengingat kami punya kibordis yang bisa kami repotin, hahaha. Semua demi eksplorasi kami. Jadi, nuansa modernnya kami ambil dari ‘Kingslayer’. Beda kan?” Weda meyakinkan.

“Setelah banyak berdiskusi soal referensi, akhirnya, saya mengarahkan lagu ‘Jalur Alternatif’ menjadi seperti apa yang kalian dengar sekarang. Memang PR-nya banyak di Sonrus (Saroinsong), si kibordis. Tapi, semua bisa dikejar dengan baik,” urai Romano menimpali.

Setelah “Jalur Alternatif” yang direkam di Cilandak Stackhouse, Jakarta, Manusia Aksara yang juga diperkuat oleh bassis Jowel Tirta (bass) dan gitaris Hendrie Leite sejauh ini belum memikirkan arah untuk menggarap album mini atau pun album penuh. Pola pikir yang mereka tanamkan sekerang adalah berusaha untuk terus produktif, dengan terus merilis lagu baru.

“Kami selalu menargetkan 1-2 lagu dalam sebulan. Bahkan, ada lagu-lagu dari album pertama kami yang ingin kami aransemen ulang dengan nuansa yang lebih intim, dan dengan strategi featuring. Selain itu, pengennya sih manggung… hahaha. Tapi ya… kami nikmatin aja prosesnya,” ujar Jowel Tirta optimistis.

Untuk mempromosikan “Jalur Alternatif”, Manusia Aksara menyertakan video klip berkonsep sederhana untuk mengundang perhatian. Disuguhkan dengan konsep vertikal, hal yang sebenarnya tidak baru di industri musik, namun merupakan sebuah konsep yang justru belum pernah dilakukan Manusia Aksara sebelumnya.

Tanpa perlu basa-basi lagi, langsung geber “Jalur Alternatif” via berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube, Resso dan Langit Musik. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.