Lethe melepas ainyal agresi pertamanya, yang diletupkan pada 24 November 2023. Bertajuk “Syair Api”, yang dimuntahkan lewat berondongan riff berkontur seperti gergaji, yang dipadukan ketukan dram rapat serta teriakan parau yang mencecar tanpa ampun. Lagu rilisan tunggal geberan unit death metal asal Bandung, Jawa Barat tersebut sekaligus menjadi nomor pembuka menuju pelampiasan album mini (EP) berjudul “Endless War” yang bakal dikobarkan awal tahun depan.
Band yang digerakkan formasi Septian ‘Tian’ Nugraha (gitar/vokal), Wildan Zulkarnain (gitar), Aldi Fathurahman (bass) dan Viqri Maulana (dram) ini meramu “Syair Api” sebagai representasi dari konsep musik mereka secara keseluruhan. Kontur suara ala Swedish atau Stockholm death metal yang kasar dikombinasikan dengan elemen black metal ala Watain, Behemoth dan Dimmu Borgir.
“Penggabungan dengan musik black metal, karena kami memang ingin memberikan sentuhan yang terdengar lebih menyeramkan dan mencekam di lagu kami, tetapi dengan balutan nada-nada yang terdengar lebih melodius,” ujar Tian kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di Lethe.
Bagi Tian, Swedish death metal dipilih sebagai poros utama musik Lethe lantaran pada dasarnya ia memang menyukai ‘genre’ musik tersebut. Antara lain, referensinya mengacu ke band-band seperti Entombed, Dismember hingga Nihilist.
“Yang menarik dari genre ini, kalau untuk saya pribadi, karena terdengar lebih gahar konsep musiknya. Terus juga – koreksi kalau saya salah – kayaknya di Indonesia belum banyak band yang konsep musiknya secara keseluruhan menjadikan Swedish death metal sebagai entitas musiknya.”
Sementara dari sisi lirik, “Syair Api” mengungkap tentang luapan kemarahan mendalam dari seseorang ketika dihadapkan pada absurditas hidup, seperti dikhianati, direndahkan dan dikucilkan oleh lingkungan sekitar. “Intinya lagu ini bercerita tentang interpretasi kemarahan, sebagai semacam bahan bakar untuk mencapai titik bangkit setelah direndahkan dunia,” tutur Tian yang menulis liriknya.
Proses kreatif penggarapan “Syair Api” serta materi EP “Endless War” secara keseluruhan kebanyakan diawali dari ide-ide Tian, yang memulainya dengan membuat materi dari riff gitar terlebih dahulu, yang kemudian diaransemen bersama personel lainnya di studio.
Ada tiga lagu dari EP, yakni “Syair Api”, “Endless War” dan “Dabbat” yang menerapkan tahapan itu. Sementara satu lagu lainnya, berjudul “Modern Holocaust” diciptakan oleh gitaris Wildan. Hanya bedanya, materi “Modern Holocaust” yang dibuat Wildan tersebut sudah matang. Sudah ada instrumen gitar, bass dan dram sehingga tidak terlalu banyak membutuhkan aransemen.
Keseluruhan proses rekaman materi “Endless War” dieksekusi di studio Bandung Creative Hub (BCH) . Sementara untuk tahapan mixing dan mastering dipercayakan kepada Bimantara Septianto dari Tunnel Vision Audio. Semuanya berjalan lancar, tanpa ada kendala berarti. Satu-satunya hal yang bisa dibilang menjadi penghambat adalah kesibukan para personelnya. “Karena tiga dari empat personel Lethe itu sudah bekerja, termasuk saya. Yang satu lagi juga masih kuliah. Jadi, tantangan terbesarnya adalah membagi waktu bermusik dengan bekerja dan kuliah,” ujar Tian.
Embrio kelahiran Lethe sendiri bisa dibilang bermula sejak pertengahan 2019, yang digagas oleh bassis Aldi dan dramer Viqri. Mereka membawakan lagu-lagu thrash metal milik band-band dunia seperti Slayer, Power Trip dan Megadeth. Tapi, karena terbentur kesibukan masing-masing, akhirnya proyek tersebut terbengkalai. Namun singkat cerita, sekitar pertengahan 2022, Aldi yang kebetulan adalah adik kandung Tian mengajak untuk membentuk band bersama Viqri. Mereka sepakat menerapkan konsep Swedish death metal. Dan terhitung sejak November 2022, ketiganya pun mulai membuat materi lagu dan memainkannya di studio. Pada Desember 2022, Wildan bergabung melengkapi formasi Lethe.
Adalah salah satu lagu dari band Dark Tranquillity yang menjadi inspirasi pemilihan nama band ini. Tepatnya dari lagu berjudul “Lethe” yang termuat di “The Gallery” (1995), album studio kedua band metal Swedia tersebut. Lethe adalah sebuah sungai dalam mitologi Yunani, yang artinya sungai kelalaian atau sungai kelupaan.
“Serapan kata kelalaian dan kelupaan itulah yang kami ambil. Karena itu adalah dua sifat umum yang dimiliki manusia. Dan kami sebagai manusia pun mengakui bahwa kami sering kali lalai dan lupa dalam banyak hal.” (mdy/MK01)
.
1 comment