Anti Major Society sedang memanaskan “Ideological Subversion”, album penuh debut mereka, yang rencananya akan diletupkan pada September 2024 ini.
Tapi sebagai nomor ‘penggoda’, pejuang grindcore asal Jakarta bentukan 2023 ini melepas sepasang lagu rilisan tunggal bertajuk “Marah” dan “Lawan Mereka” di berbagai platform digital pada 3 Mei 2024 lalu.
Lagu tersebut, merupakan luapan kemarahan atas kegagalan sistem dunia dalam menegakan ‘arti kemanusiaan’, dimana belakangan banyak terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Baik dalam skala nasional maupun internasional.
Makanya, bait-bait lirik “Marah” dan “Lawan Mereka” dapat diinterpretasikan sebagai bentuk protes kepada para pelaku kejahatan hak asasi dan menyuarakan keberpihakan terhadap para korban.
Memacu Adrenalin
Nah, untuk menyuarakan buncahan kekesalan dan ketidakpuasan itu, Anti Major Society yang diprovokasikan oleh vokalis Muslim Abdul Khair (Ivan Crusty), gitaris Jullian Rivaldy (Jeje) dan dramer Eko Prasetyo (Tyo) ini menggeber konsep musik grindcore dengan balutan blackened hardcore serta D-beat yang agresif.
Aransemen musiknya cenderung gelap dengan sentuhan notasi diminished khas black metal, yang dibenturkan dengan agresivitas grindcore. Sangat memacu adrenalin bagi siapa pun yang mendengarkan.
“Kami bertiga memiliki latar belakang musik yang cukup berbeda satu sama lain,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan alasan di balik penentuan racikan musiknya.
“Dengan cara meleburkan beberapa genre dari latar belakang yang berbeda inilah yang menurut kami akan menjadi sebuah satu kesatuan serta pembeda dari band grindcore lain yang ada, dan ini akan menjadi poin penting dalam karir musik kami karena kami berbeda.”
Sebanyak 10 amunisi bengis yang akan menyesaki “Ideological Subversion”, termasuk “Marah” dan “Lawan Mereka”, dibangun dan dirakit dari berbagai referensi.
Yang paling utama, Anti Major Society menyebut band-band seperti Hexis (Denmark), This Gift Is A Curse (Swedia) dan Trap Them (AS) sebagai sumber utama ide-ide garapannya.
“Sebenarnya masih ada beberapa (lainnya) seperti dari genre neo-crust dan D-beat, tetapi yang paling kami tekankan hanya dari tiga band tersebut, karena menurut kami mereka sangat mewakilkan apa yang kami ingin buat untuk Anti Major Society, mulai dari segi instrumen hingga vibes gelap dan cepat yang disajikan oleh tiga band itu.”
Ideological Subversion
Eksekusi rekaman “Marah” dan “Lawan Mereka” sendiri dilakukan di K Studio yang berlokasi di Jatiwaringin, Bekasi. Pihak Anti Major Society mengakui, proses penggarapan kedua lagu tersebut cukup sulit. Khususnya dari segi instrumentasi serta tempo yang diterapkan. Apalagi rekamannya dilakukan secara live.
“Kenapa kami memilih live? Karena kami ingin memiliki sound yang lebih organik ketimbang tracking per instrumen. Kami masih mengincar sound yang agak raw untuk menjaga keorganikan tersebut. Jadi pada saat take dibutuhkan waktu sekitar tiga jam.”
Untuk materi album “Ideological Subversion”, sejauh ini pihak Anti Major Society telah mengonfirmasi bahwa prosesnya sudah mencapai 90% dari keseluruhan tahap produksi. Tepatnya, saat ini sudah memasuki fase mixing dan mastering.
O ya, di antara 10 lagu yang termuat di album itu, Anti Major Society menyelipkan satu nomor daur ulang milik unit grindcore asal Tangerang, Tersanjung 13, sebagai bentuk apresiasi AMS kepada band tersebut. (aug/MK02)