The Jems akhirnya memuntahkan sebuah karya rekaman baru, yang diproduksi atas dasar keinginan sendiri. Sebuah album mini (EP) bertajuk “We Owe You Nothin” yang dirilis dalam format piringan hitam (vinyl) berdiameter 7 inci.

Usai meluncurkan sebuah album berjudul “Malah Petaka” pada 27 Mei 2022, band post-hardcore bentukan 2020 tersebut sempat terkesan menghilang dari radar pergaulan musik anak muda. Namun rupanya, diam-diam EP inilah yang mereka godok. Sebuah karya yang bebas dari tenggat waktu, lepas dari ekspektasi penggemar, dan merdeka dari pengaruh trend pasar maupun batasan genre.

“We Owe You Nothin” merupakan lampiasan ekspresi The Jems terhadap segala tagihan para penikmat karya mereka, yang telah lama menunggu. Sebuah jawaban untuk pertanyaan pendengar yang selalu menanyakan kapan band asal Tangerang tersebut mengeluarkan rilisan lagi. Tapi The Jems menganggap pertanyaan itu seperti sebuah ‘kewajiban’ atau ‘utang’.

“Kami merasa kayak, ‘orang kita ga punya utang ke kalian kok kalian nagih-nagih?’. Kami benar-benar merilis materi ini secara murni atas kemauan kami. Maka dari itu, materi di dalam mini album ini pun beragam dan tidak patuh kepada ekspektasi siapa pun. Dari dram band ala-ala lagu nasional sebagai opening, terus musik pop yang pakai broken piano di track duanya, lalu ada dua lagu hardcore setelahnya,” beber vokalis Alamsyah Dito Raharjo (Dito) panjang lebar.

Ia melanjutkan, The Jems kali ini benar-benar tidak pasang barikade terhadap genre apa pun di EP mereka tersebut. “Intinya, isi materi dari mini album ini tuh benar-benar apa yang kami mau, bebas dari deadline, bebas dari ekspektasi pendengar, merdeka dari trend pasar maupun batasan genre!”

Dalam proses penggarapan “We Owe You Nothin” yang sepenuhnya ditulis oleh Dito, ia bertutur bahwasanya secara nuansa, ia sangat terpengaruh oleh album “Instrument” dari band post-hardcore kawakan asal AS, yaitu Fugazi. 

“Kalo secara nuansa jujur gue nengok banget ke ‘instrument’-nya Fugazi. Keren aja gitu band ugal-ugalan, tapi nggak sembarangan,” ujar Dito lagi.

The Jems merekam dua lagu pada Side B dari vinyl “We Owe You Nothin” di X Studio, Bekasi. Termasuk untuk mixing dan mastering. Sementara dua lagu lainnya (di Side A) direkam, mixing serta mastering di Ruangan Berapi, Jakarta.

the jems
the jems

The Jems yang saat ini juga diperkuat oleh bassis Afrijal Aji Bayu (Ijal), dramer Anugrah Fikriyansah (Fikri) dan gitaris Kesit Mukti Aji (Kesid) menggarap “We Owe You Nothin” selama kurang lebih empat bulan. Dikonsep dengan tujuan utama sebagai pengenalan bentuk The Jems yang baru. Maklum, Fikri belum lama bergabung di band tersebut, menggantikan dramer sebelumnya

“Tapi emang kerasa banget sih, untuk materi-materi yang ngebut musiknya, di mini album ini bener-bener terasa nendang banget,” seru Dito lagi, mencoba meyakinkan. 

Dari sisi eksplorasi suara, The Jems kembali menghadirkan beberapa nuansa ke dalam karya-karyanya di “We Owe You Nothin”. Contohnya dalam dua materi ngebut yang berjudul “Kalian Memang Bodoh” serta “Bang, Bang, Bang!”, The Jems sepakat untuk menyatukan beberapa unsur seperti alur bass yang identik dengan musik reggae hingga solo gitar klasik yang kadang secara tidak sengaja dikeluarkan oleh Kesid.

Sedangkan di “Mars The Jems”, mereka mengeluarkan unsur musik marching band. Lagu tersebut juga didapuk sebagai lagu kebangsaan resmi milik The Jems. Lalu satu trek lagi diisi dengan “We Owe You Nothin”, sebuah lagu pop-depresif yang hanya berisikan alunan vokal ‘tak niat’ dari sang vokalis, plus dentingan broken piano yang dimainkan dengan skill seadanya.

The Jems sendiri juga menjual vinyl “We Owe You Nothin” tanpa mengambil profit sama sekali. Tujuan mereka, agar kolega-kolega The Jems masih bisa membeli dengan harga terjangkau. Bahkan sempat ada beberapa label yang menawari akan merilisnya, namun harga yang ditawarkan terlalu mahal akhirnya mereka memutuskan untul merilis sendiri.

“We Owe You Nothin” versi vinyl 7 inci (clear) resmi diperjualbelikan sejak 20 April 2024 lalu, dengan bandrolan harga Rp.235.000. 

“Biaya yang kami keluarkan untuk memproduksi vinyl ini sama dengan harga yang kami jual, karena niat kami dalam merilis vinyl ini bukan untuk meraih keuntungan, tapi untuk menyebarluaskan materi yang kami ciptakan, serta memberikan colectible items kepada para pendengar,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, kembali menegaskan niatnya.

Sejauh ini, atau hingga periode pre-order berakhir pada 30 April lalu, The Jems berhasil menjual hampir 50 keping vinyl, yang tersebar dari beberapa negara seperti Jepang, Selandia Baru, Malaysia, sampai Singapura.”

Lalu mengapa The Jems nekat merilis album format vinyl? Ini alasan Dito: “Ngerilis sebuah karya dalam format vinyl kayaknya suatu hal yang wajib lo rasain sih di dalam sekali hidup lo!” (aug/MK02)