Kesempurnaan, hampir selalu menjadi target utama setiap musisi dalam menciptakan karya. Tapi tidak bagi unit hardcore asal Tangerang yang terbentuk semenjak 2020 lalu ini. Khususnya di karya rekaman album terbaru The Jems yang bertajuk “Malah Petaka”. Kali ini, mereka malah mencari ‘petaka’.

Karena saat mengeksekusi rekaman delapan lagu dalam album tersebut, The Jems yang diperkuat formasi Alamsyah ‘Dito’ Raharjo (vokal), Afrijal ‘Ijal’ Aji (bass), Kesid Mukti (gitar) dan Muhammad ‘Didit’ Radit (dram) melakukannya secara live, dan dirampungkan hanya dalam waktu dua jam! Jadi sangat memungkinkan terjadi kesalahan dalam prosesnya. 

“Kesulitannya tentu terletak di saat kami melakukan kesalahan dan harus mengulang dari awal. Tidak bisa ditambal atau di-cut, lalu melanjutkan ke rekaman selanjutnya. Justru menurut kami, live recording dapat memunculkan cacat-cacat manusia yang akan hadir dalam lagu, dan hal tersebutlah yang kami cari. Element of surprise lebih mudah tercipta,” seru The Jems kepada MUSIKERAS, meyakinkan alasannya.

Namun di balik proses perekaman yang ngebut, terdapat proses pematangan album serta materi di dalamnya yang memakan waktu sekitar hampir lima bulan. Mengundang kawan ke rumah mereka, atau membuat kegaduhan di kamar sewaan dengan raungan distorsi dan bebunyian dram menjadi makanan sehari-hari para personel The Jems saat masa pematangan materi album.

.

.

“Malah Petaka” sendiri disemburkan dengan tempo ugal-ugalan serta lirik yang sarat permasalahan kaum menengah ke bawah. Tersirat dari judul-judul lagunya, seperti “What Are U Talkin’ About”, “My Self And I”, “Halah!”, “Malah Petaka”, “Kau Salah”, “Piston”, “Sok Jagoan” hingga ke lagu yang pertama kali mereka buat, “Trash!”. 

“‘Trash!’ dan “Halah!’ menjadi lagu jagoan kami, karena keduanya merupakan cerita dari lingkungan kami sehari-hari, yang akhirnya dapat diabadikan serta dikemas menjadi lagu.”

Sementara dari sisi konsep musikal, keseluruhan lagu digeber The Jems dalam balutan bermacam genre, mulai dari hardcore punk, post-hardcore hingga hip-hop punk. Tapi garis merahnya, warna hardcore era 80-an sangat kental mendominasi, yang dicecar dalam tempo pemicu keringat.

Bila bicara musik, The Jems secara spesifik menyebut tiga band hardcore asal AS ini, yakni Fugazi, Minor Threat serta Q, menjadi kiblat utama mereka. Rata-rata, musik ketiganya bertempo ugal-ugalan serta sarat emosi. “Rasanya senang bila bisa manggung lagu-lagu seperti itu, lalu bertukar keringat serta energi bersama penonton. Sebenarnya kami lebih senang disebut (band) post-hardcore, tapi kami sejujur-jujurnya nggak secanggih Fugazi, atau pun Hüsker Dü. Tapi ya sudahlah, toh kami masih bisa berpura-pura post-hardcore.”

Seluruh trek berisik di “Malah Petaka” sudah bisa dilantangkan ke arah kuping sejak 27 Mei 2022 lalu. Dan rencananya, The Jems juga akan merilis versi fisiknya, dan menjajalnya di berbagai kesempatan manggung. (aug/MK02)