Proletar sedang menyiapkan sejumlah amunisi tajam untuk melancarkan agresinya di 2025 ini.
Pertama, unit grindcore asal Jakarta ini kini diperkuat formasi baru, yakni gitaris Sofwatul ‘Ipuletar’ Abidin, dramer/screamer Muh. Reza ‘Levoy’ Pahlevi serta vokalis barunya, Adam Fauzan (eks Grausig).
Kedua, trio ini telah mencanangkan bakal bertandang ke beberapa kota di Jawa Tengah untuk sebuah rankaian tur, mengunjungi Solo, Klaten dan Yogyakarta.
Tur Jawa Tengah tersebut akan berlangsung pada 17 – 19 Januari ini, yang mereka sebut menjadi sebuah awalan bagi Proletar untuk mengarungi tahun 2025 dengan berbagai agenda lain yang telah mereka persiapkan. Juga tentunya, sekaligus untuk memperkenalkan formasi terbarunya.
Selama 25 tahun lebih malang melintang di skena ‘bawah tanah’, dengan banyaknya rilisan mulai dari album, album mini (EP) serta berbagai album berbagi (split) dengan band sejawat, seakan menjadi bahan bakar agar ‘mesin gerinda’ ini tetep menyala.
Nah, rencana yang ketiga, selain gelaran tur, Proletar juga tengah menyiapkan beberapa proyek album split dan juga merekam sebuah EP.
“Sekarang masih dalam proses rekaman lagu-lagu baru dengan vokalis baru. Pertengahan tahun 2025 ini juga Proletar sedang mempersiapkan tur ke East Malaysia (Borneo),” seru pihak band kepada MUSIKERAS, memberi bocoran.
Khusus proyek split, kubu Proletar belum bisa mengungkap informasi lebih detail karena masih menunggu konfirmasi dari beberapa band yang rencana dilibatkan. Tapi untuk EP, mereka memastikan sedang dalam proses rekaman.
“Untuk judulnya belum ada. Belum bisa ngasih detailnya juga. Perkiraan pertengahan tahun 2025 ini bisa selesai semua,” cetus mereka menjanjikan.
Sejak meluncurkan debut album penuhnya, “Rakyat Jelata” (2001), band bentukan 1999 silam ini terus aktif merilis musiknya lewat beberapa EP, album split serta kompilasi, yang jumlah totalnya telah melebihi 20 rilisan.
Pada 25 Desember 2021, mereka merilis album penuh berjudul “Depressive Disorder” yang memuat 22 amunisi berhulu ledak tinggi. Di album ini, Proletar cenderung menggeber grindcore yang sedikit banyak terpengaruh mantra-mantra dari tanah Cekoslowakia (kini bernama Republik Ceko) atau Belgia. Plus tambahan eksplorasi di sana-sini.
“Kami lebih ngulik di album ini. Kami banyak mengeksplorasi dari sisi sound, gitar dan terutama vokal,” seru Levoy, mengungkapkan prosesnya kepada MUSIKERAS saat itu. (mdy/MK01)