The Raws telah menyerukan “Dansa Porak Poranda”, sebuah lagu rilisan tunggal terbaru, yang mereka sebut seperti cermin yang memantulkan keputusasaan hidup di Jakarta. Kota dengan kontras sosial yang begitu kentara.
Melalui cecaran lirik yang jujur dan penuh pertanyaan, band ini mengajak pendengarnya untuk menyelami keresahan yang mendalam—kegelisahan yang mendera mereka yang terpinggirkan oleh kehidupan metropolitan yang serba cepat.
Dalam konteks lagu ini, kata ‘dansa’ bukanlah ajakan untuk berpesta. Melainkan sebagai simbol dari sebuah perlawanan, atau mungkin cara untuk bertahan di tengah kekacauan. Dalam dunia dimana segalanya tampak porak poranda.
Mereka yang ada di lapisan bawah kota tetap ‘dansa’ — bukan untuk merayakan, tetapi untuk bertahan hidup. Ini adalah perlawanan terhadap ketidakpastian yang membayangi kehidupan mereka sehari-hari, sebuah cara untuk terus bergerak meski di antara reruntuhan harapan.
Lirik lagu ini juga menggambarkan kehidupan keras mereka yang terperangkap dalam rutinitas tanpa arah. Dalam bagian ‘Berdansa di antara reruntuhan Jakarta’, The Raws tidak hanya menggambarkan kota ini sebagai tempat penuh kegemilangan, tetapi juga sebagai tempat dimana mimpi-mimpi sering kali kandas.
“Apakah kita dalam keresahan yang sama?” Sebuah pertanyaan yang diulang, seakan menyiratkan kesatuan dalam penderitaan dan perjuangan yang dirasakan bersama oleh mereka yang terpinggirkan.
Secara tematik, lagu ini melanjutkan narasi yang telah dibangun The Raws dalam “Taklukkan Djakarta” (2012), salah satu lagu dari album “Transisi”.
Keduanya berbicara tentang ketimpangan sosial di Jakarta, namun dengan pendekatan yang lebih gelap dan lebih mendalam, mengeksplorasi sisi kota yang jarang terlihat oleh mata publik. Jakarta, dengan segala kemewahannya, tetap meninggalkan sebagian besar warganya dalam keterbatasan, terjebak dalam siklus rutinitas yang penuh ketidakpastian.
Lewat “Dansa Porak Poranda”, The Raws juga sekaligus menandai momen penting dengan diperkenalkannya personel baru di formasi mereka. Kini ada Muhammad ‘Crocodile’ Ikbal di lini vokal dan Azharama ‘Rama’ Dhiantika di balik perangkat dram.
Keduanya melengkapi kekuatan formasi unit Megapollutant Jakarta Pogo Punk Squadron ini, yang dijaga oleh Agus ‘Jaws’ Priyanto (gitar/vokal) dan Ariyo ‘Ganx’ Hadi Chandra (bass).
Semangat Crocodile
Proses pembuatan “Dansa Porak Poranda” sendiri berlangsung selama sebulan. Tepatnya dimulai pada 11 November hingga 27 Desember 2024 lalu. Diawali kegiatan workshop, lalu latihan, rekaman hingga pemolesan mixing dan mastering.
Pihak The Raws menjelaskan kepada MUSIKERAS, bahwa walaupun ada perubahan formasi di tubuh band ini, proses produksi berjalan sangat lancar karena mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Jaws sebagai aranjer sekaligus komposer sebelumnya pernah tergabung di band Total Confused bersama Rama pada periode 2003 – 2006. Rama juga, di luar itu, pernah mengisi tiga trek lagu di album mini (EP) “Contra Reality” (2004).
“Jadi tidak ada kesulitan untuk beradaptasi selama pembuatan lagu,” seru mereka meyakinkan.
Begitu juga proses penyesuaian dengan karakter Crocodile sebagai vokalis pendatang baru. Sementara Ganx sendiri tinggal menyesuaikan alur bassnya sesuai dengan yang disepakati.
“Dengan semangat baru dari Crocodile yang memang selalu menggebu dan juga full dress punk otomatis nuansa spirit lagu pun bertambah. Dan sedikit menyesuaikan gaya vokal dari Crocodile yang cenderung mempunyai karakter The Raws era-era awal. Kami membuat komposisi musik menjadi lebih sederhana, El patron balutan tiga kord kembali muncul di kepala!”
Demi mencapai pergeseran konsep itu, para personel The Raws pun kembali menggali referensi lama. Mendengarkan lagi materi-materi dari The Partisan (Wales), Special Duties (Inggris), Oxymoron (Jerman) dan Submachine, salah satu band street pogo punk dari Pittsburgh, AS era awal 90-an.
Jadi bisa dibilang, setelah bereksplorasi cukup luas secara musikal di album “Transisi”, kini di “Dansa Porak Poranda” The Raws seperti kembali ke setelan pabrik, dengan sound Pogo Punk 90-an.

Taklukkan Djakarta
The Raws mulai menggeliat pada 1998 silam di Jakarta Timur, dan sempat menggunakan nama Contradict setahun awal kariernya. Rentang waktu antara 2000 hingga 2006 menjadi periode yang sangat produktif bagi band ini.
Selama periode tersebut, mereka meluncurkan delapan album fisik, termasuk tiga album kompilasi, yakni “Still One Still Proud Vol. 3” (2000), “A Tribute To Ramones” (2004) dan “Total Fuckin’ Pogo” (2005).
Mereka juga merilis tiga album split, di antaranya “Proud To Be Punks” (2001) bersama The Innocents, Brigade Of Bridge dan Mohican Freaks, lalu “The Raws … Up Yours / Septictank Life Goes On…” (2002) serta “Unspoken Action Vol. 1”, sebuah album 8-way split bersama Deadendwish, Spiky Mcky, Government Shit, Extra Pampers, Critic Crust, Total Confused, dan Debu Asmara.
Selain itu, mereka merilis satu EP, “Contra Reality” (2003) serta album “Here Come The Suburban Rockers, The Spirit Is Far From Over” (2006).
Setelah periode tersebut, The Raws hampir tidak lagi meluncurkan album fisik, meskipun beberapa rilisan lepas muncul di media sosial, seperti “Taklukkan Djakarta” (2012), “Lingkaran Setan Rutinitas” (2017) dan “Enter Black Hole” (2017).
Setelah 15 tahun absen dari rilisan album penuh, The Raws akhirnya merilis album “Transisi” yang diedarkan dalam format kaset pada 21 Maret 2021 via Toxic Noise Records.
Lagu “Dansa Porak Poranda” sendiri dapat didengarkan di kanal Bandcamp Toxic Noise Records. (mdy/MK01)