Tombstone bangkit kembali dari kegelapan dengan menghembuskan album penuh ketiga mereka yang berjudul “The Philosophy of Eternal Recurrence”.
Album ini, sekaligus menjadi penutup yang kelam dari trilogi yang mereka sebut sebagai ‘Unholy Trilogy’. Sebelumnya, duo black metal asal Jakarta ini telah memperdengarkan album “The Awakening of Darkness” (12 November 2020) dan “To The Existence of Light” (1 Maret 2023).
Tombstone yang digerakkan Ardiansyah (Thorner) yang berperan sebagai gitaris, kibordis dan bassis serta vokalis dan gitaris Haikal Ramani (Nirrojimm) ini menonjolkan formula black metal gelombang kedua di konsep musik “The Philosophy of Eternal Recurrence”.
Mereka tetap konsisten menghadirkan riff tajam, atmosfer mencekam serta juga estetika. Tak hanya itu, band yang antara lain terpengaruh monster black metal macam Darkthrone, Burzum dan Mayhem ini juga bereksperimen secara musikal dalam album terbaru.
Antara lain terlihat dalam lagu seperti “The Mist”, yang menyuguhkan perpaduan Depressive Suicidal Black Metal (DSBM) dan doom metal sebagai kejutan di tengah perjalanan album.
Dari delapan komposisi lagu yang disuguhkan Tombstone, mereka juga menyebut “The Mist” sebagai lagu yang paling unik.
“Karena terinspirasi dari sub genre metal lain seperti doom dan DSBM. Sejak album ini dirilis, banyak penggemar suka dengan lagu ini,” seru Tombstone kepada MUSIKERAS, meyakinkan.
Tapi secara keseluruhan, tema musik yang diterapkan di album baru tetap kencang dan gelap. Mereka tak hanya mempertahankan ‘second wave black metal‘ dalam musikalitasnya. Namun juga memadukan berbagai jenis musik lain seperti doom metal, sludge hingga DSBM.
“Namun, kami membebaskan para pendengar menafsirkan sendiri cerita di balik setiap album Tombstone.”

“The Philosophy of Eternal Recurrence” sendiri, sejak awal, memang sudah direncanakan akan menjadi bagian akhir dari trilogi album Tombstone. Beberapa materi lagu sudah disiapkan sejak 2022 lalu.
Secara keseluruhan, album terbaru serta dua album sebelumnya direkam dan diproduksi Tombstone di RAMZ Studio. Sementara untuk tahapan penataan suara (mixing) dan pelarasan suara (mastering) dipercayakan kepada Abian Ramzi.
Sama halnya dua album sebelumnya, “The Philosophy of Eternal Recurrence” juga bernilai filosofis. Album ketiga ini bahkan terinspirasi dari teori filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, yang yakin bahwa kehidupan hanya ‘eternal recurrence’ yang akan berlangsung berulang.
“Hal ini menjadi pengingat bahwa manusia harus sadar untuk bersikap selama masa hidupnya. Kedua album sebelumnya juga memiliki nilai filosofi sebagai perjalanan bermusik sejak dulu hingga kini.”
Tombstone dibentuk pada 2005 silam di Jakarta, dan memulai perjalanannya di kawasan ‘bawah tanah’, manggung tanpa rilisan resmi dan hanya mengunggah materi demo di situs MySpace (yang kini sudah tiada).
Setelah diiringi mundurnya para personel, dan hiatus panjang, duo inti Ardi dan Haikal bangkit kembali pada 2020. Mereka lantas merilis “The Awakening of Darkness” di tengah pandemi global via Deathwish Records.
Sementara album kedua mereka, “To The Existence of Light” diedarkan oleh sebuah label independen asal Australia, Gutter Prince Cabal.
“The Philosophy of Eternal Recurrence” sendiri belum terikat dengan label mana pun, namun sudah dirilis secara independen sejak 19 April 2025 lalu melalui kanal Bandcamp dan YouTube. (mdy/MK01)