Glömt menyebut EP terbarunya yang bertajuk “Column of the Light” sebagai lahirnya cahaya dalam gelap malam terdalam.
Band bentukan 2021 asal Tanah Panjalu, Kediri, Jawa Timur ini menggelontorkan empat komposisi intens yang membentangkan lanskap sonik dan kontemplasi antara kelahiran individu menuju ujung pada kematian serta kehidupan setelah mati dalam ruang tanpa batas.
EP tersebut, mereka sebut sebagai penanda fase spiritual dalam perjalanan reruntuhan eksistensi manusia. Juga, menandai fase baru dalam eksplorasi musikal Glömt.
Vokalis Muhammad Abdul Gofur (Gof), gitaris Bayu Sofyan (Bay) dan Dodo Okky (Dod), bassis Karel Sinatra (Carl) dan dramer Onne Zatus kali ini menggeber riff-riff dingin yang kelam dalam ambient kehampaan. Juga, kemarahan yang membentuk atmosfer mencekam.
Kental akan terapan konsep kombinasi black metal dan crust punk. Karena menurut tuturan pihak Glömt kepada MUSIKERAS, karena kedua elemen tersebut cukup merepresentasikan dari apa yang mereka gemari dalam spirit dan attitude para personel.
Glömt terinspirasi oleh beberapa band gelombang awal dalam kultur black metal seperti Mayhem, Hellhammer, Dark Throne serta gelombang awal atau pionir crust punk seperti Discharge, Amebix dan Crass.
“Dan entitas black metal (juga) cukup merepresentasikan atmosfer mencekam dan kegelapan, namun dari sisi lain kami memang tumbuh kembang dan skena HC Punk yang selama lebih dari dua dekade kami imani,” cetus mereka.
“Sehingga dalam bermusik, kami tuangkan menjadi sesuatu yang cukup kami harapkan bisa blending antara kedua elemen ini.”
Hasil eksplorasi itu, sedikit banyak terwakili di komposisi “Infinity Graveyard / Sangkan Paran”, yang mereka sebut sebagai pengalaman baru.
“Karena dari materi sebelumnya, kami tidak pernah memainkan alat musik gitar akustik,” seru mereka beralasan.
Pengiring Obituari
“Column of the Light” memuat empat trek yang saling berkaitan, mengeksplorasi tema spiritualis tentang hadirnya pribadi manusia dalam siklus kehidupan.
Dimulai dari awal kelahiran, takdir dalam menjalankan hidup yang penuh penderitaan (di lagu “Fatum Brutum Amor Fati”) yang merupakan kutipan dari Friedrich Nietzsche, serta kepastian kematian di “Memento Mori” serta alam setelah kematian atau kembalinya dalam kehidupan abadi yang tiada batas.
Dua trek dalam EP ini berformat instrumental, yang terbilang cukup melankolis dengan akustik alunan dawai gitar pengiring obituari dan elegi kematian.
Keseluruhan lirik dalam EP “Column of the Light” sendiri merangkum pencarian makna dalam kegelapan yang tak terelakkan.
Sementara dalam terapan musiknya, Glömt mempertahankan karakter sonik black metal dan punk yang mentah namun penuh kedalaman emosional.
Salah satunya dihadirkan lewat lagu “Fatum Brutum Amor Fati”, dimana mereka menghadirkan vokalis tamu, Ebby dari unit punk Bandung, Kontrasosial yang cukup manambah dinamika kemarahan.
Trek ini mempresentasikan pertarungan dan perlawanan melawan takdir. Juga menjadi menjadi pernyataan tegas tentang visi perlawanan dalam kehidupan dengan penderitaan yang harus ditelan dan dilewati dalam hidup dengan balutan spektrum atmosfer black metal dan punk yang lebih luas.
Penggarapan rekaman “Column of the Light” sendiri dieksekusi Glömt sepanjang periode Juli hingga September 2024 lalu. Dilakukan di dua tempat, yakni di Hellroom studio milik gitaris mereka sendiri, serta di Volcanic Studio, Kediri. Kali ini milik Muhammad Avan, gitaris Demented Heart yang juga banyak membantu dalam proses produksi.
Selain tersedia di berbagai gerai digital streaming sejak 27 April 2025 lalu, EP berdurasi total 10 menit tersebut juga diedarkan via Slapbet Record, Singapura dalam format fisik piringan hitam berdiameter 7 inchi. (mdy/MK01)