TOTALDETH: Metal Berbau Klenik nan Mistis?

Band metal Totaldeth (biasa ditulis TÖTALDËTH) merilis karya rekaman debutnya, sebuah album mini (EP) berjudul “Ride to Die”.
totaldeth

Totaldeth meraungkan empat komposisi berotot, yang masing-masing berjudul “Trauma”, “Ave Sathanas”, “Twisted of Reality” dan “Ride to Die”.

Di muntahan liriknya, band bentukan akhir 2023 asal kota Bekasi ini bercerita tentang keresahan-keresahan yang dirasakan oleh para personelnya, mengenai beberapa hal yang terjadi di negara dan di sekitar mereka.

Topik-topik yang dibahas mencakup banyak hal dan isu yang menjadi sebuah kecemasan bagi masyarakat. Mulai dari pengkhianatan, ketidakadilan sosial, serta kecemasan-kecemasan sosial lainnya.

Di lagu “Trauma”, Totaldeth yang dihuni formasi vokalis Andika Burhan Lathifi (Birs), gitaris Raky Baresi Rosi, bassis Mikal Usama Ziyad dan dramer Muhammad Rizky Sandira menyuarakan makna traumatis seseorang sedari kecil.

“Kami ingin menyuarakan bahwa mental health itu penting,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Lalu ada “Ave Sathanas” yang bermakna bahwa Indonesia ini hampir seluruh budaya Nusantara selalu berbau klenik. Kemudian di lagu “Twisted of Reality” yang mengungkap kehidupan seseorang yang disetir oleh sebuah substansi, dan mendapat penolakan dari orang sekitarnya.

Terakhir, lagu “Ride to Die” itu sendiri, yang menggambarkan sebuah perjalanan hidup seseorang yang terpuruk dan mencoba untuk bangkit dan membuktikan ke semua orang bahwa dia mampu dan bisa.totaldeth

Satu keunikan Totaldeth, adalah racikan musik yang mereka terapkan untuk menyampaikan keresahan-keresahan tadi. Aransemennya berbeda dibanding band-band metal lainnya. Setidaknya begitu klaim mereka.

Formula musiknya mengambil inspirasi dari thrash metal, black metal, groove metal, alternative, hardcore hingga punk, sehingga membuat aransemen lagu-lagunya dalam dalam EP “Ride to Die” memiliki warnanya tersendiri. Salah satu contohnya di lagu “Ave Sathanas”.

“Kami membuat tema dengan nuansa black metal supaya tidak melupakan budaya Indonesia yang kental akan hal klenik dan mistis,” cetus mereka menegaskan.

Totaldeth yang berawal dari inisiatif Birs dan Mikal di kampus Esa Unggul cabang Harapan Indah, Bekasi memulai eksistensi resminya saat mendapatkan kesempatan pentas untuk pertama kalinya di akhir 2023.

Kemudian, usai melewati segala kesibukan, para personel berkumpul pada akhir 2024 untuk menggarap EP. Tepatnya dimulai pada Februari 2024 lalu.

O ya, nama Totaldeth sendiri terinspirasi rekan Birs dari band bernama Slither, yang mengusulkan nama ‘Totalmati’. Sang vokalis lantas mengubahnya ke Bahasa Inggris menjadi ‘totaldeath’.

“Tapi nama itu sudah terpakai. Karena influence saya dalam bermusik adalah Dave Mustaine (dari Megadeth), akhirnya kata ‘death’ saya ganti menjadi ‘deth’ saja supaya bisa membedakannya dengan band yang bernama hampir sama.”

EP “Ride to Die” sendiri sudah dirilis sejak 11 Maret 2025. (mdy/MK01)

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.