Kedua lagunya, “Dying Depths” dan “Us, Redefined” termuat dalam paket rilisan bertajuk “Beneath The Silence”, dimana Chained menggambarkan pergulatan batin manusia dalam menghadapi kehilangan, keterasingan dan upaya meredefinisi makna kebersamaan.
“Dying Depths” adalah eksplorasi suara yang menggambarkan perjuangan batin seseorang saat tenggelam dalam pusaran depresi dan trauma.
Dengan lirik seperti ‘Resentment festers, a wound that refuses to wane’ dan chorus yang menghantui, lagu tersebut mengajak pendengar meresapi bagaimana rasa sakit bisa menjadi labirin yang menyesatkan namun juga sangat nyata.
Aransemen musik yang kuat dan intens semakin mempertegas suasana melankolis dan mendalam dari lagu ini.
Sementara itu, “Us, Redefined” ditampilkan unit metalcore asal Bandung, Jawa Barat ini sebagai antitesis yang lebih tenang namun sama menyentuhnya.
Dalam bait ‘Wrapped in the endless agony / I can’t no longer feel the idea of being together’, lagu ini mengangkat tema relasi yang mulai retak akibat luka emosional yang belum sembuh.
Dengan nuansa minimalis dan kontemplatif, lagu ini menjadi refleksi dari perubahan dinamika dalam hubungan yang dulu hangat, namun kini dipenuhi kehampaan.
“Beneath The Silence” tidak hanya menjadi karya musik, tetapi juga sebuah pernyataan emosional yang jujur dan berani. Chained kembali menunjukkan kemampuannya dalam menyampaikan narasi personal yang relevan bagi banyak orang, terutama mereka yang sedang bergumul dengan realitas batin yang kompleks.
Vokalis Hafizh Fauzan, gitaris Zacky Ahmad Saleh, Indra Tri Ardiya dan Iip Saepulloh serta dramer Ari Fahrizal sendiri menjalani proses kreatif penggarapan kedua lagu barunya selama kurang lebih 4-5 bulan.
Chained mengungkapkan kepada MUSIKERAS, bahwa penggarapan materi “Beneath The Silence” dimulai oleh Zacky yang membuat sebagian bagannya.
Selanjutnya dikembangkan bersama personel lainnya, sehingga mereka bisa menyatukan warna masing-masing. Dengan metode itulah Chained bisa merampungkan lagu “Dying Depths” dan “Us, Redefined”.
Untuk rekaman isian instrumen, band ini mengeksekusinya di beberapa tempat. Untuk dram, direkam di Yans Studio, lalu gitar dan bass di rumah Zacky dan terakhir untuk perekaman vokal di Depthbase Studio. Termasuk untuk pemolesan mixing dan mastering.

Metalcore sendiri dipilih Chained sebagai amunisi utama musiknya lantaran kebanyakan dari para personelnya lahir di periode 1990-1996, dimana kemudian mereka tumbuh remaja dengan banyak mendengarkan musik-musik metalcore era 2000-an.
Ketukan dram dan riff gitar yang mereka terapkan di lagu-lagunya sangat terpengaruh band-band mancanegara seperti As I Lay Dying, In Flames, Miss May I hingga Bury Tomorrow.
“Kami rasa ini merupakan pilihan tepat bagi kami untuk memulai bahkan kontinyu untuk memainkan musik tersebut, dimana sekarang gempuran musik metal modern melanda kebanyakan influensi musisi yang sebaya dengan kami. Maka dari itu, kami akan terus mencoba untuk berada di jalur ini dan tentunya bereksperimen terus menerus,” seru pihak band beralasan.
Tapi di usia rata-rata personelnya dengan segala kesibukan, waktu menjadi isu utama yang membuat proses penggarapan dan rekaman “Dying Depths” dan “Us, Redefined”. Dalam dua bulan, mereka hanya bisa bertemu satu kali.
“Karena kebetulan mayoritas kami adalah ‘bapak-bapak’ yang memang agak sulit untuk membagi waktu untuk sekadar kumpul, rehearsal dan eksekusi materi baru dan mengeksekusi segala keperluan band.”
Kalau pun berkumpul, lanjut mereka, biasanya hanya terjadi ketika ada jadwal manggung atau saat sedang merampungkan sesuatu.
Tapi Chained berharap, mereka bisa merilis karya lagu baru setiap 3-4 bulan sekali. “Kami berusaha produktif!”
“Beneath The Silence” sendiri telah tersedia di berbagai platform digital streaming sejak 5 Mei 2025 lalu.
Sebelumnya, Chained telah memperdengarkan lagu “Terbenam, Pupus.” (2020) dan “Fana, Tak Berarti.” (2021) serta sebuah album mini (EP) berjudul “Freedom Is A Myth For Those Who Believe” (26 November 2024). (mdy/MK01)