Hadhramaut yang berasal dari Bandung ini mengedepankan paham yang cukup unik di skena musik keras Tanah Air. Mereka menyebut konsep musiknya dengan istilah ‘meditative doom metal’ yang diperkuat raungan suara bass dan gitar yang fuzzy serta ketukan dramnya yang agresif.
Lewat lagu“Kolaps”, gaya bermusik Hadhramaut yang banyak terpengaruh oleh band-band mancanegara seperti Om, Sleep, Electric Wizard, 1782 serta sentuhan musik tradisional ini ditunjukkan.
Hadhramaut menemukan gayanya melalui iringan musik melodis-meditatif yang bercampur aduk dengan distorsi berat, teriakan vokal parau dengan lirik-lirik thought-provoking seraya ditemani oleh ketukan dram yang ritmis dan kaotis.
Keseluruhan unsur tersebut bersatu-padu dan menjadi representasi utuh dari bentuk musik Hadhramaut; kekacauan yang menenangkan.
“Elemen yang diserap, terkhusus dari (band) Om adalah sisi-sisi meditatif dari aransemennya, bagaimana sebuah instrumen bisa mengayun dan semuanya menyatu menjadi sebuah alunan musik meditatif,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, menerangkan.
Sementara dari band lainnya, lanjut Hadhramaut, mereka menyerap nada doom metal yang kotor dan lambat, serta permainan-permainan riff gitarnya.
Lalu ada pula sentuhan elemen musik tradisional, dimana “Kolaps” menghadirkan alat musik gesek Sunda bersenar dua bernama Tarawangsa, yang ternyata mendatangkan tantangan tersendiri.
“Tantangannya adalah mencari cara menyatukannya dengan instrumen-instrumen konvensional lainnya. Salah satunya adalah balancing suara Tarawangsa dengan instrumen lain serta mengatur tuning-nya,” urai mereka terus-terang.
“Kolaps” yang bercerita tentang kehancuran dunia dan seisinya serta cara manusia berserah diri di tengah proses keruntuhan tersebut, digarap para personel Hadhramaut dalam waktu sekitar sebulan.
Gitaris Farhan Abdul Nasir, bassis Hawari Arrasyid Suharya, vokalis Moch. Ariel Pamungkas serta dramer M. Ismail (Liam) mengeksekusi rekamannya di rumah seorang rekannya, dimana segala tetek bengek teknis rekaman dilakukan secara mandiri di tengah kesibukan masing-masing.
“Alur fiksasi rekaman dijalankan secara bertahap tanpa terburu-buru demi mendapatkan hasil yang maksimal.”

Setelah “Kolaps”, Hadhramaut berencana untuk menggarap sebuah album. Namun mereka menegaskan, kemungkinan waktu pembuatannya bakal berlangsung cukup lama mengingat setiap personelnta memiliki kesibukan lain di luar aktivitas bermusik.
“Kendati demikian kami tetap akan mengusahakan agar musik kami bisa didengar oleh audiens yang lebih luas ke depannya, dengan katalog lagu yang bermacam-macam.”
Oh ya, sekadar tambahan informasi, band ini mencetuskan Hadhramaut sebagai nama band lantaran terinspirasi makna di baliknya. Secara literal, sebenarnya bisa diartikan sebagai ‘death has come’ dalam bahasa Inggris dan ‘kematian telah datang’ dalam bahasa Indonesia.
Tapi Hadhramaut sendiri juga merupakan tempat bernaung dari banyaknya pemikir terkemuka. “Dengan begitu kami terinspirasi untuk menyerap nama tersebut dan mengalih wahanakannya menjadi sebuah bentuk musik meditatif bercampur dengan distorsi berat khas doom metal!”
Sejak 23 Mei 2025 lalu, “Kolaps” yang diedarkan via KOMA Records sudah bisa didengarkan di berbagai gerai digital streaming. (aug/MK02)