Mothrahead kembali meluapkan keresahannya. Kali ini atas semua ke-ngehek-an yang terjadi akhir-akhir ini, di dunia dan di Indonesia. Mereka tumpahkan dalam sebuah lagu rilisan tunggal terbaru berjudul “Prosperum”.
Berbagai kejadian tersebut, menurut band modern rock asal Jakarta ini, sudah cukup untuk menjadi amunisi bagi Mothrahead untuk menorehkan ke dalam sebuah lirik protes. Mereka merilis “Prosperum” sebagai sebuah penanda di zaman edan ini.
Band yang masih digerakkan formasi vokalis Done Surya Herlambang, bassis Arta Kurnia Putra, gitaris Benny ‘Beben’ Mihing dan dramer Novri Julfiansyah ini menyebut kata ‘prosperum’ diambil dari bahasa Latin, yang berarti ‘makmur’ dalam bahasa Indonesia.
Kata prosperum sendiri terbentuk dari beberapa sumber, dari bahasa Proto-Italic, bahasa Proto-Indo-Eropa, yang kurang lebih berarti ‘berhasil’, ‘harapan’ atau ‘ekspektasi’. Kata ‘prosper’ dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan menjadi ‘berhasil baik’ atau ‘menjadi makmur’ dalam bahasa Indonesia.
Makmur atau sejahtera dalam lagu “Prosperum” ini, disebut pihak band bisa bermakna ganda. Done, sang penulis lirik, menggambarkan bahwa lagunya bisa dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda.
Sudut pandang pertama, bisa merupakan harapan atau doa untuk bisa menjadi makmur dan sejahtera. Sedangkan di sudut pandang yang kedua, merupakan pertanyaan satir dan sinis, siapa sebenarnya yang sejahtera?
Sebagai pemanasan sebelum perilisan lagu “Prosperum” ini,Mothrahead melakukan sebuah kampanye digital yang mereka rasa cukup mewakili isi lagunya.
“Kami meminta teman-teman untuk mengirimkan foto saat sedang bekerja, apapun profesinya, kemudian dirangkum ke dalam postingan di media sosial kami.”
Unggahan itu, lanjut mereka, bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada teman-teman di sekitaran mereka yang sudah bekerja keras, berjuang dan memburu kesejahteraan secara jujur.
“Kami rasa ini adalah sebuah narasi yang sangat berkaitan dengan konsep dan pesan yang ingin disampaikan dari single ‘Prosperum’.”
Distorsi Vintage
Para personel Mothrahead butuh waktu sekitar tiga bulan dalam merampungkan produksi “Prosperum”. Menurut penuturan mereka kepada MUSIKERAS, prosesnya sempat terpotong masa libur Lebaran.
“Dalam konteks ini, kami mencoba sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya di album mini (EP) pertama kami.”
“Prosperum” sendiri merupakan langkah awal Mothrahead menuju penggarapan album penuh pertama. Dan kali ini, mereka sedikit berani dan mencoba pendekatan yang lebih fokus pada agresi dan intensitas, namun tanpa meninggalkan groove.
Band bentukan Mei 2023 ini mengombinasikan aransemen yang ‘nabrak’, menghentak, yang berada di antara enerjiknya hardcore, agresifnya metal dan berondongan groovy beat yang dibangun untuk menghasilkan nuansa modern dan segar.
“Kali ini kami juga mencoba konsep sound gitar yang lebih berkesan ‘vintage’, tanpa meninggalkan nyawa distorsi sebuah musik keras pada umumnya.”
Sedangkan dalam konteks lirik, Mothrahead mencoba konsep yang berbeda dibanding EP “Enigma” yang mereka rilis pada 26 Agustus 2024 lalu.

“Kami mencoba sebuah formula yang kami rasa lebih ‘sing along’ dengan menggunakan bahasa Indonesia, dibandingkan materi materi sebelumnya yang menggunakan bahasa Inggris.”
Saat peracikan komposisi serta aransemennya, Mothrahead menegaskan tidak ada referensi yang pakem untuk meracik “Prosperum”. Namun mereka mengakui, dalam periode ini cukup terinspirasi musik dari band-band seperti Helmet, Everytime I Die, Hatebreed hingga The Comeback Kid.
“‘Prosperum’ merupakan sebuah prototype akan kematangan dari rilisan kami selanjutnya. Baik secara produksi maupun aransemen.”
Sejauh ini, Mothrahead mengabarkan bahwa proses produksi album pertama masih dalam tahapan eksperimen. “Kami berusaha menikmati setiap proses, sambil mencari formula yang kami rasa paling tepat untuk album pertama.”
Sejak 26 Juni 2025 lalu, “Prosperum” sudah bisa didengarlan di berbagai gerai digital streaming. (mdy/MK01)