Archsonic tengah menyiapkan babak baru dalam perjalanan kariernya, dimana saat ini mereka sudah menyiapkan sebuah album yang diharapkan bisa rilis dalam beberapa bulan ke depan.
Namun sebelum sampai ke fase itu, unit modern rock dan alternative metal asal Jakarta ini terlebih dahulu memanaskannya lewat sebuah lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Eksil”.
Karya rekaman terbaru ini menawarkan narasi kuat tentang perjuangan personal dan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan. Dikemas dalam komposisi musik yang lebih intens, vokal menantang, serta menjanjikan pengalaman panggung yang energis, eksentrik, namun tetap karismatik.
Kegelapan, Tujuan Hidup
Secara harfiah, kata ‘eksil’ merujuk pada pengasingan atau pembuangan. Dalam konteks lagu ini, Archsonic mengangkat maknanya sebagai bentuk pengasingan jiwa atau perasaan terbuang dari diri sendiri, dari tujuan hidup, atau bahkan dari lingkungan sosial yang terasa menghimpit.
Lagu ini adalah gambaran tentang seseorang yang berada di titik terendah, merasa sendirian dan terputus dari esensi dirinya.
Secara sosial, konsep ‘eksil’ seringkali dialami oleh individu yang merasa terpinggirkan, tidak diterima, atau terpaksa meninggalkan zona nyaman mereka—baik secara fisik maupun emosional.
“Eksil” beresonansi dengan perasaan tersebut, namun dengan pesan yang membalikkan keadaan: dari kegelapan menuju penemuan kembali arah dan tujuan hidup.
Eksperimen Autentik
Vokalis Piero Awuy (Pier), bassis dan screamer Ahmad Bazuki (Abas), gitaris dan penulis lirik lagu “Eksil”, Wiki Widianto serta dramer Noviar Fikal Laude (Koko Kalkal) merekam lagu barunya itu di Tama Akustik Studio, yang merupakan studio pribadi milik Koko sendiri.
Dalam produksi lagu “Eksil”, Koko juga merupakan pencipta lagunya, sekaligus bertindak sebagai produser.
Kehadiran studio pribadi tersebut memungkinkan para personel Archsonic untuk bereksperimen lebih leluasa dan menghasilkan karya yang autentik sesuai visi mereka.
“Proses kreatifnya bisa dibilang cukup intens dan personal. Karena kami punya ruang untuk bereksperimen lebih dalam dan bebas tanpa tekanan waktu,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.
Dalam peracikannya, lanjut Archsonic, “Eksis” telah melalui beberapa revisi dari segi struktur dan dinamika, lantaran mereka menginginkan mengemas perjalanan emosional seseorang dari keterpurukan menuju kebangkitan secara utuh dan jujur.
“Total prosesnya sekitar dua bulan—mulai dari penulisan awal, pre-produksi, rekaman, hingga mixing dan mastering,” ujar Koko menambahkan.
Dramatis, Sinematik
Konsep modern rock/alternative metal masih menjadi cetak biru musik Archsonic di lagu barunya. Namun kali ini, diberi sentuhan atmosferik dan progresi yang lebih gelap namun emosional.
Menurut mereka, jika dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya, “Eksil” punya dinamika yang lebih ekstrem—baik secara vokal, riff gitar, maupun aransemen. Vokal Pier mengeksplorasi nada-nada tinggi yang belum pernah muncul sebelumnya. Sedangkan scream dan betotan bass dari Abas menambahkan lapisan intensitas baru.
“Secara aransemen, kami juga lebih berani bermain di ruang dan tempo, agar makna ‘pengasingan’ dan ‘kebangkitan’ terasa hidup dalam musiknya. Ini bukan sekadar lagu, tapi perjalanan batin yang kami tuangkan lewat distorsi, ketukan, dan emosi.”
Beberapa band mancanegara diakui para personel Archsonic sebagai sumber inspirasi, namun tanpa bermaksud meniru. Di antaranya, mereka serap ide-ide secara musikal dari Bad Omens, Annisokay, Deftones, Architects, hingga Bring Me The Horizon era album “Sempiternal”.
“Tapi kami mencoba menangkap atmosfer dan energi mereka, lalu mengolahnya dengan gaya khas Archsonic. Kami juga mengacu pada soundtrack film dan scoring video game untuk menciptakan rasa dramatis dan sinematik, terutama di bagian bridge dan scream yang menjadi puncak emosional lagu.”
“Eksil” sendiri diplot sebagai langkah pembuka fase baru Archsonic, menuju perilisan album. Saat ini, prosesnya tengah memasuki tahapan penyusunan materi. Dan sejauh ini sudah ada beberapa bagan lagu yang sedang dieksplorasi dan uji coba.
“Target kami, album ini bisa rilis dalam beberapa bulan ke depan, tentu dengan kualitas produksi dan eksplorasi musik yang lebih matang dan berani. ‘Eksil’ menjadi pondasi arah tematik dan emosional yang akan kami bangun di karya-karya berikutnya.”

Sedikit tentang Archsonic. Band ini dibentuk pada 24 Februari 2024 lalu. Meskipun tergolong baru, Archsonic telah menunjukkan taringnya dengan merilis lima lagu lepas serta satu album mini (EP) berjudul “Resiliensi” yang dirilis pada 11 Maret 2025 lalu.
Salah satu lagu mereka, “Hypocrisy” bahkan pernah diputar di salah satu radio independen Inggris, Wigwam Radio.
Dikenal akan aksi panggung yang energis dan eksentrik namun karismatik, Archsonic selalu berhasil menciptakan pengalaman tak terlupakan bagi para penontonnya.
Kini lewat “Eksil” yang sudah bisa digeber via berbagai gerai digital menjadi bukti komitmen Archsonic untuk terus berkarya dengan lirik yang relevan dan musik yang berkembang. (mdy/MK01)