GREY CASTLE: Lirik DSBM dalam Kebisingan Shoegaze

Shoegaze menyatukan perbedaan referensi kelima personel Grey Castle, yang akhirnya berhasil menciptakan karya bising yang depresif.
grey castle

Grey Castle akhirnya mengesahkan kebebasannya dalam berekspresi lewat sebuah karya rekaman debut bertajuk “Through The Blur”.

Band asal Jember, Jawa Timur yang dipatenkan pada 2024 lalu di antara jeda kuliah dan hari-hari libur yang membosankan ini mengeksekusi proses rekamannya selama kurang lebih tiga minggu. Terhitung sejak akhir Mei hingga pertengahan Juni 2025.

Durasi tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian jadwal studio. Pada tahap awal, seluruh instrumen direkam dalam satu hari penuh. Beberapa hari kemudian, proses dilanjutkan dengan pengambilan vokal, yang selesai hanya dalam sehari.

“Kami berasumsi bahwa karena lagu yang kami bawa memiliki struktur yang cukup minimalis, keseluruhan proses perekaman bisa berlangsung dengan relatif cepat,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Setelah proses perekaman selesai, tahap mixing dan mastering lalu dipercayakan pengolahannya kepada Gangsar Recording selama kurang lebih dua minggu.

“Hasil akhirnya membuat kami sangat puas, dan kami sepakat bahwa rekaman harus dirilis.”

Bising, Depresif

Dari segi konsep musikal, Grey Castle yang digerakkan vokalis Rosalind (Riri), gitaris Yudha Kelana dan Zaky Fahmi, bassis Iqbal Manggala dan dramer Alby Fadlika mewujudkan kegelisahan serta ide-ide liarnya lewat penerapan musik yang cenderung depresif.

Paling tidak, begitu impresi dari teman-teman dekat mereka yang sempat menyaksikan band ini di panggung.

“Barangkali karena tema yang kami angkat berakar pada keresahan eksistensial dan alienasi. Ini semacam alih wahana dari lirikal DSBM (Depressive Suicidal Black Metal) yang kami masukkan ke dalam ruang genre shoegaze yang bising.”

“Through The Blur” sendiri, menurut Grey Castle, dibentuk dengan konsep yang minimalis. Dimulai dari riff yang benar-benar simpel dan beat yang groovy ala-ala Deftones. Lalu alunan vokal yang dreamy, dan diiringi suara gitar dan bass yang fuzzy.

“(Formula itu) Menjadi fondasi utama yang membuat lagu ini (sehingga) memiliki tone yang warm seperti sound era 2000-an pada umumnya.” 

Lalu pada bagian akhir lagu, mereka juga memasukkan transisi tempo yang – menurut deskripsi mereka – hampir menyerempet wilayah doom metal.

“Bagian ini membuat suasana lagu berubah jadi lebih gloomy dan melankolis.”

Selain itu, mereka juga menyuntikkan feedback white noise dari gitar untuk memberi gambaran masyarakat urban yang tidak pernah lepas dari atmosfer bising.

“Ini jadi representasi dari keseharian kami yang sering dilanda pening karena macet, apalagi di area sekitar kampus (Universitas Jember) kami.”

Shoegaze, Sempit

Shoegaze, menurut pihak band, dipilih sebagai benang merah musik Grey Castle karena menyediakan ruang yang luas bagi para personelnya untuk menyatukan visi dan misi musikalnya. Maklum, mereka datang dari latar belakang referensi musikal berbeda-beda.

Mulai dari post-rock, shoegaze, punk, black metal, hingga ballad rock. Suara-suara gitar pada lagu “Through The Blur” banyak terinspirasi dari Deftones, Split Chain, Alcest, Never Easy, Narrow Head, Fleshwater, Title Fight, dan beberapa proyek musik yang diproduseri oleh Grayskies.

Sedangkan untuk pola permainan dramnya, inspirasinya datang dari salah satu lagu asal Jakarta, Morfem yang berjudul “Senjakala Cerita”.

Selain untuk bereksperimen pada equipment sederhana yang mereka miliki, bagi Grey Castle, memainkan shoegaze atau alternative rock punya kapasitas sebagai penengah. Sebagai titik temu dari perbedaan selera dari masing-masing personel.

“Juga sebagai cara untuk merasakan pengalaman bekerja sama dalam bentuk band. Kami mengamini bahwa membentuk sebuah tim berbentuk band dengan selera genre yang kami inginkan masing-masing itu sangatlah susah. Apalagi di kota kami yang cukup sempit.”

Kehadiran musik shoegaze di Jember sendiri, juga terbilang baru dimulai belum lama ini. Yang ditandai eksistensi band-band rekan mereka seperti Kahlo dan Housetile.

“Hal itu membuka kesempatan bagi kami untuk ikut membentuk gelombang baru di kota ini.”

Setelah ritual perilisan “Through The Blur”, Grey Castle bakal memulai mematangkan beberapa materi lain untuk direkam dan dirilis berikutnya. Entah nanti dalam bentuk album, album mini (EP) atau rilisan tunggal.

“Yang pasti kami ingin terus meriliskan apa yang menjadi karya kami. Sejauh ini, materi baru yang sedang kami garap sebenarnya sudah cukup secara bentuk. Tinggal mempelajari dan menyelesaikan beberapa teknis saja, sebelum bisa benar-benar didokumentasikan.”

Lirik “Through The Blur” berbicara mengenai perjalanan untuk kembali menemukan diri sendiri, melalui perantara yang kerap dianggap paling picisan di muka bumi ini: cinta kasih.

Untuk mendengarkannya, sudah bisa diakses di berbagai gerai digital streaming sejak 2 Juli 2025 lalu. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.