MORPHOSE: Ketika Metalcore Terkontaminasi Hardcore

Di lagu debutnya, “Love Song” yang dirilis via Atlas Records, Morphose tak sekadar menggeber metalcore, namun lebih fokus pada intensitasnya.
morphose
MORPHOSE

Morphose hadir sebagai band metalcore di tengah keriuhan skena hardcore di kota semarang, Jawa Tengah. Namun band yang terbentuk tahun lalu ini menawarkan pendekatan musik keras yang lebih ekspresif dan personal.

Seperti yang mereka tunjukkan di lagu rilisan tunggal perdananya, bertajuk “Love Song”, sebuah lagu yang menjadi pengenalan awal terhadap karakter dan arah musik Morphose.

Para personelnya, yakni vokalis Widhi Tri Anggono (Widhi), gitaris Muhammad Risky (Moky) dan Ardu Fitrah Insani (Ardu), bassis Anggita Aji Pangestu (Pang) serta dramer Fardan Ibnu Ikhsandi (Jendol) masing-masing membawa latar belakang musik keras yang kuat.

Namun dalam Morphose, khususnya di lagu “Love Song”, mereka mencoba menggabungkan energi tersebut ke dalam konsep metalcore yang terkontaminasi elemen hardcore.

“Kami memasukkan sedikit unsur hardcore di ‘Love Song’, karena dari awal kami lahir dari skena hardcore, dan kami ingin memasukkan sedikit unsur hardcore, mengingat akar asal Morphose,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, memberi alasan.

Namun jika menarik benang merah dari karakter keseluruhan musiknya, band ini mengakui mereka sedikit banyak mengacu ke gaya musikalitas band hardcore punk asal Kanada, Counterparts.

“Sebenarnya dari awal kami tidak memiliki kiblat atau panutan dalam membuat musik. Namun kalau berbicara gaya acuan musik, kami setuju kalau itu Counterparts.”

Secara musikal, “Love Song” menawarkan kombinasi riff berat, dinamika tempo, dan vokal yang ekspresif. Gaya metalcore yang mereka bawa tidak hanya fokus pada intensitas, tapi juga memberi ruang untuk pendengar meresapi isi lagunya.

Menurut mereka, “Love Song” bukan lagu cinta dalam arti umum. Lewat lagu ini, Morphose menyampaikan bagaimana perasaan-perasaan seperti marah, kecewa, dan kehilangan bisa berjalan beriringan dengan bentuk cinta yang lebih luas—baik terhadap hidup, pengalaman, maupun proses tumbuh.

morphose

“Kami nggak mau terlalu banyak simbol. Lagu ini tentang hal yang cukup sederhana — bagaimana kita menyikapi perasaan yang seringnya susah dijelaskan,” ujar Widhi, sang vokalis.

Proses kreatif penggarapan produksi “Love Song” sendiri menghabiskan waktu cukup lama, lantaran Morphose ingin memastikan bahwa materi yang dirilis benar-benar merepresentasikan mereka.

Ada banyak diskusi soal arah musik dan lirik, tapi justru dari situ muncul bentuk yang solid dan apa adanya.

“Kami nggak pengen bikin sesuatu yang terlalu dibentuk-bentuk. Kalau kami ngerasa cocok, ya itu yang kami mainkan,” cetus Moky, menegaskan.

Sejauh ini, Morphose juga telah mengantongi materi album mini (EP) yang belum sempat mereka rampungkan. Namun sebelum merilisnya ke publik, mereka ingin melepas satu lagu lagi sebagai langkah pemanasan berikutnya. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.