Berantai telah menyuarakan keresahannya lewat video lirik “Garis Dominan” tepat pada hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah ungkapan unek-unek atas polemik fenomena sosial masyarakat di Indonesia saat ini yang semakin hari semakin kompleks.
Video berdurasi tiga menit 59 detik tersebut merupakan introduksi bagi Berantai yang telah resmi bergabung bersama label spesialis death metal asal Malang, Oath Artifact Prods.
Band asal Pasuruan, Jawa Timur yang dihuni oleh formasi vokalis Ade Pratama Wicaksono, gitaris Achmad Romdhoni, bassis Arifudin, dramer Rino Adham serta mendiang gitaris Dhany Achmad Ramadhan, saat ini tengah bersiap merilis EP “Manipulation of Dominion”, bulan depan.
Selain sebagai pemanasan menuju pelepasan album, lirik lagu “Garis Dominan” kebetulan juga masih relevan antara lirik dengan visual artistik (artwork) death metal.
Dimana paham ini cenderung didominasi tema kematian dan pembunuhan yang divisualisasikan berupa raja iblis duduk di singgasana, bagaikan pemimpin yang haus akan kekuasaan serta pasukan iblis pembunuh layaknya aturan di negeri ini yang merampas hak-hak masyarakat bawah.
Sebelumnya, lagu “Garis Dominan” sebenarnya sudah sempat diperdengarkan di muatan rilisan demo “Worldly as Revenge” (12 Juni 2018). Namun di versi lama, keseluruhan rekaman gitar dieksekusi sepenuhnya oleh mediang Dhany.
Sedangkan di EP “Manipulation of Dominion”, masih menyisakan permainan ritem dari Dhany yang direkam sebelum pandemi Covid 19. Tapi isian lead diambil alih oleh Achmad Romdhoni sebagai pengganti Dhany, yang juga merupakan pendiri Berantai.
Kompleksitas, Eksplorasi
Proses kreatif pengerjaan lagu “Garis Dominan” dilakukan para personel Berantai bersamaan dengan periode pengerjaan materi lagu-lagu di EP. Tepatnya pada 2019 silam setelah agenda Wordly As Revenge Tour 2018 di beberapa kota di Jawa Timur.
Mereka lantas merekamnya di dua studio berbeda, yakni di D’fezt studio, Pasuruan untuk isian gitar, dram dan vokal. Sementara untuk isian bass dieksekusi di perangkat studio rekaman rumahan milik sound engineer mereka, Arrizal Qohar.
Penggarapan ini sempat tertunda ketika Dhany Achmad Ramadhan meninggal dunia saat pandemi Covid-19 menyerang. Tepatnya pada 5 Agustus 2020 silam.
Butuh waktu kurang lebih dua tahun bagi band ini untuk bisa kembali melanjutkan proses rekaman. Setelah keseluruhan materi terekam, akhirnya proses mixing dan mastering bisa dirampungkan di Orvius Soundlab, Tulungangung.
Kali ini, keseluruhan EP “Manipulation of Dominion” mengedepankan kompleksitas dan eksplorasi dalam bermusik. Karena menurut tuturan pihak band kepada MUSIKERAS, setiap lagu yang mereka ciptakan mempunyai warna dan karakteristik masing masing.
“Kami tidak menyeragamkan genre death metal yang kami usung sama seperti band-band death metal pada umumnya. Karena kami tidak mematok pada satu genre saja, akan tetapi kami mencoba bereksplorasi dengan menggabungkan beberapa corak musik seperti progressive, technical, melodic bahkan jazz,” urai mereka.
Lalu saat peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagunya, mereka juga mengakui tidak mematok acuan bermusiknya terhadap referensi tertentu.
“Namun ada beberapa pattern gitar dan ketukan dram yang menjadi sumber referensi kami, yaitu The Black Dahlia Murder, Brain Drill dan Behemoth.”
Dalam album “Manipulation of Dominion” sendiri, nantinya akan digolakkan sebanyak lima komposisi mengerikan, yang akan dirilis via Oath Artifact Prods.
Sebelum perilisan “Garis Dominan”, band bentukan 2010 silam ini sudah pernah memperdengarkan EP debut bertajuk “Sugeng Rawuh Sang Cemeng Ing Tlatah Jawi” (2012) serta sebuah demo berisi tiga trek berjudul “Worldly as Revenge”.
Video lirik “Garis Dominan” bisa ditonton via tautan kanal YouTube Oath Artifact serta di beberapa platform digital. (mdy/MK01)