Sejak awal kemunculannya, Blackbvrn dikenal lewat karakter sound yang agresif, vokal sarat intensitas serta lirik yang menggali sisi gelap dari realitas sosial dan psikologis manusia.
Kini, formula itu dipertajam lewat rilisan EP “Hegemon” yang mengobarkan lima komposisi lagu metalcore beringas, masing-masing berjudul “Tersesat”, “Suar”, “Hegemoni”, “Dursila” dan “Petaka”.
Keseluruhan amunisi tersebut – kurang lebih seperti materi album “Monster Behaviour” yang dirilis pada 22 Februari 2024 lalu – yang didominasi perpaduan riff tajam, breakdown berat serta atmosfer emosional yang intens.
Tapi di “Hegemon”, para personel Blackbvrn, yakni vokalis Lucky Januari (Ocol), gitaris Sidharta Adisapoetra (Sid) dan Afrizya Bramandhita (AB) serta bassis Geraldo Oryza (Aldo) bereksplorasi lebih berani dan matang.
Jika di album “Monster Behaviour” masih mencari bentuk, tutur pihak band kepada MUSIKERAS, kali ini mereka sudah tahu persis arah yang ingin dituju. Lebih gelap, lebih tegas dan lebih padat secara dinamika.
“Kami banyak bermain di balancing antara riff modern dan elemen klasik metalcore, tapi dengan nuansa lokal yang tetap terasa di emosi dan liriknya. Secara sound juga lebih ‘tight’ dan garang, tanpa kehilangan karakter melodi dan hook yang bisa diingat,” seru mereka menegaskan.

Eksplorasi paling menantang, antara lain bisa didengarkan di komposisi lagu “Petaka”, dimana Blackbvrn menerapkan struktur yang dinamis dan tempo yang berubah-ubah. Mengombinasikan isian dram yang menuntut presisi tinggi, di saat gitar dan vokal harus tetap solid menjaga intensitas.
“Selain itu, lagu ini punya transisi clean ke heavy yang cepat, jadi butuh fokus ekstra agar emosi tiap part-nya tetap nyatu. Tapi justru di situ letak keseruannya.”
Ketika Blackbvrn menjalani proses kreatif penggarapan “Hegemon”, mereka memulai dengan mengumpulkan ide riff dan lirik, sejak menjalani tur kecil setelah perilisan “Monster Behaviour”.
Dari situ, mereka banyak mengeksplorasi sound dan struktur lagu yang terasa lebih agresif tapi tetap punya groove. Proses pre-produksi dan rekaman keseluruhan menghabiskan waktu sekitar tiga bulan. Semua direkam di studio Rebuild 40124, Bandung.
Sementara untuk referensi musik yang dijadikan acuan cukup beragam. Mereka menyebut, antara lain datang dari band-band metalcore modern mancanegara seperti Fit For A King, While She Sleeps, Architects hingga pengaruh klasik dari Killswitch Engage dan As I Lay Dying.
“Tapi kami juga banyak ambil inspirasi dari musik di luar metal, seperti ambient dan post-rock, untuk memberi ruang dan tekstur di beberapa bagian lagu. Intinya, kami ingin menciptakan sesuatu yang keras tapi tetap punya atmosfer.”
EP “Hegemon” yang mengangkat tema besar tentang hegemoni dan perlawanan, sebagai representasi dari kegelisahan kolektif yang dikemas dalam bentuk ekspresi sonik yang keras dan penuh emosi, sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital sejak 15 Oktober 2025 lalu.
Video lirik lagu “Petaka” dan “Tersesat” juga sudah bisa disaksikan di kanal YouTube. (mdy/MK01)