MASS-49: Ajak Pendengar Rasakan Sakit dan Gelapnya Kematian

Dikobarkan lewat perilisan ulang album “No Longer Human” dalam format piringan hitam, dimana Mass-49 menambahkan lagu bonus “Annihilation”.
mass-49
MASS-49

Mass-49 merilis ulang “No Longer Human”, album yang sebelumnya diedarkan resmi di berbagai platform digital serta dalam format kaset dan CD pada awal 30 April / 1 Mei 2025 lalu.

Masing-masing format diproduksi oleh Husted Records dan Smoothie Records (kaset) serta Remorseless Records, label independen asal AS (CD).

Tapi kali ini bisa dikatakan lebih istimewa, karena “No Longer Human” bakal diabadikan dalam kemasan piringan hitam (vinyl) 180 gram.

Saat ini, pihak label Husted Records dan  S.O.N Records tengah melangsungkan proses pra-pesan. Sementara untuk perilisan resminya akan dilaksanakan pada awal 2026 mendatang.

Kenapa harus merilisnya dalan format piringan hitam?

“Karena format rilisan berbentuk vinyl memang belum pernah ada untuk Mass 49 sendiri, kami juga ingin memberikan pengalaman lebih bagi pendengar kami dengan kualitas suara yang lebih detail, dan clarity-nya jika mendengarkan lewat vinyl,” urai Mass-49 kepada MUSIKERAS.

Khusus versi piringan hitam ini, ada sisipan satu lagu baru, mendampingi kandungan amunisi asli “No Longer Human”. Trek tambahan berdurasi 11 menit tersebut bertajuk “Annihilation”, menampilkan suara Salsa Larasti yang mengisi rintihan sepanjang trek tersebut.

Menurut mereka, “Annihilation” sengaja dibuat ketika ide merilis piringan hitam mengemuka. Karena “No Longer Human” adalah sebuah EP, maka mereka ingin menyematkan sesuatu yang baru, yang hanya ada di rilisan piringan hitam sebagai trek bonus.

Mass-49 mengakui, penggarapan rekaman “Annihilation” yang juga melibatkan Orcyworld sebagai kontributor pengisi vokal di dalam trek ini cukup menantang, lantaran mereka garap dan rekam secara mandiri.

Secara konseptual, album “No Longer Human” sendiri menggambarkan kondisi pasca apokaliptik yang menimpa peradaban manusia.

Dimulai dengan konsep lagu “Repeat Death” yang melambangkan siklus kehancuran dan kebangkitan peradaban, dimana manusia yang selamat harus beradaptasi dan bertahan dalam tatanan dunia yang baru atau menghadapi kematian berulang.

Lalu di “World Destruction” yang menggambarkan kekacauan global yang memicu era baru di tengah reruntuhan.

Untuk bertahan hidup, manusia menciptakan kasta yang kuat sebagai penguasa dan yang lemah sebagai budak. Sebuah ketidakadilan yang tercermin dalam lagu “Worship”.

mass-49

Grindcore Is A Race

Sama seperti karya-karya rekaman Mass-49 sebelumnya, proses perekaman materi lagu-lagu di “No Longer Human” juga menerapkan perangkat analog.

“Kami masih senang dengan ‘real amp-real cab‘ dan ‘acoustic drums’,” seru pihak band kepada MUSIKERAS menegaskan.

Perekaman instrumen dieksekusi bassis Muslim Ghifari, dramer Faisal Maulhana, vokalis Agung Permana Masri serta gitaris Febi Ramadhan Nasution dan Dikdik Senjahari di Funhouse Studio, Bandung.

Kecuali sesi vokal dan instrumen rebab pada intro lagu “Repeat Death” dilakukan di No Exit Studio. Isian rebab dibantu oleh rekan mereka, Yopi M Alamsyah (Obur). Keseluruhan proses, mulai dari latihan, penulisan lirik, aransemen musik hingga rekaman dikerjakan selama enam bulan.

Grindcore tentu saja masih menjadi benang merah di racikan formula musiknya. “Grindcore is a race! Many bands more faster and brutal than us. Tapi (khusus di lagu) ‘No Longer Human’, kami mengajak pendengar merasakan sakitnya gerinda (grind) dan juga gelapnya mati (death) dalam satu komposisi!”

Saat penggarapannya, band asal Bandung, Jawa Barat bentukan 2023 lalu ini dengan sengaja membuat sebuah daftar putar lagu yang sedikit banyak menjadi referensi musikal. Antara lain memuat komposisi-komposisi mengerikan milik band-band ekstrem mancanegara macam Mizmor, Gravesend, Gaza, Knoll, Mastiff, Mammoth Grinder, Cadaveric Incubator dan banyak lagi.

Keseluruhan, tema yang diangkat di EP “No Longer Human” sendiri masih sejalan dengan album Mass-49 sebelumnya. Merupakan lanjutan dari cerita yang telah mereka sajikan sebelumnya.

Namun kali ini, mereka lebih banyak becerita tentang dampak dari alasan-alasan agresi yang dilakukan manusia baik dalam skala mikro atau makro.

“Banyak jiwa merasuk dalam dirinya lalu berangsur hilang dan raga yang tersungkur kaku lalu tenggelam dalam lautan darah. Bahwa setiap penjudulan dalam EP album kami ini sangat cukup mewakili barisan lirik yang menjadi isinya. Itu yang terlintas di kepala kami ketika mendeskripsikan album ini.”

Fenomena tersebut, lanjut band ini lagi, mungkin memiliki banyak perspektif dari pendengar karya mereka, bagaimana setiap pendengar merasakan bahwa fenomena tersebut telah, sedang, dan atau akan terjadi.

Saksikan video musik salah satu lagu di “No Longer Human” yang bertajuk “Buried Womb” via tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts