VALKYRIE PARANOIA: Bukan Sekadar Visual Kei

Di lagu terbarunya, Valkyrie Paranoia mengembangkan identitasnya; berfondasi heavy metal, lirik emosional, dan estetika Visual Kei teatrikal.
valkyrie paranoia
VALKYRIE PARANOIA

Valkyrie Paranoia telah meluncurkan lagu rilisan tunggal ketiganya, bertajuk “Devoice”, yang mereka sebut sangat personal dan sarat emosi.

Sebuah lagu yang terinspirasi pengalaman nyata tentang cinta, kehidupan, dan tragedi—momen ketika seseorang kehilangan hak untuk berbicara, memilih, dan didengar.

Unit metal Visual Kei asal Sukabumi, Jawa Barat ini menyebut narasi lagu barunya berakar pada pengalaman hidup Sandi Ardiansyah (Exa), bassis Valkyrie Paranoia.

Ia mengubah kenangan pribadi dan luka emosional menjadi bentuk musik yang dramatis dan ekspresif.

Lagu ini bergerak antara agresi dan kerentanan, menggambarkan janji yang dilanggar, pengabaian emosional, dan jeritan sunyi dari suara yang diambil sebelum dapat sepenuhnya hadir.

Teatrikal, Universal

Kepada MUSIKERAS, Valkyrie Paranoia yang juga diperkuat gitaris Sahrul (Ryuuta), vokalis Ferrel Asibly Arya Baharina (Asphyxia Valk) serta dramer Philip Beldikson (Lynx) mengungkapkan bahwa “Devoice” merupakan lagu pertama mereka yang sepenuhnya menggunakan lirik berbahasa Inggris.

Selain itu, kali ini liriknya juga mengangkat tema cinta. Berbeda dibanding “Valkyrie Paranoia” (16 Mei 2025) dan “Catatonic Symphonic” (20 Juni 2025), dua karya lepas mereka sebelumnya.

Tema lirik di kedua lagu tersebut lebih banyak membahas unsur mitos dan supernatural, dengan penggunaan lirik campuran bahasa Jepang, Inggris, bahkan Jerman.

“Keputusan menggunakan bahasa Inggris secara penuh berangkat dari banyak masukan yang kami terima di lingkungan gigs, dimana teman-teman dan penonton menginginkan lagu kami tidak terlalu tersegmentasi dan lebih universal saat dibawakan di panggung,” tutur pihak band menegaskan.

Mereka memenuhi usulan itu, namun tetap berusaha tidak mengubah identitas bermusik di lagu-lagu Valkyrie Paranoia yang bersifat teatrikal dan khas.

Dalam penggarapannya, “Devoice” yang direkam di EXR Record menjadi lagu dengan proses terlama dibandingkan rilisan band ini sebelumnya. Membutuhkan waktu sekitar 158 hari, hingga resmi dirilis pada 31 Januari 2026 lalu.

“Lamanya proses disebabkan oleh pendalaman sound engineering, perubahan arah karakter sound, penggunaan VST (Virtual Studio Technology) terbaru, serta eksplorasi produksi yang lebih matang.”

valkyrie paranoia

Dinamika, Dilematis

Kebijakan sonik yang diterapkan di “Devoice” memadukan fondasi heavy metal dengan estetika Visual Kei teatrikal, aransemen orkestra, dan penceritaan emosional yang mentah.

Seluruh proses penyusunan komposisi yang memadukan kontribusi para personel, serta produksi dipercayakan penanganannya kepada Exa.

Jadi ia tak hanya mengeksekusi permainan bass, tapi juga menggarap bagian biola, lapisan orkestra, instrumen tambahan, mixing, mastering hingga rekayasa audio selengkapnya.

Dari sisi komposisi, bagian intro dirancang untuk membawa pendengar ke suasana padang gurun yang luas dan tanpa arah. Struktur lagunya tidak monoton, dengan penekanan pada ekspresi, dinamika, dan penyampaian lirik.

“Sebagai band metal Visual Kei, ciri khas kami terletak pada pendekatan teatrikal dalam penulisan lagu, penggunaan orkestra, violin, serta instrumen tambahan lainnya yang kami padukan secara selaras dengan elemen metal.”

Beberapa band luar juga dilibatkan sebagai sumber referensi, di antaranya datang dari band-band penganut Visual Kei era 2000-an seperti Jiluka dan Nocturnal Bloodlust serta sentuhan nostalgia dari versi klasik macam Dir En Grey dan L’Arc〜en〜Ciel.

Tapi sekali lagi, jika dibandingkan dengan dua lagu rilisan mereka sebelumnya, diakui Valkyrie Paranoia bahwa “Devoice” juga merupakan komposisi yang paling menantang secara teknis dan emosional. Jadi tidak hanya butuh waktu lama dalam pengerjaannya.

“Kami berada di posisi yang cukup dilematis,” seru mereka beralasan.

“Di satu sisi ingin menghadirkan lagu yang lebih universal dan bisa diterima di berbagai gigs, namun di sisi lain kami khawatir kehilangan jati diri sebagai band teatrikal.”

Tekanan tersebut berdampak langsung pada keputusan teknis. Mulai dari pengolahan lirik yang bertema cinta agar tetap terasa khas Valkyrie Paranoia, pendekatan vokal scream yang lebih sulit, hingga eksplorasi intro dengan nuansa nada Arabik.

“Beban moral dan emosional tersebut justru menjadi bagian penting dalam kelahiran ‘Devoice’.”

Di mata para personel Valkyrie Paranoia, keberadaan lagu “Devoice” sangat penting karena bakal menjadi salah satu lagu utama dalam album mini (EP) yang saat ini tengah mereka jalani penggarapannya.

Sebuah EP dimana setiap lagu bakal mengangkat cerita dari masing-masing personel. Selama proses 158 hari penggarapan “Devoice”, secara paralel mereka juga berhasil merampungkan rekaman beberapa lagu lainnya. Dua di antaranya diberi judul “Dark Chamber” dan “Whitemoon”.

“Rencananya, total ada enam lagu, dengan proses rekaman vokal telah selesai untuk empat lagu. Sementara dua lagu lainnya masih dalam tahap guide vocal.”

“Devoice” kini tersedia di berbagai gerai digital streaming, termasuk video format audio di kanal YouTube. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.