ESH: “Kami Malas Bersaing dengan Band Metal!”

Unit cadas baru bernama ESH, dihuni musisi-musisi lama, namun bertekad memberi gairah baru di garapan musiknya, lewat karya lagu debutnya.
esh
ESH

ESH baru terbentuk di Jakarta tahun lalu, digagas kelahirannya oleh lingkaran pertemanan dari band Trendkill Cowboys Rebellion, Last Blood dan SVAR.

Inisiatif datang dari vokalis M. Wildan (Will) dan gitaris Tarsugi (Ughie) dari Trendkill Cowboys Rebellion. Ughie juga tergabung di band Last Blood. Keduanya ingin menggarap karya metal yang lebih modern, dengan referensi yang lebih kekinian.

Lalu dalam perjalanannya, keduanya mengajak gitaris Atalan Wiratama (Alan) dan dramer Yoga Adhystira Yusuf dari Last Blood. Kemudian bassis Avip Saiful Falah dari SVAR juga bergabung melengkapi formasi ESH.

Arti kalimat ESH sendiri diambil dari Bahasa Ibrani yang berarti ‘api’. Sebuah makna simbolik atau konotatif tentang lentera perlawanan terhadap sistem. Terhadap konspirasi zionisme di balik budaya semitisme.

Visi dan misi itu, lantas dipatenkan lewat peluncuran lagu rilisan tunggal perdana yang bertajuk “Vox Populi”. Sebuah lagu pembuka menuju perilisan album mini (EP) yang sejauh ini telah dirampungkan proses rekamannya.

Judul “Vox Populi” – atau suara rakyat – dicomot dari pepatah Latin, ‘Vox Populi, Vox Dei’. Lagu berdurasi 02:27 menit ini lahir sebagai respon terhadap gejolak politik Indonesia. Mulai dari isu kekerasan aparat hingga kebijakan kontroversi yang kerap menghiasi berita.

“Protes yang paling bermartabat adalah dalam bentuk karya,” seru ESH.

Berbeda dibanding karakter musik di band-band mereka sebelumnya, ESH dihadirkan dengan pendekatan yang lebih mentah, enerjik dan anthemic.

Di tengah tren musik metal modern yang serba tajam dan bersih, ESH justru memilih jalur eksperimental, yang mengeksplorasi suara kasar nan ‘jorok’ dari efek Big Muff, Fuzz, serta perangkat dram minimalis.

esh

Kepada MUSIKERAS, vokalis Will memaparkan beberapa poin penting di balik proses kreatif pembentukan ESH serta peracikan musiknya.

Anti Rumit

“Proses kreatif sebetulnya dimulai setengah tahun lalu, dari pertengahan tahun 2025. Kami ekplor banyak sekali musisi luar, khususnya melalui media sosial, para solois yang mulai meramu karya tapi dengan musik metal (bukan band).

Musiknya cenderung unik, anthemic dan kekinian. Dalam artian, banyak riff gitar sangat catchy di era sekarang. Kami mencari karakter sound, tapi malas bersaing dengan band metal lain. Eksplor sound (mereka) sudah gila-gilaan, modern, heavy, tajam dan megah.

(Lalu) Muncul ide untuk balik lagi ke era dimana menggunakan efek Fuzz / Big Muff yang biasa dipakai musisi rock blues pada zamannya, tapi dimainkan dengan skema metal yang cepat.

Dari awal pengen semua materi dikemas dengan tempo cepat dan agresif, tapi maunya pakai simple set drum. Jadi dram hanya pakai snare, kick bass dan floor aja, dengan simple set cymbal. Tidak seperti drum set metal kekinian yang full bar equipment yang rumit.

Spiritnya balik ke era nge-band yang tidak rumit, tapi dikemas dengan teknologi dan perkembangan hari ini.

Agustus, kondisi politik Indonesia menjadi ide segar untuk bikin single dengan judul ‘Vox Populi’. Gimana caranya kami simpan memori itu dalam lirik yang bisa relevan sampai nanti, karena kami tau pasti lagu ini tidak akan dirilis di masa itu.

Single direkam di studio pribadi gitaris kami (SVAR Studio). Dulu kami belum punya pemain bass, akhirnya materi ini dibantu oleh Agus ‘Giox’ Purnomo (Superglad) untuk isi bass saat itu.

SingleVox Populi’ isian bass oleh Giox, sedangkan untuk EP nanti sudah dengan Avip, pemain bass saat ini.”

Kekinian Minimalis

“Karakter sound seperti itu jujur, karena mengejar sound teman-teman yang gila eksplorasi saat ini sepertinya sulit kami kejar. Kami juga gak mau rumit dalam pertanggung jawaban ketika dimainkan secara live.

Skema plug and play masih adalah dalam spirit main musiknya. Kami maksimalkan batasan kami dalam membuat karakter band ini bagaimana dari source yang ada.

Kekinian dalam arti kami perhatikan industri hari ini, baik di dalam atau luar negeri, cara mixing, cara mastering dan lain-lain.

Metal yang kekinian buat kami seperti ‘terlihat sama’. Tapi di luar skena tersebut banyak banget ekplorasi musisi lintas genre melakukan kolaborasi membuat lagu yang hari ini banget.

Mereka seperti mau memulai era baru kalau musik metal akan sangat fleksibel dan cair dengan industri hari ini.”

Sumber Inspirasi

“Referensi musik saat buat single lumayan banyak karena masing-masing orang punya selera musik yang beda. Tapi ketika proses penulisan lagu ini, gue dan Ughie lumayan intens dengerin Everytime I Die, The Melvins, (dan) band Detroit, Michigan (AS) bernama Shock Narcotic yang musiknya campuran hardcore punk, grindcore dan death metal.

Lirik kami murni sosial politik. Kembali lagi dengerin Rage Against the Machine. Kembali lagi dengerin Homicide dan semua karya Herry ‘Ucok’ Sutresna (Morgue Vanguard). Sama yang paling di luar itu semua, (juga) dengerin lagi (gitaris) Stevie Ray Vaughan.”

Hari ini, 3 April 2026, “Vox Populi” mulai tersedia di seluruh gerai penyedia layanan musik digital.

Sementara untuk perilisan EP yang bakal memuat lima komposisi lagu (termasuk “Vox Populi”), pihak label yang menaungi ESH, yakni AMPS Records telah menjadwalkannya pada 1 Mei 2026 mendatang.

Bakal diproduksi dalam format digital serta kaset dan CD dalam jumlah terbatas, plus produk merchandise eksklusif. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
billfold
Read More

BILLFOLD: 1 Juni 2026 Rilis Album Baru

Mendekati peluncuran album penuh terbarunya, Billfold melepas lagu tunggal pemanasan keduanya, yang menegaskan marwah musik band ini.
tredens
Read More

TREDENS: Metalcore/Post Hardcore Tanpa Batas

Album mini (EP) debut Tredens bertajuk “Phases Of Faces” dirilis, dan menjadi langkah mereka dalam memperkuat identitas di skena ‘bawah tanah’.
kilometer
Read More

KILOMETER: Barisan Api Perlawanan Hardcore

Di album “Reign Over Fire”, Kilometer kobarkan api perlawanan yang menolak padam, dalam kebisingan serta keliaran hardcore yang lebih dewasa.