IGMO sebelumnya telah merilis “Curriculum” sebagai lagu rilisan tunggal sebagai jalan pembuka menuju album. Dipublikasikan bersama album mini (EP) “Spyhole” di Bandcamp dan The Storefront pada 25 April 2025.
Setelah itu menyusul komposisi “Hail Mister Roster” (20 Juni 2025) serta versi alternatif dari “Winter’s Almost Gone” pada 22 Agustus 2025, yang dibawakan oleh Adha Buyung, solois sekaligus pengonten musik di kanal YouTube.
Dibanding album debutnya, “Take It Over” yang diperdengarkan pada 25 April 2022 silam, kali ini kawula rock asal Kediri, Jawa Timur ini menyuguhkan tema lirik yang berbeda.
Bukan lagi tentang kegelisahan yang berpusat dari diri sendiri, melainkan memberi gambaran individu yang terjebak dalam hal-hal yang lebih besar. Tepatnya macam sistem dan struktur di sekitar mereka.
“Suatu sistem seakan sengaja dibuat rancu untuk menyembunyikan celah-celah potensial untuk kepentingan perorangan maupun kelompok kecil,” tutur Pradio Manggara Putra (Dio), vokalis utama, gitaris, produser sekaligus otak utama IGMO.
Buku fiksi-autobiografi John Perkins, Confessions of an Economic Hitman menjadi salah satu inspirasi mereka dalam menggubah album “Absurd, Artificial, Potential” ini.
Sementara dari sudut pandang musikal, Dio bersama gitaris Iga Dahana, bassis Muhammad Anggra, dramer Ilham Bintang mengarahkan album tersebut sebagai suguhan rock tingkat lanjut yang sarat eksplorasi.
Sifat genetik (DNA)-nya tetap rock, tapi menembus lintas-aliran di dalam album yang antara lain mendapat pujian dari pihak Bandcamp serta media seperti Metal Integral (Prancis) dan Crypt Guard (Austria) tersebut.
Dio menuturkan bahwa album-album SWAMI, The Black Angels, Nick Drake, Renaissance, Royal Blood hingga Pink Floyd menjadi saripati dari “Absurd, Artificial, Potential”.
“Curriculum” misalnya. Diracik dengan kombinasi alunan rock groovy dengan heavy metal, kocokan ska hingga sekelebat pelog Jawa. Begitu juga dengan trek “Randall & Goby”.
IGMO menyertakan instrumen darbuka yang biasa hadir dalam musik sholawat, lalu melakukan manuver tak terduga dengan menjadikannya paduan bernuansa medieval.
“Kami ingin menantang diri kami sendiri. Seberapa jauh kami bisa mengembangkan musik yang kami cipta dan mainkan,” ucap Dio lagi.
Tapi, meski sarat akan eksplorasi, band bentukan 2015 silam ini tetap menghadirkan langgam-langgam cadas untuk kebutuhan moshing-guling-headbanging.
Seperti yang dikobarkan di komposisi “Hail Mister Roster”, “Obelisk State” dan “Karakoram”.
“Absurd, Artificial, Potential” sendiri diproduksi oleh Dio, dan direkam di tiga studio. Sebagian besar isian instrumen dieksekusi di RD Studio dan beberapa tambahan di Turtle’s Home Studio, Kediri.
Sedangkan untuk isian dram direkam di studio Malang Creative Center (MCC), Malang. Seperti album pertama, proses mixing dan mastering tetap dipercayakan kepada Yasa Wijaya dari Vamos31 Studio, Malang.

Berikut ulasan terperinci IGMO kepada MUSIKERAS seputar proses kreatif penggarapan “Absurd, Artificial, Potential”:
Perbedaan proses kreatif saat merekam album baru dibanding album sebelumnya:
“Kami merekam album pertama, ‘Take It Over’ di saat usia kami masih cukup muda, dengan modal pengalaman dan wawasan yang juga cukup terbatas.
Proses rekaman album pertama dilakukan selama seminggu penuh di Vamos Record, Malang, dan sepenuhnya digarap oleh Yasa Wijaya sebagai engineer baik tracking maupun proses lanjutannya, mixing-mastering.
Pada proses produksi ‘Absurd, Artificial, Potential’ ini kami persiapkan dengan lebih matang. Dimulai dari workshop materi dan sound, kemudian kami rekam di studio milik kawan-kawan kami: RD Studio milik Riant Daffa dan Turtle’s Home milik Angga Penyu (Semut-Semut Merayap).
Dengan itu, kami jadi lebih leluasa karena berbagai fleksibilitas seperti manajemen waktu, sehingga kami dapat menerapkan detail aransemen dengan lebih baik.
Ditambah, kami sendiri yang juga menjadi audio engineer dengan bantuan seorang kawan kami, Imam Bukori Prasetyo (Gab).
Hal yang kami pertahankan dari proses kreatif album pertama di album kedua ini ialah proses drum tracking dan mixing-mastering yang masih digarap oleh Yasa Wijaya.”
Menentukan formula yang diterapkan di setiap komposisi dan aransemen lagu:
“Komposisi dan aransemen musik kami di lagu-lagu album kedua ini utamanya kami formulasikan berdasarkan kompleksitas secara lirikal.
Kami menghadirkan serangkaian puzzle melalui lirik-lirik kami, sehingga musik kami juga harus memaksimalkan konsep itu.
Katakanlah trek pertama album ini, ‘The Gate’ sampai trek keempat, ’16.22.61/Spy, See…’ kami buat musiknya tanpa jeda; berkesinambungan.
Karena tiap trek tersebut masih satu kasus yang sama secara konteks lirik yang ditutup dengan trek kelima, ‘Winter’s Almost Gone’.
Lalu, kami juga memasukkan instrumen etnik seperti darbuka di ‘Randall & Goby’ dan ‘Karakoram’ serta gamelan di ‘Curriculum’.
Dari contoh-contoh tersebut, pada intinya kami ingin lebih dinamis secara musikal: banyak shocking part dan acak (absurd).
Kami susun dengan sangat hati-hati pada track-listing (artificial), sehingga tetap mengalir dengan sempurna seperti satu kesatuan yang utuh (potential).”
Trek yang paling menantang secara teknis saat pengeksekusian rekaman:
“Bagi kami, yang paling menantang ialah saat merekam vokal trek kedua, ‘Bull Session’. Ini ialah trek yang sebagian besar berupa percakapan—antara guru dan empat murid di ruang kelas pada ceritanya.
Selain Dio sebagai guru dan Iga (gitaris) sebagai salah satu murid, kami juga mengajak tiga kawan kami bernama Putri Pertiwi Anti Tirani, Lintang Kusumaning Pratiwi dan Kanza May’ing Wulan Riani untuk mengisi voice over tiga murid lainnya.
Ini sangat sulit karena masing-masing suara direkam terpisah dan harus mengatur nada bicara sesuai karakter, juga mengatur tempo berbicara sesuai skrip dan aransemen musik.
Namun tentu, setiap lagu punya aspek menantang masing-masing. Selain ‘Bull Session’, kami juga mengajak Shinta Agustina dan Rahma Maya Sarita untuk mengisi paduan suara di ‘Winter’s Almost Gone’, ‘Karakoram’, ‘Curriculum’ dan ‘Obelisk State’. Lalu, Ahmad Zaky Al-Fikri juga mengisi darbuka di ‘Randall & Goby’ dan ‘Karakoram’.”
Kenikmatan memainkan paham musik yang diterapkan di album:
“Di luar roots IGMO yang memainkan hard-rock (era) 70-an, kami masing-masing punya preferensi musik yang berbeda-beda. Kami juga tidak membatasi masing-masing dalam mencari inspirasi musikal, sehingga itulah yang membentuk musik kami memiliki beragam pola yang (mungkin) melampaui hard-rock konvensional.
Kami merasa sangat leluasa memainkan musik yang ideal untuk kami. Di satu sisi kami juga selalu merasa tertantang.
Dalam artian, ‘Apalagi yang bisa kami eksplorasi dalam koridor musik IGMO di waktu-waktu mendatang?’”
“Absurd, Artificial, Potential” serta karya-karya rekaman IGMO lainnya sudah bisa didengarkan di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Termasuk di kanal Bandcamp. (mdy/MK01)
Susunan lagu:
- The Gate
- Bull Session
- Spyhole
- 16.22.61/Spy, See
- Winter’s Almost Gone
- Randall & Goby
- Karakoram
- Curriculum
- Hail Mister Roster
- Single-Eyed Emphasis
- Obelisk State
- Dear, Say Goodbye!