LIVINGSICKNESS: Tiupan Saksofon dalam Modern Rock

Dengan pendekatan yang eksploratif dan emosional, Livingsickness kombinasikan alternative rock dengan modern rock di album mini (EP) debutnya.
livingsickness
LIVINGSICKNESS

Livingsickness membangun karakter musik yang mengombinasikan distorsi gitar yang emosional, ritme dram yang dinamis, sentuhan saksofon yang unik serta vokal yang ekspresif.

Unit rock asal Kota Bogor, Jawa Barat yang baru dibentuk pada November 2025 lalu ini menghadirkan warna berbeda dalam skena alternative rock dan modern rock Tanah Air.

Sebagai band yang lahir dari keresahan dan realitas kehidupan modern, Livingsickness membawa visi untuk menjadi suara bagi mereka yang merasa terasing, tertekan dan mencari makna di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus bergerak cepat.

Melalui musik yang jujur, emosional, dan penuh energi, Livingsickness ingin menciptakan ruang, dimana setiap pendengar dapat merasa dipahami dan tidak sendirian.

Misi vokalis Billy Jonathan Clif dan Farid Fahrizal, gitaris Adimas Satria Pamungkas, bassis Raffi Muhammad Iskandar serta dramer Panji Yudistira adalah menghadirkan karya-karya autentik, yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran dan emosi.

Lewat EP perdana bertajuk “Side Of The Face” yang dilepas pada akhir 2025 lalu, band ini berkomitmen untuk terus bereksplorasi secara musikal, menembus batas genre, serta menyampaikan pesan-pesan yang relevan dengan kondisi sosial dan personal generasi saat ini.

Murah, Murahan

Kepada MUSIKERAS, Livingsickness mengungkap bahwa awalnya, sebenarnya tak ada niatan untuk menggarap EP.

Mereka memulai agresinya dengan meluncurkan lagu rilisan tunggal bertajuk “Side Of The Face” pada 12 November 2025. Proses penggarapan lagu ini menghabiskan waktu selama satu setengah bulan.

Namun ketika menyusun rencana untuk serangkaian kegiatan promosi, datang tawaran dari pihak Hozan Record yang memproduksi karya debut Livingsickness tersebut untuk melengkapinya sebagai sebuah rilisan EP.

Mereka diminta menambah empat lagu lagi agar bisa dirilis dalam format EP, dengan potongan harga produksi yang lumayan murah, namun dengan kualitas yang tidak murahan.

Singkat cerita, dalam waktu yang relatif lebih singkat dibanding rilisan pertamanya, para personel Livingsickness bekerja keras menggarap empat lagu tambahan tersebut.

Pengerjaan empat lagu tambahan dimulai pada 15 November 2025, dan harus rampung sebelum target perilisan EP di 31 Desember 2025.

“Kami hanya punya waktu satu setengah bulan untuk mengerjakan empat lagu tambahannya. Tapi kami percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil!”

Konsep musik yang diterapkan Livingsickness di EP “Side Of The Face” sendiri terbilang unik.

Mereka memadukan alternative rock dan modern rock, dengan imbuhan tiupan alat musik saksofon yang biasanya identik dengan musik pop yang romantis.

“Saksofon kami hadirkan sebagai elemen penting dalam komposisi, bukan hanya tambahan, sehingga mampu memberikan warna yang lebih hangat, melankolis dan ekspresif,” cetus pihak band meyakinkan.

“Perpaduan antara distorsi gitar yang modern dengan karakter saksofon yang soulful menciptakan identitas sound yang unik dan tidak biasa di ranah rock. Ini membuat musik kami tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa.”

Dari segi konsep, EP “Side Of The Face” mengangkat tema tentang sisi lain dalam sebuah hubungan percintaan. Mulai dari perasaan ditinggalkan, depresi hingga isu kepercayaan.

“Setiap lagu merepresentasikan emosi yang berbeda, dan hal itu kami terjemahkan ke dalam dinamika musik, mulai dari bagian yang minimalis dan intim hingga klimaks yang lebih intens.”

Minimalis, Atmosferik

Beberapa band mancanegara yang memiliki karakter kuat dalam eksplorasi sound dan emosi, menjadi acuan Livingsickness dalam peracikan komposisi serta aransemen kelima lagu barunya.

Beberapa di antaranya seperti Bilmuri, Dreamwake, Dayseeker serta band lokal Tanah Air, 510. Dari Bilmuri, mereka mengaku terinspirasi dalam menggabungkan elemen alternatif dengan sentuhan eksperimental yang fresh.

Sementara dari Dreamwake, memberi pengaruh besar dalam keberanian memasukkan saksofon ke dalam musik rock modern, yang juga mereka adaptasi sebagai identitas bunyi Livingsickness.

Lalu Dayseeker, menjadi referensi dalam membangun nuansa emosional dan dinamika lagu yang kuat, terutama dalam menyampaikan tema-tema personal.

Terakhir dari 510, mereka banyak belajar tentang pendekatan modern rock yang solid dan relevan dengan skena saat ini.

“Dengan menggabungkan berbagai referensi tersebut, kami tidak hanya meniru, tetapi mengolahnya kembali menjadi identitas musik kami sendiri, yang mengedepankan eksplorasi sound, emosi dan karakter yang berbeda.

Livingsickness mengakui, dengan menerapkan formula yang ekspresif dan emosional semacam itu, tentu ada tantangan teknis yang mereka temui saat mengeksekusi rekamannya.

Khususnya di “Solus In Via”.

Alasannya, karena lagu itu memiliki kompleksitas yang cukup tinggi, baik dari segi aransemen maupun penyampaian emosi. Menuntut mereka untuk menjaga keseimbangan antara dinamika yang cukup kontras.

Mulai dari bagian yang lebih minimalis dan atmosferik hingga bagian klimaks yang intens.

“Transisi antar bagian tersebut harus terasa halus, tapi tetap impactful, sehingga butuh presisi yang tinggi saat tracking.”

Selain itu, layering instrumen di “Solus In Via” juga lebih padat. Termasuk penempatan saksofon yang harus benar-benar menyatu dengan gitar dan elemen lainnya tanpa saling ‘bertabrakan’ secara frekuensi.

“Dari sisi vokal, penyampaiannya juga cukup menantang karena harus benar-benar terasa emosional dan relate dengan tema lagu, tapi tetap terkontrol secara teknis. Tantangan teknis yang kami hadapi dalam proses rekaman akhirnya terbayar dengan hasil yang terasa lebih jujur dan menyentuh.”

Lebih dari sekadar musik, Livingsickness menyebut EP “Side Of The Face” merupakan bentuk ekspresi, perlawanan, sekaligus penyembuhan dalam satu ruang yang sama.

Dengarkan keseluruhan lagunya di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Sementara video lirik untuk lagu “Side Of The Face” juga sudah tersedia di kanal YouTube. (mdy/MK01)

Susunan lagu:

  1. Broken Violence
  2. Shadows Is Betrayal
  3. Solus In Via
  4. Holding On
  5. Side Of The Face
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.