Lamb of God kembali berkolaborasi dengan Machine saat menggarap album “Sacrament”, 20 tahun lalu.
Sebelumnya, produser bernama asli Gene Freeman tersebut sudah bekerja sama dengan band cadas ini di album “Ashes of the Wake” (31 Agustus 2004).
Produksi awalnya dimulai di Richmond, Virginia AS pada 13 Maret 2006. Saat itu, Lamb of God baru saja merampungkan rangkaian tur Sounds of the Underground dimana mereka menjadi penampil utama, pada Agustus 2005.
Pengalaman bekerja sama di penggarapan “Ashes of the Wake” membuat band yang saat itu dihuni formasi vokalis David Randall Blythe (Randy Blythe), gitaris Mark Duane Morton dan William ‘Willie’ Adler, bassis John Steven Campbell serta dramer Christopher ‘Chris’ James Adler ini menginginkan Machine kembali duduk di kursi produser.
Chris Adler bahkan secara khusus terbang ke New York untuk menemui Machine dan memintanya untuk kembali bekerja sama.
Walaupun kerap terjadi benturan antara sang produser dengan pihak band dalam mencapai kesepakatan di proses kreatifnya, namun situasi itu justru menghasilkan produksi rekaman yang di luar dugaan.
“Jadi, meskipun ada banyak momen sulit terkait penampilan itu sendiri, menurut saya kami lebih bisa sejalan (dengan Machine) dalam hal gagasan,” ujar Chris.
Satu hal unik dari Machine, ia tidak punya pengalaman menangani produksi album band metal, sebelum bertemu Lamb of God. Dan justru hal itulah yang diinginkan oleh band ini.
Setelah Lamb of God merampungkan keseluruhan penulisan lagu, mereka pun mengundang Machine datang ke proses latihannya.
“Dia datang dengan sejuta gagasan, yang (langsung) kami mentahkan,” seru Chris sambil tertawa – dikutip dari wawancaranya dengan media Revolver, edisi Agustus 2006 silam.
Lanjut Chris, saat itu mereka sudah terlanjur menyukai materi lagu-lagu baru dan tak ingin campur tangan pihak lain untuk mengotak-atiknya. Namun Machine punya sejuta cara untuk mewujudkan niatnya.
“Band ini seolah seperti buku yang tertutup. Saya harus berjuang untuk menyampaikan ide-ide saya ke mereka,” cetus Machine mengakui.
Ia memberi contoh, ketika berhasil membujuk para personel Lamb of God untuk memasukkan kalimat ‘now you’ve got something to die for’ berulang-ulang di lagu dengan judul yang sama, dari album “Ashes of the Wake”.
Pihak band, kata Machine, tidak menyukai bagian chorus tersebut. Namun akhirnya berhasil direkam, dan “Now You’ve Got Something to Die For” kini menjadi salah satu lagu favorit para penggemar Lamb of God.

Tangan Dingin
Tentu saja, kita sudah mendengarkan hasil akhir dari penggarapan rekaman album “Sacrament” yang dieksekusi di Spin Studios, Queens, New York serta di Sound of Music Studios, Richmond, Virginia.
Sebuah album berdurasi total lebih dari 46 menit dengan melebur persilangan pengaruh dari elemen metalcore, heavy metal dan thrash metal yang sarat ketukan groove warisan Pantera.
Lamb of God, sekali lagi memuji sentuhan ‘tangan dingin’ Machine dalam meningkatkan produksi suara dan vokal di “Sacrament”. Ia berhasil mendorong band tersebut keluar dari zona nyaman mereka.
Dalam sebuah wawancara, vokalis Randy Blythe menyebut Machine sebagai “Orang yang benar-benar meruntuhkan beberapa tembok yang telah kami bangun di sekitar kami, benteng yang secara kreatif adalah Lamb Of God.”
Bassis John Campbell juga mencatat, bahwa bekerja dengan Machine membantu band memperketat alur kerja studio mereka, meletakkan fondasi terstruktur yang mereka bawa ke rekaman berikutnya.
Gelombang Epik
Secara musikal, “Sacrament” disebut sebagai album yang memuat materi lagu yang lebih beragam dibanding karya-karya rekaman Lamb of God sebelumnya.
Di lagu-lagu seperti “Redneck”, “More Time to Kill” dan “Forgotten (Lost Angels)” bernuansa Pantera, namun tetap menonjolkan kekuatan pukulan khas band ini.
Sementara di “Walk With Me in Hell” yang menjadi komposisi pembuka album ini, merupakan sebuah karya epik.
Dibangun dari gelombang gitar berlapis yang hampir seperti orkestra menjadi alur yang bergelombang dan megah yang sekali lagi mengingatkan pada Pantera dalam performa terbaiknya.
“Ada beberapa hal dalam rekaman album ini—baik dari segi vokal, aransemen, maupun aspek lainnya—yang belum pernah Anda dengar dari kami sebelumnya,” ucap Mark Morton turut berkomentar.
“Secara keseluruhan, ada nuansa yang benar-benar menyeramkan yang seolah menjalar di sepanjang rekaman ini, dan hal itu mungkin akan mengejutkan sebagian orang.”
Dalam naskah siaran pers resmi album “Sacrament”, Chris Adler mengungkapkan bahwa mereka menghabiskan 5-6 hari dalam seminggu, dan 6-8 jam sehari untuk menulis lagu.
“Kami menjalani proses ini dengan sangat serius. Sangat intens dan proses produksi tersebut berhasil terbayarkan dengan sangat memuaskan!”
“Pembuatan album ini benar-benar bikin stres, terutama bagi saya,” imbuh Randy.
“Saya berhenti minum (alkohol) untuk sementara waktu, untuk melihat apakah itu bisa membantu saya menulis. Lalu saya mendapat hambatan menulis, jadi saya mulai minum lagi!”
Di minggu pertama perilisannya di wilayah AS, “Sacrament” yang didukung penuh label rekaman Epic Records dan Prosthetic Records tersebut langsung memijak peringkat ke-8 terlaris di AS, terjual hampir 65,000 keping.
Bahkan lagu terpopulernya, “Redneck” berhasil membawa Lamb of God memasuki jenjang nominasi Grammy Awards untuk kategori “Best Metal Performance”. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Walk with Me in Hell
- Again We Rise
- Redneck
- Pathetic
- Foot to the Throat
- Descending
- Blacken the Cursed Sun
- Forgotten (Lost Angels)
- Requiem
- More Time to Kill
- Beating on Death’s Door