Edane merilis “Jabrik” dengan kontur heavy metal yang meledak gahar pada 15 Oktober 1993 silam. Menyusul keberhasilan album debut “The Beast”, yang melejitkan “Ikuti”, salah satu anthem rock Nusantara terbaik sepanjang masa.
Tapi saat penggarapan “Jabrik”, Edane tak lagi diperkuat Alexander Theodore Lamoh – atau lebih dikenal dengan nama Ecky Lamoh – di lini vokal.
Posisinya digantikan oleh Heri ‘Ucok’ Batara, melengkapi formasi solid gitaris Zahedi Riza ‘Eet’ Sjahranie, bassis Iwan Xaverius dan dramer Fajar Satritama.
Perubahan lainnya, momen perilisan ini juga menandai kerja sama pertama Edane dengan label rekaman Aquarius Musikindo, setelah tak lagi dinaungi AIRO, label milik pengusaha dan musisi Setiawan Djody.
Ada selusin lagu yang menjadi amunisi album “Jabrik”, dan sebagian besar menggunakan lirik Bahasa Inggris. Di antaranya, “Wake Of The Storm”, “Jungle Beat”, “Jabrik (Big Town)” dan “Victim of the Strife”.
Sementara yang diraungkan dengan ‘bahasa ibu’ adalah lagu “Pancaroba” yang dibuatkan video klip (bersama lagu “Wake Of The Storm”), “Kharisma” serta “Alam Manusia”.
Eksekusi rekaman keseluruhan dilakukan di Musica Studio atas saran dari Danny Lisapaly yang kembali dipercaya untuk memoles penataan suara (mixing) “Jabrik”, plus bantuan teknisi rekaman Ronald Parinsi.
Sebelumnya, Danny pula yang mengeksekusi proses mixing untuk album “The Beast”.
Edane memproduseri sendiri album “Jabrik” yang berdurasi lebih dari 50 menit tersebut dengan dukungan Jimmy Doto di kursi produser eksekutif.
Menurut Eet Sjahranie yang dihubungi MUSIKERAS, ia dan personel Edane lainnya menghabiskan waktu selama sekitar tiga bulan untuk proses keseluruhan produksi rekamannya.
“Kira-kira (menghabiskan) 100 shift. Anggaplah satu hari satu shift. Tepatnya pihak Aquarius yang lebih tahu.”

Half Step Down
“Bisa dikatakan album ‘Jabrik’ lebih ringan proses rekamannya dibanding ‘The Beast’. Karena sudah ada pengalaman sebelumnya,” ujar Eet meyakinkan.
Selain itu, secara materi lagu mereka lebih siap. Hampir 70% materi lagu sudah jadi. Penggarapannya dilakukan oleh seluruh personel bersama-sama, dimana mereka membawa materi masing-masing. Hanya lirik yang dikerjakan di studio.
Selain belajar dari pengalaman sebelumnya, Eet juga mengakui lebih siap dalam hal perangkat pendukung kebutuhan suara gitarnya. Setelah sebelumnya memaksimalkan ampli Marshall JCM900 Hi-Gain Master, kini ada ampli Peavey 5150 yang menjadi andalan terbarunya.
“Bisa dibilang semua lagu pake (ampli) itu. Tapi Marshall juga tetap terpakai, kalau nggak salah di lagu ‘Jabrik’, ‘Way Down’ sama ‘Pancaroba’.”
Jadi kalau pun ada kendala, kata Eet lagi, bukan di masalah audio. Melainkan lebih ke pengerjaan lagu-lagu yang ada di album itu saja. Contohnya di eksekusi vokal yang menurutnya cukup menantang bagi Heri Batara.
Pasalnya, di album ini, Eet menerapkan penalaan (tuning) nada setengah lebih rendah, atau turun satu fret (half step down) di gitar. Sedangkan Heri saat itu terbiasa di tuning standar.
“Itu lumayan pemindahannya, tapi akhirnya bisa terselesaikan,” ucap Eet mengenang.
“Secara teknis sedikit sulit drumming di lagu ‘Call Me Wild’. Secara keseluruhan album, penggarapannya cukup sulit untuk mencari sound dram yang pas dari masing-masing lagu,” urai Fajar Satritama menambahkan.
Pengerjaan album juga sedikit memakan waktu karena adanya penambahan dua lagu yang benar-benar baru dikerjakan di studio dari awal hingga jadi, yakni “Pancaroba” dan “Kurusetra”.
Terakhir, juga ada beberapa lagu yang terpaksa harus mengalami mixing ulang karena hasilnya kurang memuaskan.

Big Town
Masih dalam urusan memastikan kualitas suara rekaman keseluruhan di “Jabrik” bisa maksimal, Edane mendengarkan banyak album rekaman dari beberapa band luar sebagai referensi.
Di antaranya dari Black Sabbath era vokalis Tony Martin, Lynch Mob, Van Halen hingga AC/DC.
“Waktu itu patokannya belum CD, tapi kami dengarkan mereka-mereka itu dari kaset. Nah, yang kami harapkan secara audio minimal nggak terlalu jomplang dibanding mereka. Kami usahakan sampai proses mixing bisa terwujud seperti itu.”
Secara pribadi, Eet menyebut lagu “Jabrik (Big Town)” sebagai lagu terfavoritnya dari album “Jabrik”. Bukan lantaran lagu itu adalah hasil ciptaannya, melainkan karena komposisinya memang unik.
“By the way, lagu itu bahkan udah gue perkenalkan ke personel yang lain era album ‘The Beast’. Tepatnya pas mau syuting video klip lagu ‘Ikuti’ di rumah mas (Setiawan) Djody. Waktu itu gue bilang, ini bakal menjadi lagu di album berikutnya.”
Sementara dari Fajar, ia mengaku sangat menyukai lagu “Wake of the Storm”. Alasannya, “Love the shuffle groove, cool guitar riff and great harmony in the chorus!”
Sejak Juli 2026 lalu, album “Jabrik” sudah bisa didengarkan di berbagai gerai penyedia layanan musik digital, seperti YouTube Music dan Spotify.
Bahkan video musik untuk lagu “Pancaroba” dan “Wake of the Storm” juga telah ditayangkan secara resmi di kanal YouTube dengan kualitas gambar 4K. Rock on!
Lebih dari tiga dekade berlalu, “Jabrik” bukan sekadar album, tapi merupakan simbol keberanian Edane untuk terus berevolusi tanpa kehilangan jati diri. Kini, semangat itu siap diperkenalkan kembali kepada generasi pendengar baru. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Wake Of The Storm
- Jungle Beat
- Jabrik (Big Town)
- Victim Of The Strife
- Call Me Wild
- Pancaroba
- Kharisma
- Way Down
- I.X.S
- Alam Manusia
- Burn It Down
- Kurusetra