Lionsleep adalah salah satu nafas baru Yogyakarta Hardcore, mengemban musik khas ala metallic/modern hardcore.
Kwartet yang digerakkan formasi vokalis Anmal Akhmad Nur Hidayat, gitaris Anselmus Bagas Putra Kumara (Bugis), bassis Fadhel Muhammad (Avel) dan dramer Faisal Maulana (Izal)ini mendobrak batasan hardcore melalui ramuan musik yang eksplosif dan sarat akan pengaruh dari subgenre yang lain.
Seperti yang mereka semburkan di “Modern World Catasthropy”, kemasan super maxi-single yang menghadirkan perpaduan terbaru di musik mereka.
Lionsleep mengklaimnya terbilang sangat baru di skena hardcore Yogyakarta, dimana mereka meleburkan hardcore khas mereka yang energik dengan warna musik yang justru bermuara pada musim metalcore 2000-an ala Parkway Drive, Crystal Lake serta Misery Signals.
Lalu secara ciamik dipadukan lagi dengan identitas hardcore yang gelap ala End, Knocked Loose hingga Sanction. Kombinasi inilah yang menyebabkan tiga lagu suguhannya di “Modern World Catasthropy”, yakni “End of Fate”, “Hierophant” serta “The River” memberi kesan ‘mixed-feelings’, namun tetap enak untuk didengarkan berulang-ulang.
Sejauh ini, ungkap Lionsleep kepada MUSIKERAS, “Modern World Catasthropy” yang liriknya membahas tentang proses penyembuhan diri dari semua hal yang membekas luka di dalam hidup tersebut merupakan rilisan mereka yang paling eksperimental.

Di era dimana beatdown hardcore dan hardcore punk 70-an sedang merajalela di Indonesia, mereka malah menempuh jalur musik hardcore yang bisa dibilang sangat unik untuk sekarang, yaitu metalcore yang dekat dengan sound hardcore ala-ala The Ghost Inside, Crystal Lake dan Parkway Drive, dengan sedikit sentuhan blackened ala End.
“Musik hardcore kami menjadi kental dengan nuansa musik yang metallik dan penuh dengan breakdown. Kami juga memberikan sentuhan musik blackened hardcore di lagu ‘Hierophant’ yang membuat dinamika musik kami dapat menjadi lebih bervariasi. Dengan warna musik seperti ini, kami memberikan pilihan rasa hardcore sehingga membuat warna yang lebih beragam di scene hardcore Yogyakarta,” urai mereka meyakinkan.
Tentang “Hierophant” sendiri, disebut Lionsleep sebagai lagu dengan komposisi yang paling menantang saat mengeksekusi rekamannya. Mereka mengakui cukup kewalahan dalam menciptakan atmosfir yang kelam dan horor ke dalam lagu tersebut.
“Terlebih, karena kami sebenarnya orang-orang yang mudah sekali tertawa dan bukan sosok-sosok kelam yang seperti ada di dalam lagu tersebut, dan itu cukup berpengaruh dalam pembangunan emosi saat proses rekam vokal dari Anmal, vokalis kami,” urai Lionsleep sambil tertawa.
Tapi apa pun itu, melalui “Modern World Catasthropy”, Lionsleep merasa puas telah memulai menegakkan diri menuju warna musik yang mereka sukai. Dalam hal ini, mereka dapat mulai memberikan ciri khas baru ke khalayak umum melalui rilisan terbaru tersebut.
O ya, “Modern World Catasthropy” sendiri sebenarnya merupakan kumpulan materi yang dikerjakan Bugis di waktu-waktu senggangnya, di sela kegiatan panggung Lionsleep. Setelah ditinjau kembali oleh personel lainnya, mereka pun sepakat untuk menjadikan ketiga materi tersebut sebagai suguhan utama super maxi-single terbaru mereka.
Mereka lantas mengerjakan produksinya selama satu bulan, dimana setiap instrumen direkam secara mandiri. Tapi untuk rekaman vokal dikerjakan di Chord Studio dengan perangkat yang minimalis.
“Kondisi kami yang merupakan band semi LDR (hubungan jarak jauh) – karena bassis kami, Avel, sedang menjalani hidup di kampung halamannya di Kendari, Sulawesi – membuat kami saling mem-backup tugas rekaman masing-masing personel.”
“Modern World Catasthropy” sudah terhidang di berbagai paltform digital sejak 7 November 2024 lalu. (mdy/MK01)